Kamis, 24 Mei 2012

Secret Admirer

Diposting oleh Popo... The Kite Runner di 16.32 0 komentar


Apa yang membuat seseorang menjadi seorang secret admirer? Kenapa dia –yang sedang berjatuh cinta- nggak bilang aja ke orang yang disukainya dan urusan kelar. Tapi masalah cinta nggak segampang membalikkan telapak tangan, cinta, dimana-mana nggak pernah menjadi gampang, kecuali di sinetron, ada cowok nabrak cewek, bukannya ditolongin, malah pandang-pandangan, jatuh cinta lalu nikah. Kalo emang semudah itu nggak akan ada makhluk bernama jomblo di dunia ini. Dan gue, mungkin udah kawin cerai ratusan kali. Tapi dunia bukan sinetron, it’s a real world man, yang lo hadapin itu kenyataan bukan kamera atau arahan sutradara.

Pada akhirnya, karena tidak merasa cukup mampu untuk menghadapi orang-orang yang mereka sukai, mereka –yang sedang berjatuh cinta- hanya bisa memandang orang yang mereka sukai dari balik punggung mereka. Hal ini menjadi hal yang menyulitkan buat para secret admirer, mengagumi itu tidak mudah. Seperti yang semua orang tau, mencintai butuh perjuangan dan keberanian. Mereka memenuhi catatan dan buku-buku mereka dengan nama orang yang mereka kagumi. Menyebutka nama orang yang mereka sukai dimanapun dan kapanpun, dan membayangkan wajahnya sesering apapun.  
Secret admirer bisa disebut juga sebagai seseorang yang jatuh cinta sendirian. mereka mencintai, mengagumi tanpa mendapat balasan dari yang mereka cintai. Menjadi secret admirer nggak pernah mudah. Menahan perasaan sangat menjadi beban paling berat seorang secret admirer. Tapi menjadi seorang secret admirer memberi kesempatan untuk mengetahui lebih banyak tentang orang yang mereka kagumi. Mereka akan tahu apa yang menjadi kesukaan orang yang mereka sukai, apa yang ditakuti, bahkan jadwal mereka, para secret admirer itu tahu, karena hanya hal itulah yang bisa mereka lakukan. Mencari tahu, dan itu membuat para secret admirer bahagia. Yang namanya mencintai diam-diam, apapun tindakan kecilnya bakal berarti buat para secret admirer. Bakal terkenang, sampe susah tidur gara-gara kepikiran setiap malam. Ini dia yang bisa bikin secret admirer senyum-senyum sendiri.

Nggak perlu malu buat lo-lo yang jadi secret admirer. Ternyata, mencintai diam-diam bisa dinikmati. Nggak harus nangis-nangisan tiap malem karena besarnya cinta yang tak kunjung tertampung dan tersampaikan. Karena dengan menjadi seorang secret admirer kita bisa menjadi seseorang yang kreatif dan menciptakan karya. Dengan cinta yang terpendam, seorang secret admirer pasti akan butuh penyalur. Karena rasa cinta itu nggak bisa disalurkan kepada orang yang bersangkutan, makanya bisa disalurkan ke yang lain, ke kucing ato kambing misalnya, eh bukan deng, jadi misalnya bisa disalurkan menjadi karya. Mereka akan bisa bikin puisi, bikin postingan blog, kerajinan tangan, lagu, foto, bahkan film yang mengekspresikan rasa cinta merea yang terpendam itu.
Selain itu, mencintai diam-diam berarti siap menerima risiko apa saja, termasuk cinta yang nggak berbalas. Mencintai diam-diam berarti belum mendapatkan jawaban apa yang para secret admirer rasa. Dengan tetap memendam cinta, itu bisa membuktikan kalo cinta yang mereka punya itu tulus dan nggak ngarepin balesan. Tapi sukur-sukur kalo dibales.
Jaman sekarang banyak orang yang mudah ke lain hati. Mencintai diam-diam bisa jadi bukti kesetiaan kamu. Belum jadi pacar aja kamu udah setia cinta sama dia, walau dalam hati, apalagi udah jadi pacar nanti.
Ternyata, mencintai diam-diam itu indah banget yaa. 

*lanjut senyum-senyum sendiri.

popo. 

Selasa, 08 Mei 2012

Marvel: The Avengers

Diposting oleh Popo... The Kite Runner di 20.38 0 komentar



Udah pada nonton The Avengers, belum? Sebelum nonton, ada beberapa info yang perlu loe semua ketahui. Meski gue bukan salah satu anggota dari Avengers,  nih gue bagi-bagi info menarik dari The Avenger. Apa aja sih? Simak ya, kalo nggak, Hulk bisa ngamuk ntar... :p


Avengers itu sebuah kelompok yang dibentuk S.H.I.E.L.D. (Supreme Headquarters International Espionage Law-enforcement Division, kemudian pada 1991 diganti jadi Strategic Hazard Intervention Espionage Logistics Directorate) yang diketuai Nick Fury untuk mengamankan dunia dari segala ancaman. Jadi, Nick Fury ini punya dua tentara andalan, yaitu Black Widow (sempat muncul di film Iron Man 2) dan Hawkeye (sempat muncul di film Thor).


Nick Fury bersama S.H.I.E.L.D. merekrut jagoan-jagoan, di antaranya Iron Man, Hulk, Thor, dan Captain America untuk membentuk Avengers. Avengers disiapkan untuk terlibat dalam pertarungan yang nggak mungkin dimenangkan manusia. NYUNYU akan ngasih sedikit profil jagoan-jagoan dari The Avengers.


Disebut juga The First Avenger, karena pahlawan pertama dari Avengers, sejak Perang Dunia II. Tentara andalan dari Perang Dunia II yang tadinya merupakan tentara pecundang yang jadi kelinci percobaan penelitian penambah kekuatan, selain berbadan kuat, juga dibekali perisai keras buatan Howard Starks (ayah Tony Starks atau Iron Man). Di Film Avengers, Captain America akan menggunakan kostum baru.


Iron Man







Keturunan langsung dari ahli pembuat senjata Howard Starks, Tony Starks, meneruskan perjuangan ayahnya membuat inovasi senjata canggih. Tony menciptakan baju perang dengan senjata paling mutakhir-yang kemudian dia gunakan sendiri- dan menjadi Iron Man. Menariknya, Iron Man sempat diragukan tim penilai dari S.H.I.E.L.D., Black Widow yang menyamar jadi rekan kerja Tony untuk tidak memasukkan Iron Man ke Avengers karena atitutnya yang menyebalkan.


Hulk




Bruce Banner yang terkena radiasi sinar gamma menjadi tak terkendali ketika dia marah. Siapapun yang membuat dia marah akan dihancurkannya. Uniknya, Bruce tidak sadar sepenuhnya ketika dia menjadi Hulk.


Thor




Penerus tahta kerjaan Asgard dari Odin ini awalnya seorang yang angkuh dan emosional. Namun ancaman makhluk-makhluk dari Jotunheim telah membuatnya sadar. Thor jatuh cinta pada wanita bumi, mungkin itu yang menjadi alasannya membantu bumi dan masuk Avengers. Palu yang menjadi andalannya adalah senjata untuk memanggil petir. Thor punya saudara angkat bernama Loki yang akan menjadi tokoh antagonis dalam film The Avengers.
Fakta menarik lainnya, jagoan-jagoan Avengers ini punya film masing-masing dan film-film tersebut saling berhubungan. Misal dalam film Hulk ada scene memperlihatkan baju Iron Man, dalam film Iron Man diperlihatkan scene ada perisai Captain America dan ditemukannya palu milik Thor.

So, menarik banget kalo loe udah tau info di atas, loe sudah dapet benang merah awalnya seperti apa. Film ini patut ditunggu karena akan banyak aksi di sana. Sekarang yang jadi masalah tinggal ngajak nonton siapa? Kalo punya pacar sih enak, kalo yang jomblo gimana dong? Yang jomblo boleh ngajak gue, siap menerima gratisan... :p

popo

*the next Avenger*

Senin, 07 Mei 2012

A Memory

Diposting oleh Popo... The Kite Runner di 19.25 1 komentar

Pertemuan pertama dengan Ringga Ardiwilaga.

Di semester lima gue kuliah, gue jatuh cinta. Dan orang yang nggak sengaja gue jatuh cintai bernama Ringga Ardiwilaga. Pertemuan gue dengan Ringga biasa aja, sangat biasa malah. Saat itu gue menghadiri undangan dari universitas dia. Taulah, gue ini aktivis, tapi kok kesannya malah kayaknya mahasiswa yang demen demo gitu ya? Mahasiswa dengan jam terbang tinggi, lebih keren. Saat itu entah kenapa gue ngotot banget pengen dateng. Mpe semua otot gue keluar-keluar saking pengennya dateng, Ade ray aja kalah ama otot gue (ga nyambung ya?).

Gue sama salah satu temen gue dateng ke sana. Kampusnya jauh banget dari kampus gue. Kita berangkat pagi-pagi buta, membawa semua barang dagangan kita dan siap menggelar lapak – ini mo ngapain sih sebenernya?- sampai di sana, semua masih biasa aja, acara berlangsung biasa, fyi acaranya tuh pelantikan pengurus baru ama seminar gitu, terus abis itu tamu undangan ngumpul. Kita berkumpul dan membentuk suatu aliansi penyembah terong, eh nggak deng.

Kita dikumpulin di salah satu ruangan, dan di sanalah Ringga, tinggi dan terlalu tinggi menurut gue. Biasa banget. Gue nggak merhatiin dia, gue malah memperhatikan temen dia yang menurut gue lebih ganteng dari dia. Dia menjelaskan topic hari itu dan gue tidur berbantal kamus besar. Saat itu gue nggak memperhatikan dia, gue malah ngeliatin seorang cowok dari kampus lain. Gue bahkan nggak ngerti si Ringga ini ngomong apa (seingat gue, dia ngomong pake bahasa manusia, kenapa gue yang nggak ngerti ya?)

Setelah itu pertemuan pun berakhir, dengan keputusan pertemuan kampus itu berikutnya diadain di kampus gue. Gue pulang dengan badan remuk, besoknya gue sakit. Gue juga heran kenapa gue bisa gitu? Gue diapain??? 

*duduk dipinggir tempat tidur sambil kepala nunduk*

Setelah pertemuan itu, gue nggak pernah ketemu Ringga, dan gue sama sekali nggak kepikiran dia. Cuma sesekali sms dan komen-komenan di Facebook, setelah itu ya gitu aja. Gue sibuk sama diri gue.

Pertemuan Kedua dengan Ringga Ardiwilaga.

Saat itu gue sedang deket sama salah seorang temen gue. Dan gue sama sekali nggak mikir gue bakal deket sama Ringga. Saat itu, intensitas sms gue ke Ringga meningkat drastis dan tibalah saat pertemuan kedua gue sama dia. Saat itu gue nginep di kosan Ara, dan gue sama sekali nggak nyangka kalo gue bakalan ketemu dia di sana. Dia ngotot banget pengen ketemu sama gue. Saat itu sebenernya gue pengen nolak, tapi nggak tau kenapa gue mengiyakan semua permintaan dia. Dan akhirnya gue ketemu sama dia. Setelah proses yang panjang, gue ngobrol sama dia. Dan nggak ada hal aneh saat itu. Saat itu kita mabok aer putih. Keren kan. Gue inget pas itu hampir maghrib dan entah kenapa kita bisa ngobrol banyak banget.

Pertemuan-pertemuan Berikutnya dengan Ringga Ardiwilaga.

Dia nganter gue ke kantor Suara Merdeka. Kita makan bareng. Dia jumatan di masjid kampus gue. Gue tidur nungguin dia. Dan setelah itu, gue pulang ke rumah dan nggak mikirin dia.

aku maunya pacaran sama kamu

Tiba-tiba Ringga sms gue kayak gitu. Dan entah kenapa gue mengiyakan. Dan mulai saat itu gue dan Ringga pacaran.

Gue nggak pernah mengenal Ringga. Yang gue tau, Ringga baik, dan dia melengkapi gue. Dia emang nggak 
selalu ada kalo gue pengen dia ada. Tapi dia membuat gue merasa lengkap, entah apa penyebabnya. Kita jarang jalan bareng. Selama kita pacaran, pergi bareng tu bisa diitung. Paling Cuma jalan, makan, ke pantai, udah sisanya Cuma ngobrol di teras kosan gue. Dulu gue mo dimana aja asal sama dia gue seneng banget.

Gue inget pertama kali kita jalan, dia entah sengaja entah nggak ngambil jalan pulang yang jauh banget, muter ampe nggak tau itu nyampe mana. Tapi entah kenpa waktu itu gue sama sekali nggak keberatan, gue malah ngerasa seneng. Semua terasa indah, walau gue jarang banget ketemu sama dia, tapi ngebayangin dia udah bikin gue ngerasa nyaman dan paling enggak mengingatkan gue kalo gue memiliki dia.

kita temenan aja ya?”

Tiba-tiba semua terasa aneh. Gue cuma bisa nangis. Gue bahagia banget. Gue ngerasa lengkap. Dan tiba-tiba satu kalimat bisa membuat semuanya berubah. Dua bulan, bahkan bertengkarpun belum sempat, semua harus berakhir begitu aja. Dan lagi-lagi semua keinginan dia. Dan sekali lagi gue mengiyakan. Gue ngak bisa menolak dan memberikan alasan, gue mengiyakan semua perkataan dia, dan gue menangis. Gue menangis. Menangis bukan karena apa-apa, tapi gue menangis karena gue emang harus menangis. Gue sampai sekarang masih bertanya, apakah pantas semua air mata yang udah gue tumpahin itu?

Gue inget kata-kata dose gue, easy come easy go, apakah itu berlaku juga buat gue? dulu gue mikir seperti itu, dan sekarang gue dapet jawabannya, dan hal itu berlaku buat gue. Entah kenapa bisa secepat itu, dan entah kenapa hingga sekarang perasaan itu masih ada. 

Berminggu-minggu gue menangis. Berminggu-minggu gue tenggelam dalam kesedihan. Gue nggak ngerti, gue bener-bener nggak ngerti. Apa maksud dari semua ini. Kenapa dengan mudahnya menghempaskan kebahagiaan orang lain? Karena menyembuhkan sebuah luka, tidaklah semudah menorehkannya. Ringga membuat gue tersadar, kalo gue bener-bener menyayagi dia, bahkan sampai saat ini gue menuliskan semua ini, gue masih menyayangi dia.

Gue udah mencoba berbagai cara buat ngelupain dia, tapi bahkan gue udah nggak bisa mengingat apapun, gue akan tetap mengingat dia. Bahkan sampai dia udah nggak peduli sama gue, gue masih peduli sama dia, bahkan saat dia udah nggak pernah mengingat gue, gue masih terus meningat dia. Gue masih belum mengerti maksud dibalik semua kisah ini, namun dengan sebuah kisah Ringga ini, gue belajar banyak hal, hal-hal yang menbawa gue pada kedewasaan, mengajarkan gue segala pelajran hidup, dan mengajarkan gue cara bertahan dari sebuah keterpurukan. Ringga Ardiwilaga akan terus menjadi pertemuan pertama dan pertemuan-pertemuan selanjutnya, entah dalam kehidupan nyata, atau hanya dalam khayalan gue belaka.

popo.

*mengenang seorang Ringga*

Senin, 30 April 2012

Surat Kecil Untuk Ayah

Diposting oleh Popo... The Kite Runner di 21.32 0 komentar


Gue merindukan ayah gue. Hampir 9 tahun ayah pergi ninggalin gue. Dan gue masih belum bisa mengerti kenapa. Masih sama seperti dulu, gue nggak bisa menerima kepergian ayah. Bedanya sekarang gue udah bisa menerima ini dengan lapang dada dan sabar walaupun gue masih belum mengerti kenapa ini semua harus terjadi sama gue.

Dulu, gue selalu menyalahkan Tuhan. Gue berpikir Tuhan sama sekali nggak adil sama gue. Tuhan nggak sayang sama. Tuhan nggak kasian sama gue. Tuhan udah ngelakuin kesalahan dengan ngambil ayah dari gue. Saat itu gue ngerasa dunia gue udah berakhir. Apa gunanya dunia gue tanpa ayah? Gue adalah anak ayah. Hidup gue adalah ayah. Sejak gue ngebuka mata di pagi hari dan menghirup udara sampai gue kembali ke tempat tidur dengan segala mimpi anak kecil yang begitu indah, ayah ada dalam tiap detiknya. Ayah adalah nafas gue. Saat ayah nggak ada, gue bakalan bingung, dan saat ayah belum pulang kerja, maka gue akan berlari ke jalan raya dan nungguin ayah sampai dateng.

Saat nunggu ayah pulang kerja, gue selalu berharap bahwa bus yang lewat itu adalah bus yang dinaikin ayah. Gue berdiri dari duduk gue dan berlari mendekati bus itu. Saat tau bus  itu bukan ayah yang turun, gue akan merasa kecewa dan menunduk kembali ke tempat dimana gue duduk. Saat bus selanjutnya dateng, gue kembali berlari dan saat mendapati ayah yang turun, gue akan langsung menghambur ke pelukan ayah dan ayah dengan segala kelelahannya akan tersenyum lembut, mengelus rambut gue, dan menggendong gue sampai rumah. Saat-saat seperti itu menjadi hal paling membahagiakan dalam hidup gue.

Ayah menjadi malaikat buat gue. Ayah melakukan segalanya buat gue. Ayah nggak keberatan tiap malam terbangun dan menemani gue meneteskan darah dari hidung. Mengelap tiap darah yang mengalir dari hidung gue. Mengusap air mata ague saat gue menangis kesakitan karena darah yang mengalir deras dari hidung bener-bener menyiksa gue. Ayah adalah kesembuhan buat gue. Obat dari segala sakit yang gue derita. Bahkan saat sakit itu hilang, ayang tetap menjadi obat buat gue. Menjauhkan gue dari segala rasa sakit dan menjaga gue agar selalu dalam keaadaan terbaik gue.

Ayah selalu mengajarkan gue kebaikan. Tentu saja seorang ayah akan mengajarkan kebaikan. Dan ayah gue adalah seorang ayah. Ayah mengajarkan segala kebaikan yang ada di dunia ini. Ayah memberi contoh kebaikan yang ada di dunia ini. Ayah menjadi panutan yang baik karena ayah adalah seorang ayah. Ayah nggak pernah marah. Selama gue mengenal ayah, ayah nggak pernah marah sama gue, ayah selalu baik sama gue, ayah selalu meberikan kasih sayang ynag hebat buat gue, ayah selalu menjadi kebaikan dan keajaiban buat gue. Ayah melakukan semuanya buat gue. Dan juga buat ibu dan adek-adek gue. Ayah adalah hidup gue.

Dulu gue anak yang nakal, gue selalu bikin kesalahan, gue nggak pernah dengerin ayah, gue banyak melakukan kesalahan sama ayah, tapi seperti yang selalu ayah lakukan, ayah akan dateng , tersenyum, memeluk gue dan membisikkan gue nasehat. Gue bener-bener merindukan ayah. Gue nyesel kenapa dulu gue nggak jadi anak  yang terbaik untuk ayah? Sementara ayah adalah yang terbaik buat gue.

Ayah pergi terlalu cepat, terlampau cepat.  Terlalu cepat sampai-sampai gue nggak bener-bener mnegenal ayah. Terlalu cepat sampai-sampai nggak banyak kenangan yang bisa gue inget bersama ayah. Terlalu cepat karena gue belum memberikan apa-apa untuk membalas segala kesempurnaan ayah. terlalu cepat, dan membiarkan gue tumbuh dewasa tanpa ayah. terlalu cepat hingga gue harus selalu merindukan ayah, setiap saat, setiap detik, setiap helaan nafas gue. Gue bener-bener merindukan ayah.

“Ayah, mungkin ayah nggak pernah tau, tapi aku sayang banget sama ayah. ayah inget, ayah ngelakuin semua hal buat aku, ayah marah saat aku terkena solder. Padahal lukanya nggak seberapa, tapi ayah langsung ngobatin tanganku dan membanting semua peralatan. Melarangku melakukan hal itu lagi. Ayah selalu mengusap lukaku.  Ayah bilang ayah nggak pengen ada sesuatu hal apapun yang nyakitin aku… Ayah, saat ini aku nagis nulis ini semua. Entah kenapa mengingat ayah selalu mebuatku menangis, merindukan ayah. kenapa aku nggak diberi kesempatan lebih untuk menyayagi dan mencintai ayah? 

Ayah, aku membutuhkan ayah. sekarang ini aku sedang tertekan dan sendirian. Terkadang aku nggak tau aku harus ngapain, tapi mengingat ayah, semua kata-kata ayah, semua kasih sayang ayah, semua kenangan tentang ayah, membuatku kuat dan berani tersenyum walau beban ini entah kapan akan hilang. Aku masih sering berandai-andai ayah ada disamping aku. Tapi kenyataannya ayah nggak pernah ada disampingku, karena ayah selalu ada di hatiku…..”

Gue nggak tau harus melakukan apa selain menangis saat mengingat ayah. tapi gue nggak keberatan, gue akan tetap menangis saat mengingat ayah. karena dalam tiap air matayang mengalir ada doa gue buat ayah, dan doa itu selalu sama, dan nggak akan pernah berhenti sampai kelak gue dan ayah akan bertemu…


Popo
*sebuah tulisan dengan air mata penuh doa untuk Ayah*

Minggu, 29 April 2012

Dimanapun kamu berada, baca ini...

Diposting oleh Popo... The Kite Runner di 19.40 0 komentar

Surat Dari Kolong Meja

Wahai laki-laki,

Yang setidaknya pernah menjadi mantan calon pacarku...
Perlu ku kabarkan padamu betapa hari ini kondisiku sehat-sehat saja. Memang sedikit agak lesu, lelah dan tak tahu harus melakukan apa, tapi secara umum baik-baik saja. Aku barusan tidur di kolong meja. Tidak, tidak membayangkanmu, tapi juga tidak membayangkan siapa-siapa, atau hal lain apapun. Karena aku lesu. Aku hanya ingin tidur. Membuang semua kesibukan, kepenatan dan semua hal yang membuatku mual di dunia ini. Wahai laki-laki mantan calon pacarku, aku tahu kamu sama sekali nggak peduli dengan semua yang kukabarkan padamu. Karena aku kan bukan siapa-siapamu, dan kamupun bukan siapa-siapaku. Hanya laki-laki mantan calon pacarku. 

Tapi apa salahnya mengabarkan hal ini padamu. Aku ingin memngabarkan ini pada siapapun. Apalagi kau, laki-laki mantan calon pacarku. Sebab aku percaya kau masih mengingatku. Yang pernah nyampulin buku bahasa inggris punyamu. Tapi, mengapa kau seolah-olah lupa kan akan kehadiranku? Aku takkan menuntut banyak. Yang kurindukan hanyalah perhatianmu, ha..ha.. tapi jangan percaya dan terkecoh, itu Cuma kalimat iklan produk lampu yang aku kutip. Tentu saja, aku tak membayankan diriku akan sepenting itu untukmu. Walau sebetulnya aku ingin. Tapi kenyataannya apa yang aku inginkan tak pernah terjadi. Makanya kau hanya menjadi mantan calon pacarku. Dan aku perempuan mantan calon pacarmu. 

Andai aku boleh bertanya, sebetulnya aku ingin sekali bertanya. Sebab sampai kini aku tak pernah mengerti mengapa kau tak mau menjadikanku pacarmu. Apakah aku terlalu pendek untukmu? Terlalu gemuk? Terlalu bodoh? Ato terlalu miskin? Mungkin terlalu pendek atau juga terlalu miskin. Tetapi setauku kau bukan tipe laki-laki yang memamndang eksistensi seseorang dari materi. Kaupun bahkan sangat bersahaja. Apa adanya. Kau type laki-laki yang cerdas, rasional, mandiri, dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Bahkan cara berpikirmupun sangat moderat. Itu sebabnya aku hampir tak pernah melihat kekuranganmu. Pun seandainya nilai-nilai itu masuk ke wilayah yng sifatnya fisik. Matamu bagus. Rada sipit sih. Hidung satu. Mulut juga satu. Nggak lebih. Dan wajahmu oval seperti telur ayam kampung. 

Salahkah bila aku mencintaimu? Walau kau sendiri, seperti yang semua orang tau, tak pernah menggubrisku sedikitpun. Tapi itu tak penting buatku. Terpenting aku bisa mencintaimu. Itu membuatku bahagia. Membayangkanmu, mengenangmu, mengingatmu kala tersenyum, membuatku kuat. Bersemangat. Menghadapi segala rintangan, segala tantangan dan mengalahkannya. Cinta, tentu saja dlam pandangan orang banyak, membuat kuat. Sekalipun cinta itu adalah cinta yang tak terbalas. 

Seperti hari ini, aku terpuruk di kolong meja. Sambil berusaha menepis segala kelesuanku. Syukur aku bisa menulis puisi dan mempersembahkannya padamu sebagai laki-laki mantan calon pacarku. Tapi dimanakah kini dirimu? Hingga aku cari kau ke langit, ku hanya dengar nyanyian burung. Ku cari kau ke laut, ku hanya temukan ikan-ikan. Kucoba mencarimu ke hutan, ku hanya dengar auman sang raja rimba. Jadi sebenarnya dimana kau berada? Mengapa aku begitu merindukan dan mencintaimu? Apa itu salah.....???
           
ditulis saat SMP...

Kamis, 26 April 2012

Belajar dari Rani, Ini Soal Hati..

Diposting oleh Popo... The Kite Runner di 21.04 0 komentar


Bagaimana bisa seseorang mencintai sampai-sampai dia mau berkorban demi kebahagiaan orang yang dia cintai, bahkan kebahagiaan itu bukan kebahagiaan yang dia inginkan, karena kebahagiaan itu bukan bersama dirinya.

Tadi sore seorang temen gue bercerita, dan gue nggak pernah nyangka seseorang yang deket dengan kehidupan gue mengalami hal yang mungkin cuma bisa gue tonton dalam sinetron-sinetron lebay. Jadi temen gue itu, sebut saja Rani, sahabatan sama cewek namanya Jelita. Mereka udah sahabatan lama. Kayak Bona sama Rong-Rong gitu deh. Suatu hari mereka mengenal seorang cowok, sebut aja namanya Bambang. Bambang ini singkat cerita pacaran sama si Jelita, dan si Rani ini ternyata suka sama si Bambang. Tapi si Rani nggak pernah bilang kalo dia suka sama si Bambang, dia mendem semuanya sendirian dan tetap menjadi seorang sahabat yang baik untuk Jelita dan Bambang.

Pada suatu, hubungan Bambang dan Jelita bermasalah, gue nggak terlalu ngerti masalah mereka apa, tapi pada akhirnya nama si Rani dibawa-bawa. Mereka membawa nama Rani keliling komplek, mereka dan teriak-teriak di depan rumah pak RT, lahh, dan meminta hak Rani dikembalikan… Ini kenapa malah demo Rani? Apa salah Rani? Dia kan masih dalam masa pertumbuhan.. Kasian Rani… Ini kenapa jadi nggak focus gini?

Kembali ke sketsa, jadi intinya si Jelita menuntut si Bambang dan mengharuskan Bambang melakukan sesuatu dengan Rani dan sesuatu itu bener-bener di luar nalar orang normal. Bambang menyampaikan hal ini kepada Rani. Bambang dan Rani bimbang, mereka pun akhirnya galau, dan bershower bersama,, (dengan kamar mandi yang berbeda).. usai bershower, merekapun mencari jalan keluar, sebenernya Rani nggak perlu melakukan hal di luar nalar itu, tapi demi kebahagiaan si Bambang dan Jelita yang udah dia anggap sebagai sahabat bagai kepompong, Rani rela melakukan hal di luar nalar itu. Rani bener-bener ngelakuin hal itu, tulus dan tanpa paksaan, semata-mata demi kebahagiaan Bambang, si Rani bilang, asal Bambang bahagia, walaupun nggak sama dia , dia rela. Dan Rani juga bilang, perasaan dia ke Bambang nggak akan hilang, dia nggak akan pernah mengurangi porsi cintanya ke Bambang, dia yakin kalau itu adalah sesuatu yang baik, maka dia akan memasukkannya ke dalam kotak dan menjadikan perasaannya terhadap Bambang adalah harta karun terindah…

Saat denger cerita itu gue speechless. Gue bener-bener nggak nyangka ada seseorang yang dengan tulus mencintai orang lain. Lalu gue melihat diri gue sendiri, gue ambil cermin gede seluruh tubuh, lalu gue ngeliat diri gue, cukup cantik dan unyu, nggak kalah ama Dakota Fanning.

*telen sendok*

Bukan ngeliat gini yang gue maksud, gue ngeliat semua yang gue alami. Gue putus ama seorang cowok aja nangisnya uda yang kayak besok itu kiamat dan gue belum ke universal studio. Nangisnya udah bikin bantal bisa diperes, berhari-hari galau, gadoyan makan, sampe badan ama ikan teri juga kagak ada bedanya. Padahal di luar sana masih banyak yang nasibnya lebih ngenes dari gue. Ya mungkin sikap gue emang wajar, siapa yang nggak sedih kalo harus berpisah sama orang yang kita sayang banget. Setiap orang pasti akan melakukan hal sama kalo berpisah sama seseorang yang mereka sayangi, kehilangan..

Dari cerita temen gue tadi, gue sadar, sebenernya gue nggak berhak nuntut apapun. Si Rani aja yang udah ngelakuin hal sebesar itu dan nggak dapet apa-apa, istilahnya rugi besarlah, tetep masih bisa tersenyum dan nggak nuntut apa-apa selain Bambang bahagia bareng si Jelita. Sedangkan gue? Gue aja nggak ngelakuin apa-apa, gue yang malah menyumpah serapahi dia, nganggep dia jahat, dan nggak bisa memaafkan semua perlakuan dia, tapi gue nuntut banyak hal, yang pengen dia nemuin guelah, yang pengen dia ada buat guelah, dan yang paling besar, pengen dia balikan sama gue… Gue selama ini cuma diem dan nggak ngelakuin apa-apa, tapi berharap balikan. Selama ini gue galau tiap malam, ngebayangin dia, berharap sama dia, tapi semua itu nggak ada apa-apanay dibandingkan Rani, karena gue ngga pernah memperjuangkan perasaan gue, gue nggak pernah berkorban… lalu apa yang bisa gue harepin..???

Masalah hati emang susah, banyak rahasia yang tersimpan. Siapa yang nyangka, yang udah pacaran lima tahun akhirnya kandas, yang baru ketemu bisa langsung jadian, yang sahabatan bisa saling suka, yang cintanya bertepuk sebelah tangan, yang udah naksir tapi cuma dianggap adek, yang udah pedekate tiga bulan tapi nggak ditembak-tembak, dan yang jatuh cinta diam-diam, semua memiliki luka masing-masing dan perjuangan masing-masing…

Cerita Rani menyadarkan gue, untuk hal apapun, termasuk perasaan, kita harus mau berjuang dan berkorban. Semua hal itu nggak ada yang instan, mie aja butuh proses yang lama di pabrik biar bisa disebut mie instant. Perasaan ama skripsi itu nggak ada bedanya, sama-sama harus diperjuangkan…. #bedatipis

*menunduk*

*kenapa skripsi ikut campur*

#jleb

#nyesektiba-tiba

Rani hanyalah sebuah contoh kecil dari sekian banyak kisah tentang hati. Masih banyak diluaran sana yang lebih berat perjuangannya dari seorang Rani. Buat kalian yang masih banyak menuntut dari pasangan dan calon pasangan kalian, pikirkanlah baik-baik, cari tempat yang tepat, waktu yang tepat untuk berpikir, jawaban soal UN aja butuh pemikiran yang baik, apalagi perasaan.. Sekali lagi, kalo udah masalah hati, nggak akan mudah, jadi bagaimana kita bisa mengambil keputusan terbaik dan memperjuangkannya dengan sekuat tenaga, semua orang ingin bahagia bukan?  Termasuk gue, kalian, dan orang-orang disekitar kalian, karena kebahagiaan adalah hak setiap umat..

Semoga tulisan ini bermanfaat, bukan bermaksud ngajarin, cuma mengajak untuk mencoba berpikir dewasa, gue juga nggak tau harus gimanan baiknya, karena kita memang sedang dalam proses menuju kedewasaan kan? 

Gue popo,

*mencoba berjuang*

*mencoba bahagia*

 

Popo.. The Kite Runner Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea