Senin, 24 Desember 2012

In My Dream (Part 3)

Diposting oleh Popo... The Kite Runner di 06.25 0 komentar

Di cerita yang kemaren, saat Ji Hyun dan Sulli jalan-jalan mereka melihat Kai dan seorang yeoja, apa yag terjadi selanjutnya... Ikuti In My Dream Part 3... 


Mereka sedang melihat-lihat buku. Aku meletakkan buku yang kubaca dan segera menarik tangan Sulli dan mengajaknya pergi.
“Ya, Ji Hyun-aa, aku belum selesai membaca,”
“Kajja, kita harus segera pergi, aku ingin membeli sesuatu,”
Aku dan Sulli masuk ke sebuah toko jam. Dan kenapa aku masuk toko jam untuk namja? Apa aku harus membeli jam untuk namja? Ah yang penting Sulli tidak melihat Kai dengan yeoja itu.
“Kau mau beli jam tangan?”
“Ah, ne, hadiah untuk appa,”
“Oh, paman ulang tahun?”
“Ani, minggu depan aku pulang, aku hanya ingin membawakan sesuatu untuk appa,”
Akhirnya mau tidak mau aku memilih sebuah jam tangan dan membelinya. Mungkin akan berguna kelak. Sulli mengajakku makan malam. Aku setuju saja aku juga sudah lapar. Kami ke sebuah restoran cepat saji dan memesan pasta. Kami juga mengambil beberapa foto. Akan sangat menyenangkan kalau kami bisa seperti ini terus.
“Ji Hyun-aa, kau ikut apa di sekolahmu?”
Aku menghentikan jalanku menyeruput pasta sejenak dan menatap Sulli lalu melanjutkan lagi sebelum menjawab pertanyaan Sulli.
“Umm, aku belum memikirkannya, mungkin aku akan ikut klub biologi,” jawabku seadanya.
“hahaha, apa itu? Seharusnya kau ikut klub olahraga, kau bisa memilih lari mungkin, kau pelari tercepat yang pernah ku kenal,”
“Menurutmu begitu? Aku juga belum tahu mau ikut apa,”
“Kau bisa memikirkanya nanti,”
“Sulli-aa”
“Ne?”
“Hehehe. Ani. Tidak ada apa-apa,”
Aku hampir saja menceritakan tentang keikutsertaanku dalam tim basket. Sulli pasti akan sangat marah dan khawatir. Dan saat Sulli marah seisi restaurant ini akan segera melarikan diri. Kami menghabiskan sisa hari itu dengan mengobrol panjang lebar. Aku sebenarnya ingin menceritakan semua hal pada Sulli, tapi entah kenapa itu hanya akan membuat masalah baru saja. Kami berpisah di halte bus dan berjanji akan bertemu lagi. Bus cukup sepi, hanya ada beberapa penumpang yang tertidur. Aku menatap jalanan di luar jendela dengan perasaan tidak menentu. Aku terus memikirkan Kai. Kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkannya??
Aku turun dari bis dan berjalan ke arah sekolahku. Aku berjalan pelan menuju asramaku. Sekolah sudah sepi hanya beberapa siswa yang akan kembali ke asramanya. Aku berhenti di pinggir lapangan sepak bola dan duduk di sana untuk beberapa saat. Aku suka tempat ini. aku mencoba menelepon Kai lagi, tapi masih tidak tersambung. Pikiranku melayang pada saat aku dan Kai bersama.
“Kau tahu aku sangat suka hujan,” kata Kai saat itu. Kami sedang berteduh di depan sebuah toko yang sudah tutup. Sepeda kami terparkir tak jauh dari kami berdiri.
“Wae?”
Kai memainkan jarinya dibawah tetesan air hujan. Kemudian dia menjawab sambil tesenyum. Aku tak akan pernah bisa lupa senyuman itu. Aku selalu menyuKainya, aku selalu menyuKai senyumannya.  
“Karena setelah hujan aku akan melihat pelangi,”
“Tapi bukankah pelangi tidak selalu muncul setelah hujan?”
“Itulah pelangi, dan menunggu pelangi saat hujan benar-benar membuatku nyaman, tetesannya menyegarkan, kau tahu pelangi adalah hal yang paling setia menurutku,”
Aku diam menunggu kata-kata selanjutnya darinya.
“Dia akan setia menunggu hujan reda, dan saat dia tidak diberi kesempata muncul, dia akan menunggu hujan berikutnya agar dia bisa muncul, dia sangat setia kan?”
“Ne, geureyo. Kai, siapa yang kau sukai?” entah kenapa aku bertanya seperti itu.
“Pelangi, aku sangat suka pelangi,” katanya sambil tersenyum jahil.
“Ya, apa kau akan berpacaran dengan pelangi???”
“Tentu saja tidak, aku akan berpacaran dengan seseorang yang mirip pelangi,”
“Nuga?”
Dia diam sejenak dan menatapku.
“Kau, aku akan berpacaran dengan kau yang mirip pelangi, penuh warna dan ceria, kau anugrah setelah hujan,”
Aku terdiam mendengar kata-katanya. Aku sangat terkejut dia mengatakan semua itu. Saat itu aku benar-benar ingin menjadi pelangi. Dan mulai saat itu kami memiliki hubungan special. Tentu saja aku tetap menjadi diriku dan bukannya menjadi pelangi.
Jigeum, semua itu terasa menyakitkan. Apa sekarang warnaku telah pudar dan dia mencari warna baru? Sekarang aku tidak lagi merasa seperti pelangi, aku merasa aku ini tembok dengan cat yang sudah pudar. Sepertinya aku memang harus mengecat ulang diriku. Menyebalkan sekali rasanya. Saat sedang melamun aku merasakan seseorang ada di sebelahku. Saat aku menoleh,
“HWAAAAAA!!!!!!!”
Aku melihat sebuah wajah dalam nyala sebuah cahaya. Aku menutup mataku. Dan segera setelah itu dia tebahak-bahak. Saat kubuka mata, Lee Dong Hae tertawa puas melihatku ketakutan.
“Ya, michi go anhya?? Kau membuatku hampir mati jantungan,”
“Hahhaa. Mukamu sangat aneh tadi, apa yang kau pikirkan sehingga mukamu benar-benar seperti seekor ubur-ubur?”
“Kau pikir aku ini ubur-ubur?”
“Mungkin saja kau memang ubur-ubur,”
“Aishhh, kau ini.. jjinjja!”
“Kau mau mencabut rumput lapangan ini?”
“Mwo ya? Siapa yang mau mencabut rumput lapangan ini? Apa yang membuatmu berpikiran seperti itu?”
“Kalau begitu apa yang kau lakukan disini kalau bukan untuk mencabut rumput lapangan ini?”
“Aku akan memberitahumu apa yang kulakukan disini,”
“Mwo?”
Aku mendekatkan wajahku ke telinga Dong Hae.
“Bukan urusanmu,”
“Aissshhh,”
Aku tertawa melihat ekspresinya.
“Kudengar kau masuk tim inti basket? Geureyo??”
“Woaaa, kau sudah mendengarnya? Tak kusangka akan menyebar secepat itu, apa itu masuk berita sekolah??”
“Kau ini bicara apa? Ya, nugu ya? Kau pikir kau ini siapa sampai masuk berita sekolah?”
“Tapi kau tahu aku masuk tim inti, bukankah itu berarti aku menjadi bahan pembicaraan, aku bukan siapa-siapa di sini, tapi kau yang bintang terkenal saja mengetahuinya, daebak!”
“Aishh jjinjja, kau tahu aku menyesal menanyakan itu!”
“Mwo?”
Dia terdiam. Aku juga diam. Entah kenapa perasaanku sedikit membaik. Aku sudah tidak merasa setertekan tadi. Entah kenapa tiba-tiba jantungku berdebar sangat kencang. Apa ada hantu yang sedang lewat? Aku menatap Dong Hae dan dia sedang memainkan lampu senternya. Dia terlihat jauh lebih tampan daripada saat ku melihatnya di televise, dan aku tidak pernah menyangka akan melihatnya sedekat ini. Rasanya tidak bisa percaya kalau aku akan sedekat ini dengannya. Apa ini mimpi? Tiba-tiba cahaya sangat silau masuk ke mataku.
“Ya, apa yang kau lakukan?”
“Seharusnya aku yang bertanya, ada apa di wajahku sampai kau melihatku seperti ingin memakanku?”
“Oh, ani yo.. Kenapa aku ingin memakanmu?”
“Karena aku tampan dan mungkin aku adalah es krim yang lezat di matamu,”
“Jih.. Mana ada es krim seperti kau? Kalaupun aku ini makanan, kau pasti adalah kue ikan yang gosong,”
“Mana ada kue ikan gosong setampan aku?”
“Kau ini, kau pasti merasa dirimu sangat tampan sehingga kau sangat percaya diri, tapi percayalah, kau adalah kue ikan yang gosong,”
“Gosong begini aku terkenal di seluruh negeri dan semua orang menyanjungku, aku adalah kue ikan gosong paling terkenal, sudahlah terima saja, araji?” dia tersenyum jahil.
Aku hanya merengut mendengar perkataannya, karena sebenarnya dia memang benar. Dia benar-benar menawan. Dan aku bisa sedekat ini dengannya. Kami kembali ke asrama kami beberapa saat kemudian.
**************************************************************
Sejak diumumkan masuk tim inti aku, Hyuk Jae, dan Hye Ri menjadi semakin akrab. Kami sering menghabiskan waktu bersama. Mereka seperti Sulli dan Henry, sangat menyenangkan saat bersama mereka. Apapun yang kami obrolkan menjadi hal yang menarik. Perlahan, aku menyayangi keduanya. Mereka selalu ada untukku. Mereka benar-benar sahabat baru untukku.
Hari ini adalah hari pertama kami akan mendapat pelatihan untuk turnamen basket nasional. Aku masih di kamarku. Di tempat tidurku, duduk menatap sebuah foto. Aku saat kecil, memegang bola basket, berkeringat, dan sebuah senyum yang lebar. Tapi saat menatap foto itu, sebuah ketakutan melintas dan tubuhku bergetar. Eohttokaji? Eomma? Appa? Eonnie? aku memegang bekas luka di kepalaku, masih terasa sangat nyata di jariku. Sangat menakutkan dan perih.
Aku masih belum memaKai seragam olahragaku. Aku tidak ingi kesana. Lubang itu terus terbayang di kepalaku. Darah itu seperti masih mengalir di kepalaku. Aku harus bagaimana? Aku benar-benar takut. Kenapa aku harus masuk tim basket? Apa aku tidak sadar waktu bermain basket kemarin? Dan sekarang aku harus menghadapi kenyataan bahwa aku harus bermain basket. Aku hampir gila di tempat tidurku saat pintu kamarku di ketuk. Aku berlari turun dan membuka pintu. Hye Ri tersenyum lebar di depan pintu.
“Kau siap? Kajja!”
Aku diam sejenak.
“Ya, kau belum juga mengganti bajumu?? Pallee, kita bisa terlambat,”
Hye Ri mendorongku masuk dan menyuruhku untuk bergegas mengganti bajuku. Aku mengganti bajuku dengan penuh keraguan. Sepanjang perjalanan ke gedung olahraga, aku tak henti-hentinya berdebar. Keringat dingin mulai mengalir di sekujur tubuhku. Hye Ri yang terus saja berbicara tidak kuhiraukan. Hyuk Jae yang menyapaku di depan pintu juga tidak kuhiraukan, bahkan saat kulihat Lee Dong Hae berdiri di sana, aku juga tidak memperdulikannya. Aku hanya memikirkan apa yang akan terjadi padaku setelah ini?
Kami mulai berbaris di lapangan. Kepalaku sudah mulai pusing. Berdiri di tengah lapangan seperti ini membuatku mual dan ingin muntah. Orang-orang di sekelilingku mulai menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Mereka bicara secara bersamaan dan membuat telingaku berdengung. Tiba-tiba aku melihat diriku tergeletak dengan lubang di kepala dan darah mengalir segar. Aku semakin ingin muntah dan kepalaku terasa sangat berat. Aku berusaha menghilangkan bayangan itu. Tapi semakin aku mencoba, aku semakin melihat lubang di kepala itu. Kemudian perlahan-lahan semua mengabur, sebelum semua benar-benar gelap, aku melihat orang itu. Dan setelah itu kesunyian menyergapku.
“Pelatih, izinkan aku bermain kali ini,”
“Andwe, kau belum saatnya bermain saat ini,”
“Kunde, aku ingin masuk, Pelatih, jebal.. Izinkan aku bermain,”
Pelatih menatapku sejenak. Aku menunjukkan wajah inginku.
“Geure, kau masuklah,”
Aku bersorak. Pelatih memanggil seorang pemain dan menyuruhku berganti denganku. Aku sangat senang, aku mulai berlari ke tengah lapangan. Aku siap mencetak angka. Aku mulai mendrible bola dan saat aku ing memasukkakn ke dalam ring, aku sudah hampir setengahnya, aku sudah melompat dan aku sudah melempar bola saat seorang pemain lawan menarikku keras, aku kehilangan keseimbangan, dan aku terjatuh membentur besi penyangga ring. Aku merasa tubuhku hilang. Kepala seperti ditusuk ribuan jarum, bukan mungkin ribuan tombak, sesat sebelum semuanya benar-benar gelap aku melihat orang itu.
Perlahan-lahan aku membuka mataku. Bau obat-obatan menyergap hidungku. Rumah sakit? Apakah aku di rumah sakit? Aku tadi membentur tiang. Seseorang menarikku dan aku merasakan tubuhku hilang. Apa aku sekarang di rumah sakit? Aku membuka mataku lebih lebar lagi. Dan dia berdiri di sana, wajahnya masih sama, wajah khawatir yang sama.
“Pelatih Kim? Kaukah itu?” tanyaku pelan.
“Kau benar-benar ingat padaku, Bocah Balon?”
“Benarkah itu kau?”
Itu Pelatih Kim Soo Hyun. Dia lah orang terakhir yang kudengar suaranya sebelum aku tak sadarkan diri. Suaranya penuh kekhawatiran. Dia yang berteriak untuk menghentikan permainan, dia yang menggendongku dan membawaku ke rumah sakit. Setelah aku sadarkan diri, aku tak pernah melihatnya lagi. Diakah yang menyuruh untuk ikut seleksi tim inti? Aku tiba-tiba terbangun
“Ya, kenapa menyuruhku ikut seleksi?”
“Mwo? Siapa yang menyuruhmu?kau sendiri yang ikut, kau tidak ingat bermain saat hari seleksi?” gayanya masih sama, sombong dan banyak gaya.
“Seorang guru mengatakan, kau menyuruhku ke gedung olahraga da mengikuti seleksi itu, itu benar kan?”
“Apa maksudmu? Pasti kepalamu itu belum benar-benar pada tempatnya, istirahatlah dulu sebentar, kau bisa menyusul nanti,”
Dia beranjak meninggalkanku dengan gayanya yang sangat santai.
“Andwe, aku tidak mau menyusul, aku sudah tidak mau main basket, aku tidak mau!” entah kenapa aku berteriak.
“Kau tidak bisa menolak, kau masuk tim inti, dan jika kau mangkir dari latihan, maka konsekuensinya adalah berhadapan dengan kepala sekolah, itu terserah kau,”dia keluar dari klinik meninggalkanku penuh keterkejutan.
Aku tidak mengikuti latihan hari ini. masa bodoh, aku tidak peduli. Aku akan menghadapi kepala sekolah. Aku tidak menyangka reaksiku akan seperti itu saat masuk lapangan basket. Kenapa saat seleksi aku baik-baik saja? Kenapa tadi aku sangat berlebihan? Kenapa Pelatih Kim disini? Arrrgghh, aku mengacak-acak rambutku sendiri. Kenapa semua jadi seperti ini???
“Kau pantas sekali dengan rambut seperti itu,”
Aku menengok kebawah. Aku memang sedang diatas pohon saat ini. Aku melihat Dong Hae tertawa di bawah sana. Kenapa dia ada di sini? Kenapa dia ada dimana-mana? Aku merapikan rambutku seadanya.
“Tentu saja, aku pantas dengan model rambut apapun, kenapa kau disini?”
“Wae? Tidak boleh? Apa yang kau lakukan diatas sana?”
“Aku sdang melihat pemandangan kota Seoul dari sini, kau mau lihat?”
Dia pun memanjat pohon ini. Dia duduk satu ranting diatasku.
“Wah, daebak!”
“Yeppeotta,”
Dong Hae memandangku sebentar.
“Kenapa tadi tidak ikut latihan?”
Aku mendongak memandangnya.
“Kenapa kau bertanya begitu? Latihan apa?”
“Tentu saja latihan basket, kau tadi pingsan dan tidak kembali, gwaenchana?”
Apa dia mengkhawatirkan aku?
“Memangnya kau juga ikut latihan basket?”
“Geurom, aku juga masuk tim inti,”
“Jjjinjja?”
“memangnya kau tidak lihat aku tadi? Apa kau terlalu sibuk menyiapkan pingsanmu hingga tidak memperhatikan aku?”
“Jih, kau ini terlalu percaya diri, kenapa aku harus bersiap diri untuk pingsan?”
“Lalu kau kenapa?”
Aku terdiam. Haruskah aku menceritakan apa yang terjadi denganku pada Dong Hae? Apa dia akan mengerti dan mendengarkanku, dia kan menyebalkan. Dia pasti tidak mau mendengarkan orang lain. Aku memandang dia sejenak. Dia menunjukkan wajah ingin tahunya.
“Aku tidak bisa bermain basket,” kataku pelan.
“Kotjimara, kalau kau tidak bisa bermain basket, bagaimana bisa kau masuk tim inti?”
“Bukan tidak bisa yang seperti itu, tapi tidak bisa karena aku takut,”
Lalu mengalirlah cerita itu. Entah kenapa begitu ringan menceritakan semua ini pada Dong Hae. Begitu mudahnya menggambarkan setiap kejadian yang kualami saat itu. Aku bahkan menangis, aku tahu ini berlebihan, tapi air mataku benar-benar mengalir. Semua ini seperti lukaku mengalir bersama dengan air mataku.
“Mianhae, kenapa aku malah menangis seperti ini?” aku buru-buru menghapus air mataku.
Dong Hae diam tanpa mengatakan apapun.
“Sampai saat ini aku masih sangat takut membayangkan aku harus bermain basket, aku sangat takut, lubang dikepalaku selalu membayangiku. Appa akan sangat marah mengetahui aku masuk tim basket, dia pasti akan mengamuk,” aku masih sedikit terisak.
Aku menatap tanah. Dong hae masih belum mengatakan apapun padaku. Dia hanya menatapku dengan ekspresi yang tidak dapat ditebak. Apa aku cerita terlalu banyak? Apa aku berlebihan karena aku menangis. Aku menangis bukan karena ceritaku, tapi karena kau memang ingin menangis, aku sudah tak bisa menahan tangisku lagi. Tapi kenapa harus di depan Dong Hae?
“500 won, kau harus membayarku 500 won,”
“Mwo?” kenapa dia memikirkan uang disaat seperti ini?
“Kau belum membayar yang kemarin, jadi semuanya 1000 won, cepat bayar padaku,”
 “Kau ini perhitungan sekali???”
“Kau bilang kan aku mesin minuman, mesin minuman tidak ada yang gratis, jadi kau harus membayarku,”
Aku tersenyum simpul padanya, hampir tertawa melihat tingkahnya. Lagi-lagi begini, aku merasa baikan saat bisa tertawa bersamanya. Dia selalu membuat perasaan tak nyamanku menjadi tawa. Aku kembali berdebar-debar. Apa ini? ini menyebalkan.
“Ya, kau harus membayarnya, kau berhutang padaku,”
Lalu dia kembali menatap seluruh Seoul. Wajahnya sangat menyenangkan saat tertawa. Aku juga menatap seoul yang penuh lampu. Hatiku terasa hangat.
*************************************************************
Aku menghabiskan seharian di perpustakaan pada hari berikutnya. Aku harus mengerjakan tugas dari Pak Guru Angker itu. Kenapa dia dendam sekali padaku. Selalu saja menghukumku dengan setumpuk tugas. Aku hampir menyelsaikannya. Tapi aku sudah sangat pusing, lebih baik kupinjam saj buku ini. aku mengemasi buku-bukuku dan menuju ke mesin peminjam otomatis. Selama mesin memproses bukuku, aku mengecek poselku. Ada beberapa pesan dari eomma dan Sulli, tapi tidak ada yang dari Kai. Aku masih saja terus memikirkan Kai.
Aku berjalan menuju asramaku. Hari sudah mulai gelap. Aku ingin segera mandi. Tapi saat sedang membalas pesan, sesorang menarikku. Dong Hae membawa sebuah bola basket dan tersenyum lebar. Dia kenapa lagi?
“Tarawa!”
Aku masih belum mengerti maksudnya.
“Ya, pallee tarawa!”
Dia menarik tanganku dan membawaku ke lapangan basket belakang sekolah. Ada dua lapangan basket di sekolah kami. Di dalam gedung olahraga dan di belakang sekolah. Lapangan basket disini jarang digunakan, selain panas, tempat ini jauh dari mana-mana.
“Ya, kenapa mengajakku kesini?”
“Kau masih berhutang 1000 won padaku, kau harus membayarnya dengan bermain basket bersamaku,” dia mulai mendrible bola.
Suara bola yang memantul membuatku gemetar.
“Shiro! Aku harus mengerjakan tugas,”
Aku berbalik hendak pergi meninggalkannya.
“Sampai kapan kau akan bersembunyi di balik ketakutanmu?”tiba-tiba dia berteriak.
Aku berhenti dan berbalik.
“Itu bukan urusanmu, kau tahu apa soal ketakutanku? Asal kau tahu saja, aku bisa mengurus diriku sendiri,”
“Geure, itu memang bukan urusanku, aku juga tidak tahu tentang ketakutanmu, kenapa aku harus tahu itu? Tapi melihatmu mengubur impianmu sendiri, siapapun tidak akan tinggal diam!”
“Kau tahu apa tentang impianku? Kau tidak akan pernah mengerti,”
“Apa melihatmu menangis saat bercerita tentang impianmu tidak cukup untuk membuatku mengerti?”
Aku terdiam untuk beberapa saat. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku bingung, aku sangat takut bayangan itu akan datang lagi. Menatap lapangan basket, menatap ring basket, menatap bola basket, membuatku semakin ingin berlari sejauh mungkin. Aku tidak bisa melihat hal lain selain lubang di kepala dan darah yang mengalir saat aku berdiri di tengah lapangan basket. Kepalaku kembali berputar-putar, akankah aku mengalami hal itu lagi? Sebenarnya apa maksud Dong Hae membawaku kesini? Aku gemetar, aku sudah tidak kuat menahan berat tubuhku. Aku jatuh terduduk di lapangan. Aku akan seperti ini sampai kapan? Aku terdiam menatap kekosongan.
“Aku tidak bisa, jongmal, aku benar-benar tidak bisa,” aku mulai merasa mual sekarang. Darah itu seperti membungkusku. Aku tidak tahan. Kenapa aku tidak bisa seperti saat seleksi? Kenapa harus selalu seperti ini?
Dong Hae jongkok tepat di hadapanku. Aku menunduk dalam-dalam. Aku tidak ingin dia melihat wajahku saat ini. wajahku pasti pucat seperti hantu. Aku juga berkeringat. Ketakutan macam apa ini? kenapa takut pada sebuah lapangan basket? Apa sebuah lapangan basket akan memakanku? Tapi lapangan basket benar-benar telah menelanku pada ketakutan.
“Apa yang kau takutkan?”
Entah hanya perasanku saja atau memang suara Dong Hae menjadi sangat lembut? Aku menggeleng pelan. Dong Hae mendrible bola tepat di sampingku. Suara desingan bola basket semakin membuatku bergetar. Tiap pantulan bola basket itu seperti membuka tiap luka di kepalaku.
“Hentikan, jebal, hentikan,” aku bahkan sudah tidak mampu bersuara.
Dong Hae menghentikan driblean bola. Aku sepertinya mulai menangis. Aku sudah tidak merasakan apa-apa sekarang. Aku ini kenapa sih? Tubuhku terasa sangat lemas dan aku berkeringat dingin. Kumohon hentikan semua ini. hentikan darah-darah itu. Hentikan suara-suara itu. Tiba-tiba Dong Hae memelukku.

To be continued....

Sabtu, 22 Desember 2012

In My Dream (part 2)

Diposting oleh Popo... The Kite Runner di 07.01 0 komentar

Kenapa Dong Hae ada disana? ini lanjutannya In My dream part 2... Have a nice reading... ^^

Taman.
Aku masih terisak saat kami duduk di taman. Dong Hae memberiku sebotol air mineral. Aku hanya memegangnya. Aku tidak bisa memikirkan apa-apa sekarang.
“Ya, kenapa kau tidak meminumnya, itu adalah minuman berharga dariku,”
“Mwo ya? Ini kan hanya air mineral?”
“Apapun yang berasal dari Lee Dong Hae akan menjadi benda yang sangat berharga,”
“Apa-apaan itu? Gumawo,”
Dong Hae hanya menatapku. Aku memandang sepatuku. Kami berdua terdiam.
“Apa yang dia inginkan? Kenapa dia melakukan hal itu? Kenapa dia tidak mengatakan padaku saja kalau dia ingin berpisah? Kenapa harus dengan cara seperti ini? Apa dia tidak bisa menghargaiku sedikit saja? Kenapa harus seperti ini?” air mataku kembali mengalir. Kali ini aku hanya terisak pelan. Aku sebenarya tidak ingin menangis.
“500 won,”
“Ng??”
“Kau harus membayarku 500 won karena kau sudah menangis di pundakku, dan kapanpun kau menangis di depanku, kau harus membayarku 500 won, araji?”
“Apa itu? Memangnya kau ini mesin minuman? Kenapa aku harus membayarmu?”
“geurom, aku adalah mesin minuman, jadi kau harus membayar,”
“Aku lebih baik tidak menangis daripada harus membayarmu 500 won, huh,”
“Makanya kau jangan menangis,” kata Dong Hae pelan.
“Wae yo?”
“Jangan salah paham, kau tidak tahu, kau jelek sekali saat menangis, kau tidak kasihan pada orang-orang yang melihatmu?”
“Mwo? Kenapa kau ini selalu mengejekku?”
“Karena kau bodoh,” dia tertawa. Entah saat dia tertawa, dia terlihat lebih baik.
*****************************************************************
Aku masih belum bisa menghubungi Kai. Aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal padanya. Kami sudah berteman sangat lama, aku tidak ingin persahabatan kami berhenti begitu saja. Aku berjalan ke arah ruang olahraga. Pelajaran olahraga sudah selesai, aku masih memakai pakaian olahragaku.
“Ya, kau yang disuruh Pak Kim kemari?” tiba-tiba seorang guru memanggilku.
“Ne??”
“Sudah cepat, ambil bolanya dan bermainlah dengan baik,”
Pak guru itu meniup peluit saat aku bahkan tidak mengerti apa yang terjadi. Dan saat itu juga aku berada  dalam sebuah permainan basket. Aku masih belum menyadari situasiku saat tiba-tiba seseorang merebut bola dari tanganku. Akupun berusaha keluar dari lapangan. Tapi seseorang mengoper bola padaku. Aku tidak tahu apa yang kulakukan. Seseorang menyuruhku untuk mendrible bola. Saat itulah untuk pertama kalinya setelah 4 tahun aku berlari sambil mendrible bola. Aku pernah takut untuk bermain bola basket karena aku penah hampir membuat lubang di kepalaku gara-gara bermain basket. Sejak saat itu aku begitu membenci basket yang sangat kusukai. Aku pernah bercita-cita menjadi atlet basket nasional di negeri ini. Tapi kemudian aku menguburnya dan melupakan basket. Tapi ternyata aku sangat merindukan permainan itu. Dan kini setelah sekian lama aku bermain basket lagi. Rasanya seperti hidup kembali. Selalu menyenangkan untuk bermain basket. Tim kami menang pada akhir pertandingan.
“Baiklah, pengumuman akan keluar minggu depan, kalian telah bekerja keras, beristirahatlah dengan baik,”
Apanya yang pengumuman?
“Pengumuman apa?” tanyaku pada seorang yeoja di sampingku.
“Mollaseoyo? Tentu saja pengumuman siapa yang bisa masuk tim inti basket sekolah kita, kau berharap bisa masuk kan? Aku sangat berharap bisa masuk, ah, Kang Hye Ri imnida, kau?”
“Ah, Shin Ji Hyun eyo, mollagesoyo, aku hanya mampir tadi,” jadi ini seleksi untuk masuk tim inti? Apa yang sudah kulakukan?
“Kau hanya mampir tapi bermain sangat mengesankan, bagaimana bisa?”
“Jjinjja?”
“Jongmal yo, kau di asrama mana?”
“Aku asrama 2,”
“Nado, gachi ga yo?”
“Oh, ne, kajja,”
Kami mengobrol banyak saat perjalanan kembali ke kamar. Dia ternyata pemain basket pro saat SMP. Dia terlihat seorang yang baik. Dia ada di kelas sebelah dan kami berjanji akan berlatih bersama. Aku akan bermain basket lagi, gwaenchana??
Aku sedang mengerjakan PR ku di kelas pagi ini. Aku kecapekan gara-gara bermain basket. Aku langsung tidur semalam. Aku tak sempat mengerjakan PR ku. Tiba-tiba Hyuk Jae datang mengagetkanku.
“Ya, Ji Hyun, kau ikut seleksi tim basket inti, kenapa tidak bilang padaku??”
“Oh, itu, aku..,”
“Gwaenchana, aku senang kau ikut. Ya, kita bisa berlatih bersama,”
“Ah. Geureyo,”
Aku kembali mengerjakan PR ku. Hari ini kelas terasa membosankan. Entah apa yang dijelaskan oleh Pak Guru Angker itu. Sepertinya dia hanya berteriak-teriak saja dari tadi. Aku menoleh ke belakang melihat Dong Hae. Dia tidur. Hyuk Jae juga hampir tertidur. Kelas sunyi senyap, hanya suara Pak Guru Angker itu yang menggelegar ke seluruh kelas. Kenapa lama sekali kelas berakhir? Kelas berikutnya juga sama saja. Aku tidak tahu nama guru yang mengajar, tapi sepertinya dia mengajar sastra, dia membaca puisi yang sangat aneh. Dia juga menyuruh kami membuat puisi tentang kacang tanah. Dia pikir kami semua ini petani?
Akhirnya setelah serangkaian kebosanan, kelas pun berakhir. Aku bernafas lega. Sepertinya semua siswa melakukan hal yang sama. Aku tidak tahu apa yang ingin kulakukan hari ini. Aku berjalan menyusuri jalan di pinggir lapangan sepak bola. Sudah hampir musim gugur tapi kenapa masih panas sekali? Aku berusaha menelepon Kai, tapi masih tetap tidak bisa. Aku belum menceritakan hal ini pada Sulli dan Henry. Aku tidak ingin mereka tahu. Aku ingin menyelesaikan semua ini sendiri.
Akhirnya hari itu aku hanya tenggelam dalam laptopku. Aku melihat beberapa foto saat kami masih SMP, ada aku, Sulli, Henry, dan Kai. Aku merindukan masa-masa itu. Saat kami masih bersama-sama. Tiba-tiba pintu kamarku diketuk, tak ada seorangpun dikamar ini selain aku, aku menuruni tangga dan membuka pintu. Kang Hye Ri berdiri dengan senyum lebar, dia memakai seragam olahraga.
“Annyeong! Wae kau masih disini? Hari ini pengumuman siapa yang lolos masuk tim inti, ayo kita ke gedung olahraga,”
“Jigeum? Kupikir masih lama, ne, aku pakai sepatuku dulu, apa perlu aku berganti seragam olahraga?” aku hanya memakai kaos dan celana pedek saat itu.
“Ah, tidak perlu, pallee,”
“Ne,”
Aku memakai jaket dan sepatuku. Kami pergi bersama-sama ke gedung olahraga. Hari sudah hampir malam ternyata. Kenapa cepat sekali. Sekolah kami ramai saat malam. Beberapa siswa lebih memilih aktivitas di malam hari dengan alasan panas saat siang hari. Beberapa siswa sudah berkumpul di lapangan basket. Ada Hyuk Jae juga, dia melambai padaku. Aku hanya tersenyum. Dia terlihat bersemangat sekali. Akankah aku masuk tim inti? Aku takut memulai semua ini, bayangan itu tidak pernah bisa hilang dari kepalaku.
Kami berbaris di tengah lapangan basket dan mendengarkan instruksi dari pelatih. Hanya 12 orang yang akan terpilih dari keseluruhan 30 siswa yang ikut seleksi. 6 dari siswa laki-laki dan 6 dari siswa perempuan. Entah aku ingin terpilih atau tidak. Aku ingin bermain basket, tapi aku masih benar-benar belum bisa menghapus luka itu. Bahkan sampai sekarang bekas lubang di kepalaku masih sering sakit. Aku takut, aku benar-benar takut. Bayangan aku tergeletak di tengah lapangan dengan darah mengalir deras dari kepalaku masih sangat melekat.
Pelatih mulai mengumumkan nama-nama siswa yang terpilih masuk tim inti. Aku tidak begitu memperhatikan. Aku sibuk dengan pikiran dan ketakutanku. Apa sebaiknya aku mengundurkan diri? Kenapa juga kemarin aku ke gedung olahraga? Dan siapa Pak Kim ynag menyuruhku untuk berman basket? Semua ini aneh. Aku sudah bertekad untuk tidak mengikuti apapun, tapi kenapa semuanya jadi seperti ini?
“Kang Hye Ri, kau masuk tim inti,” kata pelatih.
Muka Hye Ri menjadi sangat cerah. Dia memelukku. Ternyata pelatih sudah mengumumkan siswa perempuan yang masuk tim inti. 
“Kau dengar itu, aku masuk tim inti,”
“Ne, chukkae yo,”
“Dan yang terakhir masuk tim inti perempuan adalah Shin Ji Hyun,”
Aku sangat terkejut.
“Jeoneun??”
“Ne, semoga kalian bisa bekerja sama untuk menang dalam turnamen nanti, latihan akan dimulai satu minggu lagi, persiapkanlah diri kalian”
Hye Ri kembali memelukku. Aku masih berdiri mematung. Kenapa aku terpilih?
“Kau dengar itu Ji Hyun? Kita masuk tim inti. Kita akan bermain basket bersama, pasti akan sangat menyenangkan, ne?”
“Oh. Ne,”
“Ya, Ji Hyun-aa, kita akan berlatih bersama mulai sekarang, kita tim inti,” Hyuk Jae datang dan memukul lenganku pelan.
“Kau juga masuk tim inti?”
“Kau kemana saja? Aku adalah yang pertama masuk tim inti, kau tidak dengar tadi?”
“Oh, aku sepertinya terlalu gugup tadi, chukkae yo,”
Aku berjalan menyusuri jalan setapak di sebelah lapangan sepakbola. Seharusnya aku kembali ke asrama bersama Hye Ri, tapi dia tiba-tiba harus ke perpustakaan. Aku menelepon eonnieku.
“Ya, Ji Hyun-aa, kenapa baru sekarang menelepon?? Kau tahu betapa aku ingin mendengar suaramu! Kau belum menceritakan apapun tentang sekolahmu. Kau sekamar dengan siapa? Bagaimana guru disana? Apa kau pernah dihukum? Apa kau sudah menemukan seorang pria disana? Ya, kenapa kau diam saja?” suara eonni terdengar sangat keras. Dia memang sangat cerewet.
“Ya eonnie, aku harus menjawab pertanyaan yang mana dulu? Kau seperti polisi, ka uterus bertanya seperti burung beo, naneun bogoshippo yo,”
Eonnie terdiam. Tidak ada yang bicara diantara kami untuk beberapa saat.
“Nado, eomma sangat merindukanmu, appa juga, kau sehat kan?”
“Hemm. Eonnie?”
“Ne?”
“Kau ingat saat aku hampir mati karena terjatuh saat bermain basket?”
“Ne, kau seperti bisa mati kapanpun. Kau tahu betapa khawatirnya aku? Aku menangis selama tiga hari di pangkuan eomma karena kau tak kunjung sadar, saat itu aku berani bertukar apapun asal kau bisa sadar kembali. Dan setelah kau sadar, kami semua sangat lega. Sejak saat itu kami melarangmu bermain basket. Dan saat kau melihat bola basket kau akan menangis sampai menjerit-jerit. Ayah melarangmu untuk bermain basket sampai bilang ke guru agar mengizinkanmu tidak mengikuti basket. Wae? Kenapa kau bertanya tentang ini?”
Tak terasa air mataku sudah mengalir. Aku berusaha untuk tidak terdengar seperti menangis.
“Aniyo. Eonnie, kadang aku sangat ingin bermain basket, arayo?”
“Ji Hyun-aa. Gwaenchana? Apa ada yang terjadi?”
Eonnie benar-benar bisa membaca suasana dengan baik.
“Opseoyo, lagipula apa yang bisa terjadi? Naneun gwaenchana, jongmal gwaenchana.” Aku menghapus air mataku. “Eonnie, saranghae.”
“Mwo ya? Kau ini kenapa sih?”
“Ani. Eonnie, aku akan mengikuti kata hatiku. Aku harus mandiri dan jadi diriku sendiri kan? Aku tidak ingin jadi bayangamu terus, aku juga bisa hidup tanpa kau yang membantuku, kekekeke,”
“Kau ini benar-benar, kau tahu, aku sering tidur di kamarmu, aku benar-benar kesepian di rumah. Pulanglah di akhir pekan, aku rindu ingin menjahilimu,”
“Ya, kenapa kau suka sekali menyiksaku? Kau menyuruhku pulang hanya untuk kau siksa? Seharusnya kau yang mengunjungiku, kenapa tidak ada yang mengunjungiku?”
“Kau ini. Kau ingin bicara dengan eomma atau appa? Mereka sedang nonton televisi sekarang,”
“Aniyo, aku hanya ingin ngobrol denganmu. Aku akan menelepon mereka nanti.
Kami diam beberapa saat.
“Ji Hyun-aa,”
“Ne?”
“Kalau kau ingin bermain basket lagi, kau main saja. Siapa yang peduli dengan lubang di kepalamu, bukankah itu impianmu?”
“Eonnie,” aku sangat terkejut mendengar perkataan eonnie.
“Naneun ara yo, kau selalu ingin bermain basket, kau memang masih takut, tapi bukankah ketakutan harus dihadapi? Kau tidak boleh kalah oleh ketakutan, dengarkan hatimu,”
“Eonnie, mollayo, aku masih belum tahu, tapi mungkin aku akan memikirkannya, bagaimana kau bisa tahu?”
“Kau tahu akau ini selalu tahu, Ji Hyun-aa, hwaiting!!!”
“Ya, kau ini kenapa? Kenapa tiba-tiba aneh?”
“Aishh, kau ini, bukankah kau yang mulai?”
Beberapa saat kemudian kami masih bertengkar dan saling mengejek. Aku tidak tahu kalau seseorang mendengarkan pembicaraan kami. Aku sedikit lega bisa bercerita pada eonnie, dan mungkin aku bisa memulainya sekali lagi.
*******************************************************************
Aku sedang mengobrol dengan Hyuk Jae di kantin saat tiba-tiba seorang jeoya berlari ke arah meja kami.
“Ya, kau lihat Dong Hae Oppa? Dimana dia?”
Aku dan Hyuk Jae saling menatap. Kenapa yeoja ini?
“Mollayo, nugu ya?”
Bukannya menjawab dia malah melotot ke arahku.
“Mollagesoyo?” dia tiba-tiba melakukan tarian yang menurutku agak aneh.
Aku dan Hyuk Jae kembali saling menatap.
“Kau masih juga tidak tahu? Jongmal mollagesoyo? Aigo, aku tidak percaya ini, kau benar-benar tidak tahu siapa aku? Bagaimana bisa ada yang tidak tahu siapa aku, kau dari planet mana?”
“Mianhae, tapi aku benar-benar tidak tahu kau ini siapa,” kata Hyuk Jae.
“Kalian tidak tahu internet itu apa? Kalian tidak pernah menonton televisi? Apa kalian tahu Kim Ha Ra?”
Aku dan Hyuk Jae menggeleng dengan penuh kepolosan. Aku benar-benar tidak tahu siapa dia ini.
“Ah, lupakan,”
“Ha Ra-aa, kenapa kau disini? “
Tiba-tiba Lee Dong Hae datang.
“Oppa-aa!!!” yeoja itu berteriak manja dan menggelayut di lengan Lee Dong Hae. Apa-apaan sih yeoja ini? “Kenapa tidak menjawab teleponku??”
“Apa aku harus menjawab teleponmu? Sudah sana pulang, kalau ketahuan bisa ada masalah,” Dong Hae mendorong yeoja itu keluar dari kantin.
Kenapa yeoja itu aneh sekali? Aku dan Hyuk Jae melanjutkan makan kami sambil mengobrol tentang latiha basket dua minggu lagi. Aku masih tetap takut dan bimbang untuk bermain basket lagi. Aku takut appa akan menentangku. Karena dari semua orang yang paling menentagku bermain basket adalah appa. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa ikut seleksi itu. Rasanya semua ini aneh.
Sulli mengajakku keluar sore itu. Aku setuju saja dengan idenya. Dan disinilah kami sekarang. Mandi uap di sauna. Wah, menyegarkan sekali.
“Kenapa mengajakku kesini?”
“Wae? Kau tidak suka? Aku hanya rindu padamu, kita jadi jarang pergi sekarang,”
“Ne, kau benar,”
“Ada berita apa di sekolahmu? Apa ada cowok tampan disana?”
“Kau bisa memili sesukamu, cowok-cowok disana sangat tampan dan penuh gaya, aku saja sampai heran,”
“Wah sepertinya menyenangkan juga di sana, ah, ne, kabar Kai bagaimana?”
Aku yang sedang makan telur langsung tersedak. Ah, kenapa Sulli bertanya tentang itu? Aku harus jawab apa?
“Oh, dia.. dia sedang sangat sibuk dengan kegiatan barunya, aku jarang bertemu dengannya, iya begitulah,”
“Apa maksudmu begitulah? Kalian baik-baik saja kan? Hanya saja aku jarang mendengar kabar darinya,”
“Ne, kami baik-baik saja, dia sibuk jadi agak jarang menghubungi kita,”
Aku berusaha memperlihatkan kalau kami baik-baik saja. Jadi Kai juga tidak menghubungi Sulli dan Henry. Apa yang harus kulakukan?
“Ah Ji Hyun-aa, apa benar Lee Dong Hae sekelas dengamu? Ceritakan padaku dia seperti apa?”
“Ah, dia biasa saja, dia sanagt terkenal di sekolahku, banyak yeoja mengejarnya, dia duduk di belakangku, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku selalu punya banyak hal yang kupikirkan saat bertemu dengannya, tapi saat benar-benar bertemu dengannya aku tidak tahu harus bagaimana, aku tidak pernah benar-benar ngobrol dengannya,” aku sedikit berbohong pada Sulli, kenyataannya dia pernah memelukku di pusat perbelanjaan.
“Ne, kau benar, akan sangat membingungkan saat bertemu idola, apa dia benar-benar tampan sepert di televisi,”
“Ummm, sepertinya dia lebih tampan di dunia nyata, bahkan dia sangat tampan, dia benar-benar memiliki charisma, dia sangat menawan, kau harus melihatnya sendiri,”
“Ya, kau tidak benar-benar terpesona olehnya kan?”
“Mwo? Ani, aku hanya menyukainya sebagai idolaku, kenapa aku harus menyukainya?”
“Geure, kau jangan benar-benar menyukainya, pasti akan banyak masalah,”
“Mwo ya?”

Setelah dari sauna, kamu pergi ke toko buku. Kami memang sering ke toko buku, kami bukannya ingin membeli buku, kami hanya menumpang membaca di sana. Kami sedang asyik membaca buku saat aku melihat Kai dengan seorang yeoja. 

To be continued...

Ibuku, Surgaku...

Diposting oleh Popo... The Kite Runner di 04.33 0 komentar
Hadiah gue buat ibu

Hari ini gue ngasih bros ke ibu gue.. Ini pertama kalinya dalam hidup gue ngasih sesuatu ke ibu. Semua orang mungkin tahu kalo gue emang nggak pernah deket sama ibu gue. Jangankan mereka, gue aja juga nggak pernah tahu kenapa gue bisa sangat merasa asing sama ibu gue sendiri.

Gue sangat iri sama temen-temen gue yang bisa menjadikan ibu, mama, nyokap, emak, enyak, mom, mami, bunda mereka sebagai sahabat. Mereka bisa mencurahkan apapun sama ibu mereka. Mereka selalu menjadikan ibu mereka labuhan entah disaat senang, sedih, marah, galau, apapun perasaan mereka bisa tercurah pada ibu. Mereka bisa memperlihatkan kasih sayang pada ibu mereka di depan umum. Membelai rambut ibu mereka, tertawa bareng ibu mereka, saling memeluk, saling mengusap air mata, saling menyayangi satu sama lain. Mereka menjadikan ibu mereka obat di kala sakit, mereka menjadika ibu mereka sandaran di kala jatuh, menjadikan ibu mereka sebagai kekuatan saat mereka lemah. Mereka menjadikan sosok ibu sebagai ibu yang sebenernya.

Lha gue? Apa yang terjadi sama gue nggak pernah sama dengan apa yang mereka lakukan. Gue dan ibu gue adalah orang asing. Hanya saja kami tinggal dalam satu rumah yang sama. Tapi itu sama sekali nggak mengubah apapun. Gue nggak pernah bisa menjadikan ibu gue sebagai seorang ibu yang sesungguhnya. gue nggak pernah menjadikan ibu sebagai labuhan saat gue sedih, gue nggak pernah mengeluhkan apapun sama ibu gue, gue nggak pernah bisa membagi tangis da air mata sama ibu gue, gue nggak pernah bisa melepas tawa bareng ibu gue. Gue nggak pernah bersandar di pundak ibu gue, gue nggak pernah memeluk ibu gue, gue nggak pernah menunjukkan kasih sayang gue ke ibu gue di depan umum, gue nggak sama seperti mereka. Gue bahkan enggak satu kata pun ngomong sama ibu gue. Gue adalah orang asing buat ibu gue sendiri...

Jangan pernah tanya gimana perasaan gue menjadi orang asing buat ibu gue sendiri. Gue sama sekali nggak pernah mikirin perasaan gue. Karena semakin gue memikirkan hal itu, gue semakin merasa bersalah dan berdosa. Rasanya lebih menyakitkan daripada apapun. Gue aja kayak gini, apalagi ibu gue??? Gue nggak perah bisa membayangkan perasaan ibu gue dengan segala sikap gue. Gue yakin ibu gue pasti nangis lebih dari apapun. bhakan mungkin air matanya nggak akan pernah cukup untuk menangisi sikap gue. Ibu gue pasti terluka sangat dalam, amat sangat dalam..

Ibu gue adalah ibu paling hebat sedunia -semua anak akan berpikir begitu tentang ibu mereka- Tapi ibu gue benar-benar hebat, karena ibu gue mampu bertahan bukan karena apa-apa, tetapi karena ulah kedua anaknya. Ibu gue tetap melayani gue meski gue nggak pernah merespon apapun, ibu gue tetap mendoakan gue untuk menjadi yang terbaik, biar gue bisa jadi sarjana dan jadi orang sukses, ibu gue tetep ngasih gue uang saku, walaupun gue selalu aja minta duit, ibu gue tetap menyebut gue dalam doanya dan menagis dalam sholatnya demi gue, ibu gue rela menahan semua kesedihan dan tekanan yang gue buat hanya demi kelangsungan hidup gue. Ibu gue bahkan rela menjadi ibu sekaligus ayah buat kedua anaknya. Tapi apa balasan yang gue beri ke ibu gue? Gue malah menjadi orang asing buat ibu gue sendiri. 

Gue sendiri nggak pernah tahu apa alasan gue menjadi seperti ini. Dalam hati gue sangat ingin melakukan apa yang mereka lakukan, menjadikan ibu mereka sebagai seorang ibu, memeluk ibu, menjadikan ibu sandaran, menjadikan ibu luapan tawa, menjadikan ibu obat terbaik saat aku sakit, menjadikan ibu gue sebagai surga gue... Gue mungkin akan menjadi anak yang tidak baik, gue bukan seorag anak yang patut dibanggakan, karena gue belum bisa menjadika ibu gue sebagai surga buat gue sendiri... Sebenernya gue nggak perlu mencari surga keman-mana, karena rumahku adalah surgaku, dimana ibuku menjadikan dirinya surga bagiku.. Gue emang harus berubah, dan gue mungkin nggak akan pernah bisa menjadi anak yang seperti mereka, tapi yang gue tahu, gue sayang ibu gue, gue mencintai ibu gue... Ibu guelah surga gue, yang kelak akan gue jadikan sebagai tempatku di alam selanjutnya.. 

Mungkin gue menjadi orang asing buat ibu gue.. Tapi orang asing pun bisa menjadi sahabat setelah sekian lama, gue ingin menjadi sahabat buat ibu gue, gue pengen menjadi sandaran buat ibu gue, gue pengen membuat ibu gue nggak menyesal menjadikan dirinya sebagai surga buat gue.. Gue pengen masuk ke dalam surga ibu dengan penuh ketulusan, tanpa prasangka apapun, sebagai seorang anak.. Bukan sebagai orang asing,, 

Di Hari Ibu ini, gue punya makna tersendiri, mungkin orang lain akan menghabiskan hari ini menyanyangi ibu mereka, tapi buat gue hari ini adalah momentum dimana gue memaksa diri gue untuk bisa menunjukkan bahwa gue mempunyai perasaan yang sama seperti mereka yang menyanyangi ibu mereka, da hal itu nggak pernah mudah buat gue, gue butuh perjuangan panjang untuk itu... 

"Ibu, maafin aku, apa yang harus aku lakukan ibu? Gimana caranya ibu tahu aku sangat menyayangi ibu dengan segala yang kupunya? Tunggulah ibu, aku akan berusaha menjadi anakmu, dan bukan menjadi orang asing untukmu... Aku akan berjuang demi surgamu... Selamat Hari Ibu..."

*******************************SELAMAT HARI IBU*******************************

*Hug For Mom*
Love my Mom <3 p="p">


Popo

Rabu, 19 Desember 2012

In My Dream

Diposting oleh Popo... The Kite Runner di 08.52 0 komentar

coba-coba bikin Fan Fiction lagi... In My Dream,         

Aaaaaah, aku benar-benar benci sekolah. Kenapa sih aku harus sekolah?? Aku bisa belajar di mana saja. Tidak harus di sekolah kan? Sebenarnya apa sih yang ada di pikiran eomma dan appa ku? Kenapa mereka mengirimku ke sekolah asrama? Tidak cukup apa aku harus ke sekolah setiap hari? Kenapa harus di asrama juga? Benar-benar sangat menyiksa. Aku jadi benar-benar terkekang sekarang. Apa yang harus ku lakukan.
Aku tengah berkemas saat ini. Besok sudah mulai pembukaan tahun ajaran baru. Dan baru saja aku bertengkar dengan appa ku. Dia benar-benar jahat. Kenapa mengirimku ke asrama? Memangnya kenapa kalau aku di rumah? Huh, menyusahkan saja.
Tok! Tok!
Pintu dibuka dan eomma ku masuk. Dia membawakanku makan malam. Aku memang tidak sempat makan tadi. Aku terlanjur bertengkar dengan appa sebelum aku makan.
“Eomma bawakan makan malam, kau harus makan,” kata eomma sambil meletakkan makan malam di meja belajarku.
“Eomma… Bisakah kau bujuk appa untuk tidak mengirimku ke asrama? Ini tidak adil, kenapa eonnie boleh sekolah di sekolah biasa, sedangkan aku harus di asrama, appa benar-benar tidak adil!”
“Ji Hyun-aa, kau harus mengerti sikap appa mu, kalau dia sudah membuat keputusan, tidak ada yang bisa mengubahnya, terimalah kalau kau harus masuk asrama,”
“Wae?? Ini tidak adil eomma,” aku duduk di sebelah eomma.
“Ji Hyun-aa, nado mola sseo yo, wae appa mu mengirimmu ke asrama, dia tidak mengatakan apapun pada eomma, ini sungguh aneh,”
“Georom, ini tidak adil! Kalau aku masuk asrama, seharusnya eonnie juga masuk asrama, appa menyebalkan!”
Aku menghempaskan diriku ke tempat tidur. Aku tidak ingin berkemas. Aku tidak ingin pergi ke asrama. Apa yang bisa ku lakukan di sana? Aku tidak akan bisa melakukan apa-apa di sana, aku bahkan tidak bisa melihat konser Lee Dong Hae, pujaanku. Menyebalkan. Appa, miwo ya!
Aku tidak ingin terbangun pagi ini. Kenapa aku harus bangun? Itu berarti aku harus pergi ke asrama menyebalkan itu. Sesorang mengetuk pintu kamarku.
“Ya! Ji Hyun-aa, ierona! Kau harus segera bersiap ke sekolah barumu,” itu eonnie ku. Dia sanga cerewet. Kenapa ada yeoja seperti dia di dunia ini?
Aku menarik selimutku hingga menutupi kepalaku.
“YA! Pallee ierona, kajja!” dia mulai menarik selimutku.
“Aku tidak mau,”
“Kau mau tidur sampai kapan? Kau bisa telambat, cepatlah, appa neun gidarida yo, kajja,” sekarang dia menarik tanganku.
Aku terbangun dengan sangat malas. Harusnya sekarang aku sudah berangkat ke sekolah baruku bersama Sulli dan Henry, tapi kenapa aku malah berurusan dengan kakakku yang menyebalkan ini?? Aku sudah berdiri sekarang. Dia mendorongku ke kamar mandi. Selama aku mandi entah apa yang dia lakukan di dalam kamarku. Aku selesai mandi dan semua keperluanku sudah tersedia.
“Pallee, kau akan terlambat,”
Eonnie membantuku bersiap-siap. Dia memang sangat menyebalkan dan cerewet sekali, tapi dia juga kakak yang sangat baik. Aku tidak akan pernah bisa tanpanya. Apa jadinya aku di asrama tanpanya?
“Eonni..”
“Ne?”
“Aku akan sangat merindukanmu kelak, apa kau akan rindu padaku?”
Eonnie yang sedang menyisir rambutku berhenti dan duduk di sebelahku. Dia memukul jidatku pelan.
“Ya, babo ya? Kau satu-satunya dongsaeng yang kupunya, bagaimana bisa aku tidak kehilanganmu saat kau pergi? Aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan tanpamu di rumah? Eomma pasti akan lebih sering memarahiku,”
“Eonnie, aku tidak ingin masuk asrama,”
“Kau sudah mengatakan itu ribuan kali, aku hampir muntah mendengarnya, sudahlah, kata-kata appa tidak akan pernah bisa dibantah, kau baik-baiklah disana, sering-seringlah menelfonku, kau harus menjaga kesehatan, jangan sampai kau sakit, araji?” kakak ku kembali menyisir rambutku. Gerakannya agak gemetar. Aku tahu eonnie menahan tangis.
Akupun sebenarnya sangat ingin menangis. Tapi aku tidak mau menangis di hadapan eonnie.
“Eonnie, bantu aku memakai jasku ya,”
Eonnie hanya menganguk sambil tersenyum.
Aku sudah sampai di depan sekolah baruku. Kenapa aku merasa seperti mau mask penjara. Aku tidak ingin selangkahpun masuk ke sekolah itu. Aku menggigit bibirku. Aku tidak ingin berpisah dengan keluargaku, kenapa appa tidak mau mengerti itu? Aku melihat beberapa siswa membawa koper sepertiku.
“Ji Hyun-aa, masuklah,” appa memberikan koperku padaku.
Aku mengangguk pelan.
“Ku harus jaga kesehatanmu, jangan sampai kau sakit, kau juga harus belajar dengan benar, kau tidak boleh malas, kau dengar itu?” eomma mulai cerewet padaku.
Aku kembali mengangguk pelan.
“Ingat selalu pesan eomma, kau harus jadi anak baik, kau jangan sampai membuat masalah, telepon kami sesekali, jangan buat kami khawatir, kau mengerti kan?”
“Eomma,” aku memeluk eomma, aku sudah tidak bisa menahan air mataku lagi. Aku menangis terisak dalam pelukan eomma. Aku tidak pernah membayangkan akan berpisah dengan keluargaku. Sampai beberapa saat kau memeluk eomma.
“Sudah, kau masuklah, kau akan terlambat,” kata appa.
“Ne,”
Aku menyeret koperku dan mulai memasuki sekolah. Aku menoleh sekali lagi dan akhirnya aku masuk ke sekolah. Sekolah ini besar sekali. Aku harus kemana?
“Kau murid baru juga?” seorang joeya mengahmpiriku.
“Ne, kau?”
“Ne, aku juga murid baru, Soo Eun Hye imnida,”
“Nan Shin Ji Hyun imnida, kemana kita akan pergi?”
“Kita harus ke kamar kita, upacara pembukaan akan diadakan jam 1, kita harus bersiap-siap, kau tahu dimana kamarmu?”
“Ani, molasseoyo, noe arayo?
“Georom, taerawa!”
Aku mengikutinya. Aku tidak tahu apa-apa soal sekolah ini. Yang aku tahu sekolah ini luas sekali, karena pada saat aku sampai di kamarku, kakiku rasanya mau patah. Kenapa sejauh ini? Bagaimana kalo nanti aku terlambat? Aku ternyata sekamar dengan Eun Hye. Dalam satu ruangan ini berisi empat murid. Dua murid lainnya telah membereskan tempat tidur mereka. Aku sedikit canggung dengan situasi seperti ini. Aku tidak pernah berhasil dalam pertemuan pertama dengan orang lain. Eonnie lah yang selalu membantuku berkenalan dengan orang baru. Tiba-tiba saja aku merindukannya.
“Nan Hong See Na imnida, dan dia Kang Yu Mi, kalian siapa?”
“Oh, nan Shin Ji Hyun, banggapseumnida,” aku memperkenalkan diri.
“Nan Soo eun Hye, mohon bantuannya,”
“Ne,” kata See Na.
Aku mulai membereskan tempat tidurku. Tempat tidurku dekat jendela. Dari jendela itu aku bisa melihat hampir keseluruhan sekolah. Sekolah ini benar-benar besar. Apa aku harus berjalan kaki setiap hari? Bisa-bisa aku lumpuh seketika. Aku mulai mengeluarkan barang-barangku. Aku mengambil beberapa buku dan kuletakkan di atas meja. Tepat dibawah buku ada beberapa bingkai foto, selain foto keluargaku, ada juga fotoku bersama Sulli dan Henry. Mereka sahabatku sejak kami di SD. Saat tahu aku akan berpisah dengan mereka, aku menjadi sangat sedih. Mereka sekarang pasti sekelas lagi. Beruntung sekali mereka. Tiba-tiba ponselku bordering.
“Yoboseyo?”
“Ya, Ji Hyun-aa, kau sedang apa?”
“Sulli-aa, aku senang sekali kau menelfonku, aku baru saja sampai di asrama, kau bersama Henry?”
“Tentu saja, kami satu sekolah, sayang kami tidak sekelas, lebih disayangkan lagi kau tidak bersama kami, aku rindu padamu Ji Hyun-aa,”
“Nado, aku benar-benar ingin bersama kalian sekarang, kau tahu bagaimana perasaanku sekarang? Aku ingin sekali menggelitik appa atas apa yang dia lakukan padaku,”
“Ne, paman benar-benar kelewatan, seharusnya dia memasukkanmu ke sekolah yang sama dengan kami, paman mikir apa sih?”
“Jongmal molla, aku merasa aneh di tempat ini, apa yang bisa kulakukan di sini tanpamu?”
“Keluarlah di akhir pecan, kita jalan-jalan di akhir pekan, ne?”
“Geureyo, aku harus pergi sebentar lagi upacara pembukaan, kututup teleponnya,”
“Ne, jalgaji,”
“Nodo,”
Aku menutup telepon dan mengganti bajuku dengan seragam. Aulanya jauh sekali dari kamarku. Sepertinya aku harus naik bis untuk bisa kesana. Kenapa sekolah ini besar sekali? Dan kenapa aku bisa masuk kesini? Aku masih belum bisa menerima ini semua. Apa yang bisa kulakukan di sekolah ini? Daebak, aulanya besar sekali, sepertinya aula ini bisa menampung semua orang di Seoul.
Tidak seorangpun yang ku kenal di sini. Aku duduk di bagian belakang. Dari sini cukup untuk tidak terlihat. Beberapa saat kemudian murid laki-laki memasuki ruangan. Kenapa ada alai-laki kupikir ini adalah sekolah untuk perempuan. Lalu apa bedanya dengan sekolah biasa? Dan kenapa kami harus masuk asrama?
Kepala sekolah sedang memberikan sambutan sekarang. Aku mulai mengantuk. Kenapa sejak tadi pak kepala sekolah membicarakan soal pertandingan basket dan team basket? Seharusnya aku membawa earphone tadi. Aku bosan sekali. Kapan upacara ini akan berakhir? Aku ingin memainkan game ku sekarang. Aku membuka sebuah game dari ponselku.
TRIIIING! TRIIIIIING!
Entah berapa decibel suara ponselku, semua orang menoleh padaku. Dan seorang guru menunjukku dengan tongkat panjangnya. Aku tenggelam di tempat dudukku.
Dan disinilah aku. Di lapangan basket. Bersama Guru Tongkat Panjang itu. Kenapa wajahnya lebih angker dibandingkan rumah dengan 1000 hantu. Ohhteokaji? Yang jelas aku akan dihukum.
“Ya, bocah nakal, aigoooo, kenapa kau sudah membuat masalah di hari pertamamu? Apa yang ada di otakmu itu? Apa kau tadi pagi sarapan semut merah, hah?”
“Jwosonghamnida Seung Nim, aku tidak sengaja,”
“Apanya yang tidak sengaja? Sekarang kau hormat pada tiang bendera itu,”
“Kenapa aku harus hormat pada tiang bendera?”
“Kau berani bertanya? Tentu saja itu hukuman untukmu! Pallee!!”
“Seung Nim, sampai kapan aku harus begitu?”
Tiba-tiba dia tersenyum walau sebenarnya tidak mengubah keangkeran wajahnya,
“Teruslah begitu sampai tiang bendera itu melengkung,” lalu dia berlalu dan meninggalkanku.
“Mwo?? Kunde Seung nim, itu berarti selamanya?”
Mwo ya? Kapan tiang bendera itu akan melengkung? Kenapa Pak guru itu? Apa sih yang dia pikirkan? Aku berjalan ke arah tiag bendera dan mulai melakukan sikap hormat. Ah panas sekali di sini. Kenapa harus di hari pertamaku masuk sekolah? Seharusnya aku tidak melakukan kesalahan. Untung saja hanya hormat pada tiang bendera? Bagaimana kalau aku di keluarkan? Lalu munculah ide itu. Aku merasa saat ini tumbul tanduk bewarna merah di kepalaku.
*********************************************************************
Aku berlari menuruni tangga depan asramaku. Haisssh, kenapa tangga ini jumlahnya banyak sekali. Aku semakin terlambat masuk ke kelas. Aku berlari menyelusuri jalan di samping lapangan bola, lalu ke menyebrang lapangan basket dan masuk ke gedung utama. Aku naik ke lantai. Gedung sudah sepi. Pasti saat ini semu orang sedang belajar di kelas. Aku berhenti di depan kelasku. Aku mengatur nafas sebentar. Perlahan kubuka pintu kelas. Tiba-tiba semua siswa melihat padaku. Aku semakin merasa malu dan saat aku lihat guru yang mengajar aku rasa aku tidak hanya akan hormat pada tiang bendera, tapi kini aku harus melengkungkan tiang itu. Pak Guru Bertongkat melotot padaku.
“Annyonghaseyo, Seung nim, jwosonghamnida, aku terlambat,”
“Ya, siapa yang Tanya kau? Kau pikir kau mau apa jam segini baru datang ke kelas? Kau mau makan siang?”
“Jwosonghamnida Seung nim, boleh aku masuk?”
”Mulon imnida,” dia tersenyum padaku.
“Ah, khamsahamnida Seung nim,” aku masuk dan duduk di tempat dudukku.
“Ya, bocah tengik, siapa yang menyuruhmu duduk?”
“Ka.. kau bilang aku boleh masuk?”
“Ne, aku memang menyuruhmu masuk, tapi bukan untuk duduk dan mengikuti pelajaranku, BAWA MEJAMU DAN KELUAR!”
Dia berteriak keras sekali. Benar-benar membuat jantungku hampir keluar dari mulutku. Cepat-cepat aku menyeret mejaku keluar. Guru macam apa sih dia ini? Akhirnya aku belajar di lorong kelas. Apa yang harus kulakukan? Aku mengeluarkan bukuku dari tas. Pelajaran apa sebenarnya sekarang ini? Seharusnya aku tadi bawa komik. Aku duduk sambil mengangkat kaki kursiku. Aku mulai bosan. Aku berdiri dan melihat suasana kelas. Dan dengan cepat kurasakan aura meyeramkan dari dalam kelas. Guru apa sebenarnya dia? Kenapa guru menakutkan seperti itu ada di sekolah sebagus ini?
“Ya, apa yang kau lakukan? Keluar!”
Aku kembali duduk, bukannya aku sudah di luar. Kenapa dia menyuruhku keluar? Apa yang harus kulakukan? Benar-benar membosankan. Kenapa bell tidak juga berbunyi? Aku juga mulai mengantuk. Ku baca bukuku, tapi aku sama sekali tidak mengerti tentang sejarah Korea. Aku ingin segera akhir pekan. Aku ingin bertemu Sulli dan Henry. Menyebalkan.
Brak!
Aku terbangun. Dan wajah guru angker itu sudah tepat dihadapanku. Matanya benar-benar ingin menelanku. Apa salahku harus selalu berhadapan dengan guru ini.
“Kau? Ireona?? Lari keliling lapangan basket 5 kali!” sekali lagi dia berteriak.
Dan disinilah aku sekarang. Berlari mengelilingi lapangan basket. Ah, aku lelah sekali. Aku belum sarapan tadi. Dan udara sangat panas sekali. Pak guru benar-benar tega padaku. Kenapa guru seperti itu diperbolehkan bekerja di sekolah? Ini putaran terakhir, aku harus segera menyelesaikan dan kembali ke kelas. Aku tidak ingin dihukum lagi.
Akhirnya sekolah usai. Aku ingin tidur setelah ini. Seharian ini seoertinya aku hanya menjalani hukuman. Aku berjalan pelan ke asramaku. Kenapa hari ini panas sekali? Aku baru akan menelepon Sulli saat tiba- tiba terdengar keributan. Bukankah itu para wartawan?? Ada apa mereka ke sekolahku? Mereka berlarian melewati. Ramai sekali.
Aku sampai di kamarku. Teman-temanku belum kembali. Aku naik tangga ke atas. Tempat tidurku di atas. Aku langsung menghempaskan diriku ke tempat tidur saat kurasakan sesuatu ada di tempat tidurku. Aku terbangun dan menyingkap selimutku.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!”
Aku berteriak. Namja itu juga berteriak!
“Nugu ya?? Apa yang kau lakukan di sini?” aku memukuli namja itu dengan gulingku. Apa yang ada dipikirannya sehingga dia ada di tempat tidurku.
“Hentikan, hentikan, Ya! Appa yo!”
Aku menatap wajahnya dan aku terkejut setengah mati. Itu Lee Dong Hae. Lee Dong Hae penyanyi itu. Dia idolaku. Dia impianku. Dan dia ada di hadapanku sekarang. Apa aku bermimpi?
“Ya, kau lihat apa?”
Tiba-tiba suara pintu terbuka. See Na masuk. Aku kangsung mendorong Lee Dong Hae ke samping tempat tidur dekat tembok. Disana dia tidak akan terlihat.
“Jangan membuat suara,” bisikku padanya. “Ah, See Na-ssi, kau sudah pulang?”
“Ne, apa yang kau lakukan diatas sana?”
“Obseoyo, aku hanya mencoba untuk tidur, aku lelah sekali,’
“Oh, aku hanya mengambil handuk, aku ikut club berenang hari ini, Yu Mi dan Eun Hye juga, kau juga mau ikut?”
“Oh, ani, aku hanya ingin tidur,”
“Geureyo, aku pergi,”
“Ne,”
See Na pergi. Aku menghela nafas panjang. Aku melompat ke kasur dan melihat keadaan Lee Dong Hae.
“Ya, kau bisa keluar sekarang,”
Dia keluar dari bawah tempat tidur sambil memegang kepalanya.
“Noe, gwaenchana?”
“YA! Kenapa mendorongku?” dia membentakku.
”Mwo? Jelas-jelas aku menyelamatkanmu, kau bisa mati kalau kau ketahuan berada di kamar perempuan! Hah, jangan-jangan kau memang mau melakukan sesuatu yang buruk?” aku meutup bagian dadaku.
“Mwo? Otakmu terbuat dari apa sampai bisa berpikiran seperti itu?”
“Aku tidak bisa menjamin kau orang baik,”
“Aku harus pergi,” dia menuruni tangga.
Aku mengejarnya dan menarik tangannya.
“Ya, kau tidak bisa keluar begitu saja, kalau seseorang melihatmu, kau dan aku bisa dalam masalah, lagipula apa yang kau lakukan di sekolahku?”
“Aku juga sekolah di sini,”
Hah???? Dan akhirnya sisa hari itu aku dan Dong Hae kucing-kucingan agar bisa keluar dari asramaku. Setelah berhasil keluar dia langsung pergi. Haiiisssh, jjinjja! Paling tidak dia harus mengucapkan terimakasih padaku. Ternyata dia galak sekali. Apa bagusnya orang seperti itu? Kenapa dia bisa sangat terkenal? Dan kenapa aku menyukainya?
******************************************************************
Keesokan harinya aku berusaha bangun pagi. Aku tidak ingin terlambat. Aku tidak jadi meneruskan niatku untuk melanggar peraturan. Aku melanggar peraturan agar aku dikeluarkan dan bukannya dihukum. Aku sampai di kelas akhirnya. Hanya beberapa siswa yang sudah datang. Aku duduk di mejaku di dekat jendela. Aku berencana untuk tidur lagi saat seorang namja menyapaku.
“Ya, kau yang kemarin dihukum Pak Gun Woo, Lee Hyuk Jae imnida, noe?” dia mengulurkan tangannya.
“Ne, Shin Ji Hyun imnida,”
“Kau mau ikut club basket?”
“Ne? aniyeyo, aku tidak bisa main basket,”
“Gwenchana, pelatih di sini sangat hebat, kau harus ikut, kita pergi bersama, araji?”
“Andwe, aku tidak ikut,”
“Wae?”
“Aku tidak bisa bermain basket, mianhae,”
“Ne, araseo, ah bel sudah berbunyi,”
Siswa-siswa masuk kelas dan juga wali kelas kami, Bu Guru Ga In. Kami mulai pelajaran matematika. Aku benci pelajaran ini. Apa gunanya menumpuk angka di kehidupan nyata? Saat sedang belajar, tiba-tiba seorang namja masuk. Omo, itu Lee Dong Hae, jadi aku sekelas dengannya? Dia membuka pintu dan tanpa berkata apa-apa dia langsung duduk di meja di belakangku. Dia benar-benar tidak punya sopan santun. Kenapa di dunia nyata dia sangat menyebalkan? Bukankah dia selalu tersenyum di televise. Kenapa di kehidupan nyata dia sama sekali berbeda? Tanpa sadar aku terus menatapnya.
“Mwo ya? Kau lihat apa?”
“Ah, aniyeyo,”
Ya, babo ya? Kenapa aku menatapnya seperti itu? Kalau akan tahu dia sangat menyebalkan, aku tidak akan menjadikan dia idolaku. Aku tidak konsentrasi pada pelajaran hari itu. Aku memang tidak penah konsentrasi pada pelajaran apapun. Ah aku harus segera menceritakan ini pada Sulli. Aku mengambil ponselku dari saku jasku, aku mengetik pesan pada Sulli.
Kau tahu? Aku bertemu dengan Lee Dong Hae, kau percaya itu? Kau harus ke sekolahku dan melihatnya sendiri.
Pesan terkirim.
“Noe! Kau pikir kau dimana sekarang? Apa sekarang saatnya menggunakan ponsel?” tiba-tiba bu guru Ga In sudah di depanku. Ani, apa yang ku lakukan? Aku menyembunyikan ponselku di laci. Seluruh kelas melihatku. Kena lagi!
Sebagai hukuman aku harus membereskan ruang perpustakaan. Hal itu akan jadi mudah bila perpustkaan hanya sebesar kamarku, tapi perpustakaan di sini seperti museum buku nasional. Terlalu luas untuk ukuran sebuah perpustakaan. Setelah lebih dari satu jam, aku hampir selesai, tinggal bagian belakang. Aku harus mengurutkan buku sesuai abjad. Hal ini akan menjadi hal yang mudah jika aku punya tubuh yang tinggi, tapi dengan tinggi badan yang pas-pasan seperti ini, sepertinya ini akan menjadi hal yang sulit. Aku sedang berusaha menarik sebuah buku saat tiba-tiba buku yang lain ikut terjatuh.
“WAAAAAAAAAA!!!” aku mundur beberapa langkah. Sebuah buku tebal jatuh di kakiku. “Ah!” aku memegang kaki yang sakit. Sebuah buku yang cukup tebal tiba-tiba terjatuh. Aku tidak bisa menghindar. Aku memejamkan mata dan menunggu buku itu jatuh. Tapi tidak ada suara buku terjatuh. Pelan-pelan aku membuka mataku.
“Oh,” ada Lee Dong Hae disana. Dan dia memegang buku yang terjatuh tadi.
“Ya, mwo haseyo? Kenapa berisik sekali?”
“Oh, aku sedang merapikan buku-buku ini, mianhae sudah menggaggumu,”
Dia menatapku.
“Ya, kau kan yag sekelas denganku, kau yang dihukum karena bermain ponsel kan?”
“Geure, wae?” aku kembali merapikan buku-buku itu. Tapi bagian atas aku tidak bisa menjangkaunya.
“Ani, ingatlah, ini perpustkaan, jangan bikin ribut,”
“Ya, daripada kau mengoceh saja, lebih baik kau bantu aku,”
“Kenapa aku harus membantumu, itu kan pekerjaanmu,”
“Jebal, aku tidak bisa mencapai bagian atas, dowajuseyo,”
Dia diam beberapa saat. Tapi kemudian dia membantuku merapikan buku-buku itu. Setelah semua selesai dia pergi begitu saja. Aku membereskan sisanya dan kembali ke asramaku. Aku merebahkan diri di tempat tidur. Sepi sekali, kemana teman-temanku? Aku iseng membuka Tabletku dan mulai menjelajahi internet. Aku mencari berita Lee Dong Hae.
Bermasalah dengan Manajeme, Karir Lee Dong Hae Terancam
Apa ini? Dalam berita itu tertulis bahwa Lee Dong Hae terlibat dalam suatu masalah dengan manajemen yang menaunginya dan terancam dikeluarkan dari manajemen. Kenapa aku baru tahu? Dan kenapa harus dikeluarkan? Apa itu alasan dia bersekolah di sini? Tiba-tiba ponselku berbunyi.
Sulli: Ya Ji Hyun-aa, benarkah Dong Hae di sekolahmu? Dia sepertinya sedang ada masalah.
 Aku: geure, kami bahkan satu kelas. Aku juga baru saja membaca beritanya.
Sulli: bagaimana dia di sekolah? Ada apa sebenarnya?  
Aku: entahlah, aku tidak terlalu mengenalnya. Sepertinya dia agak aneh.
Sulli: aku akan latihan cheerleaders setelah ini. Kau ikutlah sesuatu.
Aku: aku tidak ingin mengikuti apapun. Di sini meyebalkan.
Sulli: ya, apa kau mau membusuk di kamarmu? Keluarlah saat akhir pekan. Kita akan menonton film, kau mau?
Aku: Geurom, sampai ketemu ya.
Apa yang harus kuikuti? Aku tidak ingin mengikuti apapun. Aku ingin lulus secepatnya.
*****************************************************************
Kami sedang olahraga di hari berikutnya. Sebagai permulaan kami harus mengelilingi lapangan sepakbola. Aku berlari dengan malas. Dari dulu aku tidak menyukai olahraga. Sebenarnya aku sangat menyukai olahraga. Sepertinya aku sudah olahraga sejak dalam kandungan, tapi sejak saat itu aku benci olahraga. Terutama basket. Sepertinya aku lari sambil melamun saat kakiku tersandung. Aku jatuh tersungkur di pinggir lapangan. Aku segera bangun dan lari lagi, aku tidak mau dihukum lagi.
Pelajaran olahraga berjalan sangat membosankan. Kami harus melakukan beberapa latihan atletik. Kami juga harus saling melemapar bola. Juga menendang bola ke arah gawang. Seseorang sedang menendang bola ke gawang saat ponselku berdering. Ada pesan gambar. Dan saat aku buka dan melihatnya, bola yang mental di mistar gawang tepat mengenai kepalaku.
Aku membuka mataku perlahan. Bau obat. Kini aku sepenuhnya sadar. Ah, sakit sekali kepalaku. Tiba-tiba aku teringat isi pesan tadi. Itu kan Kai. Dan dia bersama seorang yeoja. Tiba-tiba rasanya aku ingin menangis. Dan memang sepertinya aku menangis. Dan saat kutahu aku sudah terisak keras. Kenapa dia berbuat seperti itu? Dia benar-benar menyebalkan. Jadi itu alasan dia tidak menghubungiku selama ini? Dia juga tidak datang saat aku masuk asrama, jadi karena yeoja itu? Dasar menyebalkan! Aku benci dia! Aku kembali menangis, kali ini cukup keras sepertinya, sampai seseorang berteriak padaku,
“YA! Kenapa berisik sekali?”
Lee Dong Hae duduk di tempat tidur sebelahku. Aku menghentikan tangisku dengan masih tetap terisak. Aku memalingkan mukaku. Aku pasti jelek sekali saat menangis. Ini semua gara-gara Kai.
“Benar, kau memang jelek sekali saat menangis, maka dari itu, berhentilah menangis, kau berisik sekali,” dia kembali merebahkan diri di tempat tidur.
“Kau, kau membaca pikiranku?”
“Kau mengucapkan dengan sangat jelas, siapapun pasti mendengarnya,”
Aku diam. Sepertinya memang dari tadi aku menggerutu dan menggumam tidak jelas. Aku juga merebahkan diri di kasur. Aku mengambil ponselku dan membuka pesan tadi. Aku melihat Kai dan seorang yeoja sedang berangkulan. Siapa yeoja ini? Kemudian aku mencoba menelepon Kai. Kenapa tidak nyambung? Apa Kai sudah merencanakan ini? Kenapa dia tega sekali? Aissssshhh, jjinjja!
“Ya! Kau bisa diam tidak? Kenapa dari tadi mengomel??”
“Siapa yang mengomel? Aku dari tadi diam saja,”
“Terserah, awas saja kalau kau berisik lagi,”
“Aiiish, kau ini.. Kenapa kau ada di sini dan bukannya ikut pelajaran?”
“Bukan urusanmu!”
Huh dasar menyebalkan. Aku saja yang kembali ke kelas. Sepertinya aku sudah baik-baik saja. Hatiku yang tidak baik-baik saja. Aku sudah turun dari tempat tidur dan memakai sepatuku saat seorang yang berpakaian dokter masuk. Sepertinya dia seorang namja yang tampan. Aku tersenyum padanya.
“Kau sudah merasa baikan?”
“Ne, gwaenchana, khamsahamnida,” aku membungkuk sebentar.
“Mungkin beberapa hari ini kau akan sering merasa pusing, tapi itu wajar, akan hilang dengan sendirinya nanti, kau mau kembali ke kelas?”
“Oh, ne, aku akan kembali ke kelas,”
“Kalau begitu, ajaklah seseorang juga, sepertinya dia akan menempel dengan tempat tidur kalau lebih lama disana,”
“Ne?” aku bingung dengan ucapan dokter itu.
Bukannya menjawabku dokter itu menuju ke tempat tidur Dong Hae dan memukul keras kepala Dong Hae. Dong Hae terbangun dan duduk.
“Ya! Kau mau sampai kapan disini? Pergi sana, kembali ke kelasmu, kau pikir tempatku ini tempat penginapan? Ga!”
“Ya, ijinkan aku disini sebentar lagi,”
“Kau ini, anak nakal, kembali ke kelasmu,” dokter itu memukul kepala Dong Hae lagi.
Akhirnya Dong Hae beranjak dari tempat tidur.
“Kau, pastikan dia kembali ke kelasnya,”
Aku mengangguk dan mengikuti Dong Hae yang telah lebih dulu keluar dari ruang kesehatan.
“Ya, Dong Hae-ssi, kenapa kau di klinik?”
“Sudah kubilag itu bukan urusanmu, kau ribut sekali,” tiba-tiba dia membelok ke arah pintu keluar.
“Ya, kau mau kemana?” aku dengan reflek menarik tangannya. “Kita harus kembali ke kelas,”
“Kau saja yang kembali,” dia menghempaskan tanganku dan pergi begitu saja.
Dia ini kenapa sih? Aneh sekali. Ah, aku harus segera kembali ke kelas.
*****************************************************************
Sudah hampir dua minggu aku di sekolah. Aku belum punya teman sampai saat ini. Aku terus-terusan menelepon Sulli dan Henry. Besok hari sabtu. Aku berencana keluar dan menemui Kai. Kenapa dia susah sekali dihubugi? Sulli dan Henry juga tidak mendengar kabar darinya. Aku juga menjalani hari penuh kebosanan. Beberapa kali aku masih menerima hukuman. Kenapa aku sering sekali dihukum?
“Itu karena kau bodoh,”
Aku menoleh, itu Dong hae.
“Wmo ya go? Siapa yang bodoh?”
“Tentu saja kau, karena kau bodoh, kau sering kali dihukum,”
“Itu bukan urusanmu,”
Aku kembali menatap tabletku. Tiba-tiba ada fotoku dan Kai. Aku kembali teringat kesedihanku. Tanpa sadar aku terus menatap foto kami berdua.
“Itu namjachingumu? Jelek sekali dia,”
“Sudah kubilang bukan urusanmu, kenapa kau ribut sekali?”
“Kau ini,”
Dia memukul jidatku keras sekali.
“AAAA, apaaa!!! Kau ini apa-apaan?” aku ingin membalas, tapi tiba-tiba ponselku jatuh, mental beberapa kali di tangga, dan masuk selokan. “Ya, kau lihat, semua ini gara-gara kau,”
Aku berlari menuruni tangga dan membungkuk di atas selokan. Selokan itu tertutup jeruji besi. Aku memasukkan jari-jari ku ke sela-sela jeruji, tapi tidak bisa. Aku berusaha mengangkat besi itu tapi tentu saja aku tidak kuat. Bagaimana ini??
“Ya, kau tidak mau membantuku? Ini semua kan gara-gara kau, pallee!!!”
“Itu bukan urusanku!”
Mwo ya? Aku menghampirinya dan memukul kepalanya keras.
“Ya, apa yang kau lakukan?”
“Cepat ambilkan ponselku! Atau aku akan memukulmu lebih keras lagi,”
“Coba saja kalau kau berani,”
Aku memukul kepalanya lagi.
“Ya!”
“Mwo????”
Dia mendengus dan berlari menuruni tangga, dia segera mengangkat besi itu tapi sepertinya besi itu tidak bisa diangkat. Haisshh, bagaimana ini?
“Bisa tidak?”
“Kau tidak lihat? Besi ini sudah menempel pada pondasinya. Sudahlah, lupakan saja!”
“Enak saja kau ini, itu ponselku satu-satunya, pokoknya kau harus bertanggung jawab! Aku tidak mau tahu,”
“Mwo? Aku tidak mau!”
“Aiiisshh, kau ini, jjinnjja!”
Aku berusaha mencari sesuatu untuk mengambil ponselku. Aku melihat ranting dan mengambilnya, aku mencari satu lagi agar bisa kujadikan sebagai sumpit. Aku mencoba untuk mengambil ponselku pelan-pelan. Setelah beberapa kali gagal akhirnya aku bisa mengambil ponselku. Untung saja ponsel jaman sekarang sudah sangat tipis. aku melihat ponselku dan ada beberapa goresan di layarnya. Aku mengambil tasku dan segera pergi meninggalkan Dong Hae. Dia menyebalkan.
Hari ini aku bersiap keluar. Aku harus membetulkan ponselku. Semalam layarnya mengeluarkan bercak-bercak aneh, pasti karena benturan. Aku juga harus menemui Kai. Aku menunggu bis di halte depan sekolahku. Aku mencoba menelepon Sulli dan mengajaknya keluar. Tapi dia ada latihan cheerleader sampai sore. Henry juga ada latihan sepak bola. Akhirnya aku pergi sendirian.
Aku dipusat perbelanjaan sekarang. Aku akan membetulkan ponselku dan segera ke rumah Kai. Ramai sekali di sini. Dan kenapa foto Dong Hae ada di mana-mana? Dan saat kulihat antrean, aku tahu, sepertinya ada acara tanda tangan untuk fans. Berarti dia juga di sini? Aku harus cepat-cepat pergi, tapi aku juga ingin dapat tanda tangannya. Tapi bagaimana ini? Dia bisa mengenaliku. Ah, aku punya kacamata hitam di tasku. Aku segera memakainya dan masuk dalam antrean. Akhirnya seorang lagi giliranku. Saat orang di depanku berbalik dan aku melihat Kai.
“Kai, kau di sini?” aku melepas kacamataku.
“Ji Hyun-aa, apa yang kau lakukan disini?” tiba-tiba dia memandang sekelilingnya.
“Seharusnya aku yang bertanya, kau kemana saja? Ponselmu tidak bisa dihubungi,”
“Ponselku hilang, aku akan menghubungimu setelah beberapa saat, tapi aku sibuk sekali, miahae,”
“Gwaenchana, sekarang aku sudah bertemu kau, aku lega, mau pergi bersama?”
“Ah, mianhae, aku harus pergi,”
Kai berlari ke arah kerumunan orang-orang. Aku berusaha mengejarnya. Tapi tidak berhasil. Kemana dia? Aku mencoba mencarinya. Tapi setelah berputar-putar, aku tidak bisa menemukannya. Aku sampai di depan tempat aku meninggalkan ponselku. Aku bertanya apa sudah selesai an ternyata sudah. Aku membayar dan segera pergi untuk mengejar Kai. Aku berputas-putar di dalam pusat perbelanjaan. Aku naik ke lantai 4 kembali lagi turun ke lantai 1, tapi aku tetap tidak menemukan Kai. Aku hampir putus asa saat aku melihat Kai dan yeoja itu di tempat makan. Dan mereka bergandengan tangan.
Apa yang harus kulakukan? Dan pada saat yang bersamaan Kai melihat padaku dan dia hanya terdiam, menatapku kosong, dan berlalu. Apa ini? Apa yang dia lakukan? Kenapa dia melakukan ini? Tanpa kusadari air mataku mengalir. Aku menangis. Entah kenapa aku menangis. Semua orang melihat ke arahku, aku tidak ingin menangis, tapi air mataku terus mengalir. Aku ingin beranjak da berlari, tapi badanku kaku. Akhirnya aku hanya menangis terisak sampai seseorang tiba-tiba memelukku.
“Ya! Kenapa menangis di tempat seperti ini?”
“Nugu ya?”
Dia tidak menjawab. Hanya membelai rambutku pelan. Entah berapa lama kami seperti itu. Yang pasti aku menangis lama sekali. Entah kenapa aku ingin terus menangis di pelukan orang ini. Begitu nyaman dan menenangkan.
“Ya, kau mau menangis sampai kapan?”
“Ah, mianhae, kau bisa melepasku sekarang,”
Dan Lee Dong Hae berdiri tepat di hadapanku.
 

Popo.. The Kite Runner Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea