Tampilkan postingan dengan label Isi Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Isi Hati. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Februari 2014

Dengarkan Curhatkuuuuuu.... (judulnya alay)

Diposting oleh Popo... The Kite Runner di 18.34 0 komentar
Allah sayang…
Aku nulis ini nggak bermaksud apa-apa Ya Allah, aku cuman pengen ngobrol sama Engkau Ya Allah…
Mungkin kayak anak kecil aku nulis-nulis beginian, tapi aku emang masih kecil sih kalo menurut aku sendiri. Jelas aku masih kecil, aku belum bisa mikir dewasa, aku belum bisa membeli apapun yang kuinginkan dan apapun yang kubutuhkan sendiri, aku masih minta orang tua, aku masih sering bergantung pada orang lain, aku masih sering nangis kalo ada  masalah ato kalo ada seseorang yang jahat sama aku, aku juga masih gampang marah kalo ada orang lain yang salah sama aku, aku masih sering ngelakuin kesalahan, maasih belum bisa jujur sama diri sendiri atopun sama orang lain, aku masih takut sama banyak hal, aku belum bisa menjadi diri aku sendiri. Dan semua itu adalah apa yang dilakukan oleh anak kecil. Dan mungkin aku salah satu anak kecil itu. Jadi anggap aja aku memang masih anak kecil, jadi nggak ada salahnya aku nulis-nulis kayak gini. Nggak papa ya Ya Allah??
Walo aku nulis-nulis kayak gini, sebenernya aku juga nggak tahu apa yang mau aku tulis. Terlalu banyak yang jadi uneg-uneg dan keluhanku. Ya, keluhan, aku memang terlalu banyak mengeluh Ya Allah. Sangat amat sering sekali mengeluh. Bahkan bisa dikatakan aku hidup dalam keluhanku sendiri. Sebenernya aku sangat tidak nyaman hidup seperti itu. Itu benar-benar melelahkan. Bayangkan hidup, dan di setiap waktu, setiap saat yang keluar dari mulut adalah keluhan, dan keluhan nggak pernah menjadi sesuatu yang bagus, disebut keluhan karena tidak ada hal yang baik. Aku mengeluh karena pendek, aku mengeluh karena kulitku nggak putih, aku mengeluh karena rambutku nggak lurus dan nggak hitam mengkilat, aku mengeluh karena gajiku kecil, aku mengeluh karena nggak punya motor, aku mengeluh karena suaraku nggak bagus, aku mengeluh karena nggak punya pacar, aku mengeluh karena rumahku nggak bagus, aku mengeluh karena nggak bisa jalan-jalan keluar negeri, aku mengeluh karena banyak temenku yang ngelupain aku, aku mengeluh kenapa aku nggak jadi orang kaya, aku mengeluh kenapa aku nggak seberuntung orang-orang yang kaya dan terkenal itu, dan masih banyak lagi yang ku keluhkan. Bisa dilihat, keluhanku bisa saja menjadi sebuah buku tersendiri. 
Aku juga menginginkan banyak hal, aku ingin punya tubuh tinggi, aku ingin punya banyak uang, aku ingin punya banyak temen, aku ingin rumah mewah, aku ingin pekerjaan dengan gaji 10 juta perjam, aku ingin bisa keliling dunia, aku ingin jadi penulis terkenal, aku ingin jadi seorang dacer yang handal, aku ingin bisa ngelakuin apa aja tanpa harus khawatir karena gue nggak punya uang.
Tapi yang terjadi sama kau sekarang, berbalik, berbeda 180 derajat, jauuuuuh, bahkan sangat amat jauh dari yang aku inginkan. Aku harus berfikir ribuan kali untuk membeli sesuatu. “Kalo gue beli ini, terus ntar ongkos kerja gue gimana?” “Kalo gue bayar ini, ntar gue nggak punya tabungan??” “Kalo gue beli ini sekarang, terus selanjutnya gue bayar pake apa?” Hal-hal itulah yang menjadi pikiran aku sekarang. Aku ngerasa belum cukup bekal, bahkan aku sama sekali belum punya bekal untuk menatap kehidupan aku selanjutnya. Dari segi umur, aku udah bukan anak-anak lagi, aku punya banyak hal untuk dihadapi, aku punya banyak rintangan untuk dilalui, aku punya banyak hal yang kubutuhkan. Tapi aku sama sekali belum dewasa, aku masih sanga kekanak-kanakan, aku belum siap menghadapi semua ini.
Aku mungkin telah mempersiapkan batinku, mentalku untuk sesuatu tingkat kehidupan yang lebih tinggi, yang membuatku – ato lebih tepatnya – memaksaku untuk menghadapi kehidupan yang sebenarnya. Aku telah mempersiapkan itu semua, bahkan dengan sangat matang. Tapi ternyata kehidupan menuntutku lebih. Nggak hanya sekedar mental yang kuat, tapi nggak tahan lama. Yang aku butuhkan lebih dari itu. Aku harus bisa bertahan lama. Aku harus biasa terus bertahan. Nggak bisa dengan hanya menangis dan merengek lalu kudapatkan semuanya, nggak, bukan itu caranya. Itu nggak cukup sama sekali. Bahkan, kalo bisa jangan pernah ada air mata yang keluar. Aku membutuhkan lebih banyak air mata dan kerja keras. Ya, kerja keras. Aku harus bekerja dengan keras.
Kerja keras sangat dibutuhkan. Aku pernah mengalami beberapa hal ketika aku ingin mendapatkan sesuatu aku harus bekerja begitu keras, itupun yang kudapat nggak sesuai dengan apa yang sebenernya aku harapin. Awalnya aku mengumpat, aku bersumpah serapah, aku nggak bisa nerima semua ini. apa-apan ini?? Apa hanya ini aja yang kudapatkan setelah kerja kerasku?? Harus sekeras apa lagi aku bekerja? Apa aku harus sekuat baja? Tapi aku bukan Iron Man, bisa dibuktikan aku bukan Iron Man, pertama aku bukan man, dan yang kedua, kena setrika dikit aja kulitku melepuh, dipastikan aku bukan Iron Man. Jadi aku nggak bisa bekerja lebih keras lagi daripada baja. Aku juga bukan Superman, dengan alasan yang sama, aku bukan man, dan aku nggak berasal dari Planet Krypton, terlebih lagi aku nggak  hidup di sebuah peternakan. Mana bisa aku lebih keras dari kedua superhero itu.
Allah sayang..
Aku tahu, Kau ciptakan aku bukan untuk jadi Iron Man atopun Superman, tapi mungkin aku bisa jadi Iron Woman, terlepas dari “man” itu sendiri, ato mungkin kalo itu terlalu impor, aku kan bisa jadi temennya Bima (karena kupikir-pikir nggak ada superhero lokal yang cewek, jadi mungkin aku bisa jadi temennya superhero yang cowok, aku sempat kepikiran jadi temennya Wiro Sableng, tapi aku nggak mau berakhir di RSJ, entah untuk alasan apa). Dengan jadi seorang yang kuat, mungkin aku bisa dengan mudah menghadapi semua ini. Aku bakal ngeluarin berbagai jurus yang bisa menghalau semua pengganggu dalam hidup gue. Mungkin pake kekuatan bulan, pake kamehame, pake mantra patronus, ato pake lightstick (sampe gue inget kalo lightstick itu kalo buat nonton konser boyband). Tapi apapun itu, paling nggak bisa menjadi senjata buat naklukin musuh-musuh yang ada di depanku.
Tapi aku sadar, aku bukan superhero apapun. Dari manapun aku bukan superhero. Dari semua alasan itu, yang paling utama adalah, namaku bukan hero. Mungkin kalo namaku hero, paling nggak, aku bisa jadi pahlawan, walo mungkin nggak super, tapi tetep aja, aku adalah hero. Sayangnya, namaku bukan hero, namaku nggak ada unsur ke-hero-annya. Dan itu semakin bikin aku nggak mirip superhero. Aku mungkin pernah mimpi jadi superhero, aku pernah mimpi kalo aku adalah Sailor Moon, tapi cuman mentok mirip doang cepol rambutnya. Aku juga pernah mimpi jadi penyihir kayak Harry Potter, japi ujungnya cuman bisa motret pake hape. Akhirnya aku sadar, aku emang bukan superhero.
Dan dengan kesadaran bahwa aku bukan superhero, aku pun pernah hampir menyerah. Bahkan aku udah nyerah. Saat itu aku berfikir, aku udah nggak punya harapan lagi. Semua yang kuinginkan nggak pernah jadi kenyataan. Mungkin beberapa ada yang hampir menjadi nyata, tapi ketika itu, aku nggak pernah merasa itu cukup, jadi aku anggap itu adalah sebuah kegagalan. Aku merasa ini semua nggak adil. Ya Allah, maaf ya sebelumnya, saat aku berada pada titik ini, aku selalu merasa semua ini nggak adil, aku merasa Engkau nggak fair sama aku. Aku udah berusaha keras, tapi yang kuterima nggak sebanding dengan apa yang kulakukan selama ini. Nggak sekali dua kali, tapi sering aku merasakan hal ini Ya Allah. Mungkin apa yang menurutku keras ini, masih belum cukup keras bagiMu, jadi apakah Kau menuntutku lebih? Tapi harus seperti apa lagi aku berusaha??
Ato mungkin ini semua emang salahku, aku mungkin terlalu banyak bicara, aku terlalu banyak protes, aku terlalu bayak komplain. Mungkin aku udah jadi kayak mahasiswa-mahasiswa itu, apa-apa dikit protes, apa-apa dikit didemoin, mungkin aku sama kayak mereka. Suka ambil ribetnya, suka ambil ramenya. Minta ini nggak diturutin, marah. Minta itu nggak diturutin, protes. Minta yang disana nggak diturutin, ngambek. Tapi mungkin aku nggak bisa demo padaMu, karena kalo aku bener-bener ngelakuin itu, aku berarti sudah benaer-bener sinting. (kebayang aja aku bawa-bawa spanduk tulisannya “kabulkan doa saya, kalau tidak dikabulkan saya akan mogok makan” – lalu siapa yang peduli sama itu??)
Aku emang kebanyakan minta, kebanyakan nuntut, tapi emang cuman itu yang bisa aku lakuin Ya Allah. Aku ngerasa aku uudah cukup keras berusaha, ini itu, berdoa setiap hari, maka aku hanya bisa pasrah meminta kepadaMu, menyerahkan semua ini hanya padaMu. Dan aku akan diam. Seperti yang udah aku bilang, aku terlalu banyak bicara dan menuntut, dan ternyata itu hanya membuat aku capek, lelah dengan semua yang nggak aku punya.
Aku nggak harus jadi superhero, jadi yang seperti baja, aku cuman butuh diam. Menerima. Mungkin dengan diam aku akan belajar bersyukur, mungkin dengan diam aku akan belajar bersabar, dan mungkin banyak hal lainnya. Mungkin dengan diam, aku akan mengumpulkan lebih banyak kekuatan, bukan untuk melawanMu (aku bahkan nggak pernah berfikir aku akan bisa melawanMu), tapi biar aku bisa bekerja, berusaha lebih keras lagi, sampe aku terlihat cukup kuat dihadapanMu. Sekali lagi, kuat bukan untuk melawanMu, hanya untuk bekerja lebih keras lagi agar apa yang kulakukan bisa sesuai dengan apa yang Kau inginkan. Jadi, aku nggak akan nuntut apa-apa, aku nggak akan kuat untuk menuntutMu, aku hanya akan diam, sambil terus berharap, berdoa, dan perlahan mengumpulkan kekuatan untuk bisa terus bertahan lama dan bekerja jauh lebih keras lagi, untuk bisa mendapatkan sesuatu yang pantas.
Allah sayang..
Aku masih terlalu banyak bicara, aku masih terus berbicara padaMu, padahal aku hanya akan diam. Jadi maafkan aku yang belum bisa memenuhi setiap perkataanku. Aku terus memohon kepadaMu, meminta kepadaMu, berdoa kepadaMu, dan menyerahkan diriku sepenuhnya kepadaMu. Jaga aku, beri aku selalu kekuatan, beri aku selalu kesabaran, beri aku selalu kebesaranMu untuk terus selalu istiqomah menjadi hambaMu yang selalu tunduk beriman dan bertaqwa kepadaMu. Ketakutanku hanyalah kepadaMu, akan kemarahanMu, ketakutanku adalah ketika Kau tinggalkan aku. Mulai saat ini aku akan diam, kuserahkan semua hanya kepadaMu, dan bimbinglah aku menuju kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Baiklah Allah sayang, sebenernya ini semua nggak perlu panjang lebar kutulis begini, Kau tahu segalanya, tapi aku hanya ingin menuliskan semua ini. pengennya sih bisa jadi buku, dan semoga bener-bener bisa. Yang ini juga doa lho, mohon dikabulkan…

*ditulis setelah makan jagung rebus*

Senin, 08 April 2013

Sebuah Tulisan Memotivasi Diri Sendiri

Diposting oleh Popo... The Kite Runner di 06.27 0 komentar
*cek sound*

Hari ini gue memutuska untuk terus menulis, apapun itu. Gue selalu berharap gue bisa jadi penulis yang hebat, yang bisa bikin buku, bikin novel, bikin LKS, bikin buku cetak buat ana SD, eh yang dua terkahir itu kalo udah kepepet aja deng, hehe. Gue pengen bisa kayak penulis-penulis hebat yang ada di luaran sana (termasuk luang angkasa juga, ya kalo ada penulis dari luar angkasa sih...). Agatha Christie, J.R.L. Tolkien, J.K. Rowling, Sir Arthur Conan Doyle, Roald Dahl, C. S. Lewis, walah masih buanyak lagi penulis-penulis hebat yang bener-bener tulisannya layak buat diapresiasi. Belum lagi yang dari negeri sendiri, salah satung Dee, tulisan dia itu unik banget. 
Nah, gue pengen kayak mereka itu. Tapi selama ini gue cuma ngalamun, ngayal, apa lagi, mimpi, kalo gue pengen jadi penulis, tapi gue sama sekali nggak pernah mau mengawali niat buat nulis. Sebenernya banyak yang udah gue tulis, status, tweet, status, tweet, 15 status perhari, 30 tweet per hari, banyak kan? Lho, itu termasuk menuils lho ya, nulis up date an.. Haha.. 
Ini sebenernya mau unulis apaan sih gue? Jadi bingung sendiri.. 
Gue sebenernya suka nulis, tapi nggak tahu ya yang namanya ide itu suka seenaknya sendiri. Jadi ni ya kalo gue udah duduk manis di depan laptop dengan segala keinginan gue buat nulis, ide tuh nggak pernah mau yang namanya dateng ke otak gue. Numpang lewat aja kagak mau dia. Udah sampe merem melek nyari ide, segala posisi nulis udah gue coba, sampe ketik REG spasi IDE juga udah, tapi tetep aja tuh ide kagak nongol-nongol. Giliran gue lagi ngapain gitu, eh si ide asal nylonong aja gitu masuk ke otak gue. Iya kalo pas gue kebetulan deket sama sepasukan alat tulis menulis, lha kalo gue pas suatu saat deketnya sama sepasukan  mahasiswa mau demo, apa iya gue tiba-tiba nepuk pundak salah satu mahasiswa itu sambil ngomon, "Mas, boleh pinjem bolpen sama kertasnya? Tiba-tiba saya dapet ide buat tulsan saya nih mas," Iya kalo masnya itu kebetulan bawa, lha kalo yang ada masnya tiba-tiba brubah jadi Godzilla trus gue yang di demo gimana? Gue juga kan yang susah. Tapi emang gimana ya rasanya di demo? Itu brati kan kayak kita di labrak sama orang yang nggak setuju sama kita kan? Kenapa jadi mikir itu?? 
Ah, gue emang kebanyakan basa-basi nih, gue tah banget gimana kalo gue udah bertele-tele, kebanyakan selingan, malah jadi nggak fokus. Ini kenapa jadi bahas aib gue? Ah, gue emang comel banget... Sampe mana tadi?? Tuh kaan ilang lagi ide gue buat nulis, salah siapa coba kalo udah gini? Siapa yang mau tanggung jawab kalo gue udah kehilangan ide kayak gini? Nggak ada kan? Emang yang namanya ide itu misteri dunia akhirat segala abad sepanjang tata surya (kayak pernah denger nih..), susah buat diukurnya. Gue kalo udah keabisan ide pasti cuma bisa, close Ms Word, Start, Shut Down.. 3 minggu kemudian baru keinget pas buka Ms Word lagi kalo lagi nulis... Jiah, kalo gini mah kapan tulisan-tulisan gue kelar? Sampe Indonesia bisa masuk World Cup juga kagak pernah selesai tulisan-tulisan gue. Nasib.. Nasib.. Semua ini emang gara-gara si ide itu, udah sering gue di PHP sama dia, tapi nggak tahu kenapa masih aja gue berharap sama dia, cinta gue ke dia emang nggak akan pernah padam.. *jadi Sandy Sandoro*
Tapi.. Kenapa gue jadi nyalahin ide ya? Sebenernya si ide itu nggak salah-salah amat sih, dia kan masih dalam masa pertumbuhan, masih labil, jadi suka galau, suka pergi ddateng nggak jelas, trus semua ini gara-gara apa dong? Kalo gue urut-urut ini, usut punya usut, semua ini emang berawal dari diri gue sendiri.. Gue aja kaget kok bisa semua ini berasal dari diri gue sendiri, kenapa? Kenapa? Kenapa gue yang disalahin? Apa salah gue? Apa? Gue kan masih SMP... Apa yang bisa dilakuin anak SMP kayak gue? Gue nggak bisa apa-apa, gue nggak berdaya.... (Ini menjadi bukti kalo gue kebanyakan nonton sinetron yang banyak adegan penganiayaannya, biasanya sinetronnya diawali dengan seorang anak yang dipungut, 78 episode kemudian dia menerima warisan dari ayah angkatnya yang disertai teriakan dari ibu angkat yang nggak terima.. Hiks.. Tragis...) Itulah kenapa gue ngak pernah bisa kreatif, nontonnya sinetron bawang bombay mulu sih... 
Tuh kan, ngarang lagi.. Sampe mana coba tadi gue nulisnya... inget-inget dulu ya...
2 jam kemudian... 
Bentar belum inget...
8 jam kemudian...
Masih belum inget...
3 hari kemudian...
Belum juga inget..
Lempar bakiak!!!
Oke gue inget (nulis dengan muka ada bekas bakiak), jadi ini bukan karena ide, ini karena gue, gue yang memulai semua ini, gue,... Sekali lagi, GUE! Gue nggak pernah mau memotivasi diri gue buat nulis, gue nggak pernah meluruska niat (karena emang belum ada yang nyediain jasa rebonding niat) jadi ya gini ini, niat gue masih curly dan sedikit bergelombang. Di jaman sekarang ini mau nulis itu jadi hal yang gampang banget. Komputer, laptop, netbook, semua serba canggih. Mau nulis di mana aja, share ke mana aja, semua udah tinggal klik klik dan beres. Nggak kayak dulu yang musti capeknya berkali-kali, capek beli bolpen, beli kertas, masih capek nulis berlembar-lembar, belum kalo salah mesti ngulang. Lha sekaranng kurang apa coba? Nulis tinggal negtik, share tinggal cari web yang pas, gampil gampil gampil gampil!! Tapi gue, sampe sekarang masih belum bisa menghasilkan apa-apa. Tulisan (yang masih belum kelar) gue masih tersimpan (kurang) rapi di folder-folder yang ada di netbook gue yang setia, belum kepikiran mau dibawa kemana.. 
Jadi mulai sekarang gue berusaha untuk bisa menjadikan diri gue alat tulis yang bisa menghasilkan tulisan-tulisan, walalu mungkin kurang berkualitas, tapi seenggak-enggaknya bermakna buat diri gue sendiri (dan semoga juga buat orang lain..). Gue akan terus menulis, apapun itu, bahkan menulis resep pun mungkin kelak akan gue lakuin, karena gue suka, gue suka nulis, dan gue suka itu. Mungkin nggak ada orang yang mau baca tulisan gue, terbukti dari banyak tulisan gue yang gue share, cuma satu dua yang baca, itupun dengan ancaman dan paksaan, tapi nggak papa, gue akan menjadi pembaca setia tulisan gue, dan semoga akan ada pengikut-pengikutnya keak entah brapa ribu tahu cahaya lagi... 
Gue akan terus menulis.. Terutama menulis pengeluaran gue per bulan, dan juga menuliskan mimpi-mimpi gue di tembok kamar gue, biar kalo gue bangun, gue nggak bakalan lupa apa impian gue, dan mungkin aja gue bakalan bisa mewujudkan semua impian gue itu.. 
Cukup sekian dan terima kasih, sampai jumpa di tulisan berikutnya.. *gaya ala MC tahun 90an*


Rabu, 08 Februari 2012

Jati Diri

Diposting oleh Popo... The Kite Runner di 20.16 0 komentar
Gue lagi kehilangan jati diri nih… Lo bayangin aja, masa gue tadi pagi disangkain anak SMP ama bapak-bapak. ANAK SMP. Bayangin aja ANAK SMP.
Dalem.
Kemaren lebih parah lagi, pas gue nganter temen gue ke sebuah SMP, ada seorang bapak guru yang tiba-tiba nanya gue, “yang sebelah sini dari SD mana ya?” dan “sebelah sini” mengindikasikan gue.
Makjleb.

Uda kayak gitu, kemaren, KEMAREN, bapak-bapak di kampus gue, DI KAMPUS GUE, dengan entengnya ngomong gini, bentar, setting situasi dulu..
Pagi itu gue sedang berjalan dengan segala keimutan gue sambil nenteng laptop. Gue masuk fakultas gue, lalu bapak-bapak yang sedang berdebat itu blang..
Bapak-bapak      : “dek sebelah sana,”
Gue                       : “eh” *bengong dengan imut*
Bapak-bapak      : “iya dek sebelah sana,”
Gue                       : *gue mikir, pak rector ama jajarannya ge inspeksi ato jajan gitu* “maksudnya pak?”
Bapak-bapak      : “iya dek, SMP itu sebelah sana, sebelah SMA, kalo di sini buat anak kuliahan,” *ketawa jahat sekali*
Gue                       : “…………………………………………”

Dalem.

Kebukti kan? Bener-bener membuktikan kalo gue kehilangan jati diri gue. SEBAGAI MAHASISWA GUE MERASA GAGAL. GAGAL TOTAL.

Sebagai mahasiswa yang dianggap anak ES-EM-PE rasanya tuhkayak seorang mahasiswa yang dianggap anak ES-EM-PE.

Lalu gue harus gimana nih?

Gue ini udah kuliah. Anak kuliahan cuy. Terlihat sangat keren bukan? Tapi pas dikira anak SD ato anak SMP, hati gue sakit, tertusuk-tusuk gitu. Rasanya tuh, sakit, kayak tertusuk-tusuk gitu.
Dan sekarang gue bertanya. Siapa sebenernya gue? Anak SD, anak SMP, anak kuliahan, ato anaknya presiden? (berharap yang terakhir sih gue..)
Biarlah, mereka aja yang nggak tau siapa sebenenya gue. Lha gue aja nggak tau gue ini siapa…
Biarlah waktu yang menjawab.

Bye.

Popo, masih SMP.

Selasa, 07 Februari 2012

Heeemmmm

Diposting oleh Popo... The Kite Runner di 20.15 0 komentar
Gue pengen nulis ah, ya pengen aja sih. Yaudah deh gue ngaku, gue pengen terkenal (pengakuan dosa macam apa ini?) Bentar, sebelum pada protes gue jelasin dulu (memulai pembelaan diri)
Gue pengen jadi penulis. Gue sering tau, liat, baca banyak orang terkenal gara-gara tulisan mereka-berarti sebenernya mereka nggak terkenal dong? Kan yang terkenal tulisan mereka.. Absurd- Mereka bener-bener terkenal, nggak tanggung-tanggung, J. K. Rowling, bahkan jadi wanita terkaya di Inggris ngalahin kanjeng Ratu Elizabeth. Liat noh si mutun Raditya Dika, lo baca tulisannya juga bakalan guling-guling di rerumputan sambil ngakak darah, tapi entah kenapa gue pun ngefans sama dia, padahal tu buku Cuma cerita-cerita jalan kehidupan dia yang yah sebenernya nggak jelas dia hidup di dunia mana.
Tuh, liat kan lo? Mereka terkenal. TERKENAL. Semua orang tau mereka. Sama sih, semua orang juga tau siapa gue, tapi gue kan nggak belum terkenal. NGGAK  BELUM TERKENAL. Dan lo semua tau, itu beda. BEDA.
Sebenernya tulisan gue udah banyak. Gue udah nulis sejak gue masih dalam kandungan nyokap gue (sebenernya ngak juga sih, di perut nyokap gue nggak ada pensil ama kertas) yaudah tepatnya pas gue masih kecil-ya walopun gue sampe sekarang tetep kecil- nggak tau juga tepatnya kapan, tapi gue sepertinya terlahir untuk menulis (sumpah, ni kata-kata keren banget)
Banget.
Gue pengen terkenal karena tulisan gue. Gue rasa sih gue nggak kalah ama penulis-penulis terkenal di luar sana, Cuma belum saatnya aja.
Gue bisa mulai dari blog gue. Tapi blog gue aja nggak ada yang baca. Gue doang yang baca (dan temen-temen gue yang gue paksa suruh baca, nggak jahat ka?)
Terus gimana gue bisa terkenal?
Masih terus dipikirin caranya.
Yang penting nulis dulu.
Sapa tau terkenal.
Kelak.
Sapa tau.
Cao. 
 

Popo.. The Kite Runner Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea