Rabu, 13 Februari 2013

In My Dream (Part 12)

Diposting oleh Popo... The Kite Runner di 07.01 0 komentar

Mobil yang membawa Ji Hyun pulang mengalami sebuah kecelakaan, Ji Hyun tak sadarkan diri dan terluka parah, apakah Ji Hyun akan selamat? This is it, In My Dream Part 12... Enjoy... 

Aku merasakan sebuah cahaya memasuki mataku. Apa aku sudah di surga? Aku membuka mataku pelan, sakit sekali rasanya hanya untuk membuka mata. Aku melihat langit-langit yang putih. Dan bau obat segera menyergap hidungku. Ini pasti klinik sekolah. Aku sudah terbiasa dengan semua ini. Lalu Dokter Ji Hoon akan datang dan memarahiku karena terlalu sering terluka. Tapi Dokter Ji Hoon tidak datang. Aku hanya melihat seorang dokter dan beberapa suster. Aku menutup mataku lagi. Badanku terasa berat, sakit, dan anehnya dingin.
Dadaku terasa sangat sakit. Aku tidak bisa melihat dengan jelas. Ada sesuatu diatas mataku. Dan mulutku, tertutup oleh sebuah mangkuk, tapi aku bisa menghisap udara dari sana. Samar-samar aku mendengar pembicaraan dokter. Aku menutup mataku pelan. Terlalu sakit untuk membuka mataku.
“Tuan Shin, ini sudah 4 hari Ji Hyun koma, kita harus segera mengoperasinya, bagaimanapun juga dengan kaki seperti itu, dan beberapa tulang rusuk yang retak, dia tidak akan bertahan lama, dia akan segera meninggal” kata dokter.
Kudengar isak tangis eomma. Ah, eomma disini? Masih belum ada jawaban dari siapapun. Apa benar aku akan mati?
“Tuan, jika kita tidak mengambil kakinya, maka akan sangat berbahaya untuk organ tubuh lainnya, dia bisa meninggal kapan saja, cepatlah pikirkan sesuatu Tuan, dia tidak bisa terus menerus seperti ini. Kalau kita tidak segera bertindak, dan mengambil kakinya, walaupun dengan operasi kemungkinan dia akan hidup hanya 30%,” jelas dokter itu, dia terdengar sangat khawatir.
Mwo ya? Kakiku? Kakiku harus diambil? Apa maksudnya?
  “Ya, dokter!” tiba-tiba kudengar ayahku berteriak. “Anak ini harus terus berlari dengan kakinya, dia seorang pemain basket. Anak ini adalah seorang yang menjadikan basket sebagain impiannya, kalau kau memgambil kakinya itu artinya kau mengambil semua miliknya, apa itu adil untuknya? Bagaimana dia bisa melanjutkan hidupnya setelah ini?”
Appa.. Benarkah itu yang kau katakan? Bukankah ayah yang paling menentang aku bermain basket? Tapi kenapa dia mengatakan semua itu? Semua orang terdiam, bahkan tercekat mendengar kata-kata appa. Tanpa sadar aku menitikkan air mata. Bahkan aku menangis sesenggukan. Dadaku terasa sangat sakit menahan tangisku ini.
“Ya, Tuan Shin, michinggo anhya? Anakmu hampir mati dan bagaimana bisa hal seperti basket menjadi soal yang penting saat ini? Dia harus mendapatkan operasi sekarang juga,” dokter itu berusaha membujuk ayah.
“Kalau kau harus mengambil kakinya, tidak!,” ayah tetap pada pendiriannya.
Tiba-tiba kudengar seseorang masuk. Aku tidak bisa melihat siapa dia. Mataku sekarang penuh air mata dan aku bahkan tidak bisa membuka mataku.
“Ah, dokter Kim Young Pil, anda sudah datang,” kata dokter yang pertama.
“Ne, aku akan mencari cara lain untuk mengoperasi anak ini sehingga dia masih bisa bermain basket,” kata dokter Kim, dia terdengar seperti seorang ayah yang bijaksana.
“Benarkah dokter?” tanya ayahku.
“Geokjeonghajimaseyo, aku akan berusaha,”
Itu adalah hal terakhir yang kudengar. Lalu kurasakan semua kembali gelap dan dingin. Aku jadi bertanya-tanya, apa begini perasaan orang yang sedang sekarat? Kalau memang benar, kasihan sekali orang-orang itu, karena ini sangat menakutkan dan sangat kesepian. Entah sampai berapa lama aku di dalam kegelapan ini.
Tiba-tiba lampu dinyalakan, aku duduk di jendela kamarku. Seseorang menepuk pundakku, aku menoleh, dan kulihat ayah tersenyum padaku.
“Kenapa masih disini? Bukankah kau akan berlatih basket bersama teman-temanmu,”
“Appa, mereka bilang aku pendek, aku tidak akan mungkin bisa jadi pemain basket hebat,” kataku. Kenapa suaraku seperti anak kecil?
“Ya, anak bodoh, apa kemampuan bermain basket ditentukan oleh tinggi badan? Orang bodoh macam apa yang mengatakan itu?”
“Tapi tidak ada pemain basket yang pendek, appa,” aku kembali merajuk.
“Maka jadilah yang pertama, pergilah,” kata ayah.
“Benarkah? Aku bisa jadi yang pertama?”
“Asal kau tidak hanya duduk seperti anak bodoh dijendela,”
Aku tersenyum lebar, dan mengambil bolaku.
“Appa, aku akan menjadi pemain basket yang hebat!”
“Dan aku akan menjadi ayah pemain basket yang hebat,”
“Aku pergi appa!!”
Appa tersenyum. Aku berlari sambil memegang bolaku. Aku terus berlari. Tiba-tiba aku tersandung. Aku meringis kesakitan dan saat aku membuka mataku, aku sudah di rumah sakit. Aku mengerjapkan mataku pelan. Rasa sakit mulai menjalar di sekujur tubuhku. Aku memandang sekelilingku, aku melihat eomma menatapku penuh kecemasan.
“Ji Hyun-aa, Shi Ji Hyun, kau bangun nak?” tanya eomma, suaranya bergetar.
Aku mengerjap pelan. Kulihat eonnie juga menghampiri tempat tidurku. Matanya bengkak dan merah. Dia langsung menggenggam tanganku. Air mata keluar dari matanya. Dia tidak mengatakan apa-apa dia hanya tersenyum penuh kelegaan.
“Sayang.. Sayang… Ji Hyun bangun, dia sudah sadar.” Dia memanggil ayahku sambil tetap menatap padaku.
Kulihat ayah buru-buru datang padaku dan tersenyum bahagia, aku bahkan bisa melihat airmata disudut matanya yang lelah.
“Khamsahamnida.. Khamsahamnida…” kata ayah sambil terisak.  
Aku tersenyum melihat ayah dan ibuku. Aku belum mati, dan aku tidak ingin mati dulu, bukankah aku harus menjadi pemain basket hebat seperti keinginan ayah?
******************************************************************
Aku belum bisa bergerak untuk satu minggu kedepan. Aku hanya berbaring selama seminggu ini. Aku bahkan belum boleh makan apapun. Tenggorokan dan dadaku masih belum kering bekas jahitannya. Ah, aku ingin sekali makan es krim. Beberapa teman mengunjungiku. Henry dan Sulli bahkan sempat menginap. Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa.
Tapi satu minggu yang menyiksa sudah berlalu. Mangkuk dimulutku sudah diambil dan aku sudah bisa bangun. Aku duduk di tempat tidur pagi ini. Kakiku belum bisa digerakkan. Tiba-tiba pintu terbuka dan kulihat ayah masuk sambil membawa seikat bunga. Dia mendekati tempat tidurku dan memberikan bunga itu padaku.
“Gumapsemnida,” aku tersenyum dan mencium bunga itu. Harum.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya ayah sambil duduk dikursi sebelah tempat tidurku.
“Aku ingin makan es krim,” jawabku.
“Kelihatannya kau sudah lebih baik, sepertinya benar kalau kau ini adalah Mazinga Z, kau terbuat dari besi baja”
Kami berdua tersenyum. Aku menatap ayahku sesaat.
“Khamsahamnida appa,”
“Kau ini bicara apa?”
“Appa sudah melindungi impianku, khamsahamnida, jeongmal,”
“Sepertinya luka dikepalamu membuat otakmu sedikit tidak beres,” ayah tiba-tiba menjadi serba salah, dia bahkan merapikan selimutku.
“Appa, itu sangat berarti untukku. Aku tahu mungkin aku mengecewakan appa, tapi bukankah aku berjanji akan menjadi pemain basket hebat? Pemain basket pendek yang pertama yang pernah ada, aku belum memenuhi janjiku, jadi aku mohon appa, izinkan aku tetap bermain basket,  itu impianku appa, jebal,” aku memohon kepada ayahku.
Ayah diam untuk beberapa saat. Aku meraih tangan ayah dan menggenggamnya.
“Aku janji, aku tidak aka terluka, aku tidak akan membuat ayah khawatir, aku akan bermain dengan hebat sampai ayah benar-benar terpana melihatku,”
Ayah masih saja diam. Aku menunggu jawaban ayah.
“Buat apa kau bangun kalau tidak bermain basket,” kata ayah pada akhirnya.
“Appa!!” senyumku mengembang.
Jawaban apa seperti hujan di musim panas. Begitu melegakan.
“Khamsahamnida.. Jeongmal khamsahamnida,”
Ayahku tersenyum dan menatapku. Aku hampir saja menangis karena bahagia. Sepertinya semua beban di pundakku hilang begitu saja. Kepalaku terasa ringan dan kurasakan semua sakit ditubuhku hilang.
“Kau benar-benar ingin makan es krim?” tanya ayah.
Aku mengangguk senang. Apa ada yang bisa lebih baik lagi dari ini? Tiba-tiba ada suara rebut-ribut.
“Ji Hyun-aa!!!!” kulihat Sulli berlari kearahku.
“Sulli-aa”
“Ya, kukira kau benar-benar akan mati, aku benar-benar takut, aku menangis tiap malam selama kau koma, aku kemari setiap pulang sekolah untuk melihatmu sudah sadar atau belum, aku terus seperti itu selama tiga minggu, dan saat kudengar kau sudah sadar, kau tahu, aku ingin benar-benar memukulmu, hiks…,” lalu Sulli pun menangis dan memelukku.
Ayah hanya tersenyum melihat tingkah Sulli. Kulihat Henry, Hyuk Jae, dan Hye Ri serta eonnie berdiri mengelilingiku. Aku tersenyum melihat mereka. Aku seperti benar-benar mendapat kesempatan kedua untuk hidup.
“Oh, banyak sekali orang disini, aku tidak yakin kue ini cukup untuk semua orang,” eomma muncul sambil membawa sebuah kotak berisi kue.
Kamipun makan kue sambil mengobrol. Kami bercanda dan tertawa. Terimakasih Tuhan, aku bisa hidup kembali dan berkumpul bersama mereka. Ini lebih dari cukup dan aku benar-benar bersyukur untuk ini.
******************************************************************
Aku masih belum bisa turun dari tempat tidurku. Aku harus menggunakan kusrsi roda kemana-mana. Dan aku masih harus tinggal di rumah sakit. Dokter masih sering memeriksa keadaanku untuk melihat kaki, dada, dan tenggorokanku. Beberapa jahitan sudah mulai mengering, tenggorokan dan dadaku perlahan mulai pulih. Tapi kakiku masih belum menunjukkan keadaan akan membaik. Masih sangat sakit untuk digerakkan. Dokter menawarkan terapi untuk kakiku. Akan membutuhkan waktu satu sampai tiga bulan untuk pemulihan kakiku. Aku menyetujui tawaran dokter, apa saja yang terbaik. Aku ingin bisa kembali berlari.
Pagi ini suster sudah selesai mengecek keadaanku. Aku masih duduk di tempat tidurku saat seseorang menggeser pintu. Aku menoleh kearah pintu tapi tak kulihat seorangpun yang masuk. Aku menunggu beberapa saat tapi masih juga tak tanda orang yang masuk.
“Nuguseyo?” aku mencoba bertanya.
Lalu masuklah seorang yeoja. Dia Kim Hara. Dia berdiri canggung di depan pintu. Ditangannya terdapat sebuah buket bunga mawar kuning. Dia menatapku canggung. Aku juga menatapnya canggung.
“Annyeonghaseyo, aku datang menjengukmu,” sapanya pelan.
“Annyeonghaseyo, gomawoyo, pasti sangat merepotkan,”
Dia berjalan menghampiri tempat tidurku. Lalu dia memberikan bunga yang dia bawa padaku. Aku menerimanya dan mengucapkan terimakasih. Dia masih terlihat canggung. Aku menatapnya. Dia cantik sekali kalau diperhatikan dan dilihat dari dekat seperti ini. Seandainya kami punya sesuatu untuk dibicarakan. Aku benar-benar merasa tidak enak dengan semua kecanggungan ini.
“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya kemudian.
“Oh, sudah lebih baik, tapi kakiku memerlukan waktu cukup lama untuk pulih, sangat membosankan sekali disini,”
Dia hanya diam. Lalu dia duduk di kursi di samping tempat tidurku. Untuk beberapa saat dia tidak mengatakan apa-apa, aku menunggunya mengatakan sesuatu.
“Apa kau begitu dekat dengan Dong Hae oppa?”
“Ne?” aku tekejut dengan pertanyaannya yang tiba-tiba.
“Aku merasa kalian berdua sangat dekat,”
“Apa maksudmu? Kami hanya berteman, itu saja,” kenapa dia tiba-tiba bertanya tentang ini??
“Aku tidak tahu ada apa diantara kalian, tapi kau tahu? Saat mendegar kau kecelakaan, dia benar-benar ketakutan setengah mati, saat itu masih di pesta sekolah, saat tahu tentangmu, dia berlari seperti petir, wajahnya sangat merah, aku belum pernah melihat oppa seperti itu,”
Aku terkejut mendengar ceritanya yang semuanya serba tiba-tiba ini.
“Oppa terus menerus di rumah sakit semalaman, dia tidak mau disuruh pulang, dia terus di sini, dan terus setiap hari dia kerumah sakit, kau koma selama 4 hari, saat dia tahu kau harus diamputasi, dia menjadi sangat marah, entah kenapa dia seperti begitu ketakutan.  Dia memanggil pamannya yang seorang dokter di Amerika untuk menanganimu, awalnya  dokter itu menolak karena dokter itu sangat sibuk, dokter itu juga seorang dosen di sebuah universitas kedoteran di Amerika, tapi dia memohon padaku,”
“Memohon padamu? Apa maksudmu?” tanyaku heran.
“Karena dokter itu adalah ayahku,”
Hal ini membuatku sangat terkejut. Apa artinya semua ini? Kenapa dia tiba-tiba datang dan memberitahuku semua ini?
“Ayah sangat sibuk, tapi melihat oppa memohon seperti itu, sebenarnya itu membuatku marah, kenapa hanya demi kau dia rela melakukan semua itu? Aku memenuhi permintaanya dengan syarat dia harus menjadi namjachinguku,”
Apa lagi ini?
“Dia sempat ragu, tapi akhirnya dia menyetujuinya. Aku sangat terkejut mendengarnya, kukira oppa akan menolak seperti dulu, tapi dia menyetujuinya. Aku sempat merasakan sesuatu yang aneh. Aku marah dan sedih pada saat yang bersamaan. Dan akhirnya aku membujuk ayahku untuk bisa menanganimu, dan dia mau kembali ke Korea dan mengoperasimu. Ayahku pernah menjadi spesialis tulang, maka dia bisa melakukan sesuatu untukmu,”
Aku diam tak bisa mengatakan apapun. Ini semua terlalu mengejutkan. Kenapa Dong Hae melakukan semua ini?
“Jeongmal gomawoyo, berkat ayahmu aku bisa dioperasi dan tak perlu kehilangan kakiku, aku benar-benar berterimakasih,” kataku pelan. Aku tak tahu harus mengatakan apa.
“Jangan berterimakasih padaku, berterimakasihlah pada oppa, karena dia aku mau melakukan semua ini,”
“Ne,” aku diam sesaat. “jadi sekarang kau dan Dong Hae berpacaran?”
Dia tersenyum sebentar. Tapi bukan senyuman bahagia.
“Aku tidak pernah merasa seperti itu. Oppa memang selalu memenuhi keinginanku, tapi melihatnya setiap malam ke rumah sakit dan melihatmu, apa aku bisa menyebutnya namjachinguku, aku tidak pernah tahu apa yang dipikirkan oppa, tapi aku merasa seperti orang bodoh, aku seperti orang jahat yang memanfaatkan orang lain demi kepentinganku sendiri. Oppa bersamaku karena dia merasa dia harus bersamaku. Dia harus membayar sebuah hutang padaku. Dia selalu bilang, karena akulah paling tidak kau selamat, tapi bukan itu yang kuinginkan,”
Ha Ra berhenti beberapa saat. Dia menangis. Aku mendengarkannya dengan perasaan campur aduk. Dan aku tak tahu harus bagaimana.
“Ternyata ini menyakitkan,” lanjutnya. “Ini lebih menyakitkan dari apapun. Aku merasa oppa tersakiti karena aku, dan melihat semua itu membuatku seperti seorang yang sangat jahat. Aku telah menyakiti oppa yang sangat kusayangi,” kini dia benar-benar menangis.
Aku memegang tangannya dan menggenggamnya. Entah kenapa melihatnya seperti ini sangat menyedihkan. Kasihan sekali dia ini.
“Aku sudah bersama sejak aku lahir, dia selalu ada untukku, dan aku sangat senang karena dia yang ada disisiku dan bukan orang lain, tapi semua sudah berbeda sekarang, kami bukan anak kecil lagi, dan sepertinya ini saatnya aku melepaskan oppa, aku harus bisa tanpanya, dan dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan,”
Aku hanya diam. Aku memang hanya bisa diam. Apa yang bisa kukatakan?
“Aku senang kau bisa sembuh kembali, kau harus cepat sembuh, kau sudah tahu kan apa yang telah dilakukan oppa demi kau? Aku bukan orang yang mudah berbaik pada orang lain, tapi cepatlah sembuh dan berjalan dengan kakimu. Mianhe aku sudah membuat pagimu penuh kejutan, aku akan pergi sekarang,”
Dia beranjak dari kursinya dan berjalan kearah pintu.
“Ha Ra-ssi, gomawo,”
Dia menghentikan langkahnya.
“Jeongmal gomawoyo, untuk apapun itu, untuk apa yang telah kau lakukan padaku, gomawo,”
Dia tidak mengatakan apapun, juga tidak memberiku respon. Dia hanya diam dan melanjutkan langkahnya keluar dari kamarku. Aku tahu dia pasti akan tersenyum.
Aku duduk di kursi roda di dekat jendela. Memikirkan semua perkataan Ha Ra. Benarkah semua itu? Kenapa dengan Dong Hae itu? Kenapa selalu melakukan semuanya semaunya sendiri? Kenapa dia melakukan semua ini? Aku melayangkan pandanganku keluar jendela. Di luar pasti dingin sekali. Kulihat tumpukan salju dibingkai jendela. Sudah berapa lama sejak pertama kali aku melihat salju saat itu?
“Itu sudah satu bulan,”
Aku menoleh, dan kulihat Dong Hae berdiri di belakangku, membawa sebuah buket bunga. Ya, apa dia membaca pikiranku?
“Lama tak jumpa, Ji Hyun,”
Aku memutar kursi rodaku. Aku menatapnya beberapa saat. Kenapa dia baru muncul? Apa dia tidak tahu, aku sangat ingin melihatnya. Bahkan saat mataku masih tertutup aku sangat ingin melihatnya. Aku benar-benar ingin menghajarnya sekarang. Kalau saja kakiku tidak dibebat seperti ini, dia pasti sudah babak belur karena kuhajar. Kemana saja dia ini? Apa tidak sedikitpun kahawatir padaku?
“Kenapa kau melihatku seperti itu?”
“Babo! Selalu melakukan apapun sesukamu, kau pikir kau ini siapa?” aku tiba-tiba berteriak. “Apa kau tidak tahu, aku sangat ingin melihatmu,”
Dong Hae diam menatapku. Kata-kataku keluar begitu saja.
“Mwo ya?”
“Aku ingin melihatmu, aku ingin menunjukkanmu, ini,” akau menunjukkan kakiku yang digips. Alasan bodoh apa ini?
“Mwo? Kau ingin melihatku karena ingin menunjukkan ini padaku?”
“Ne, aku keren kan dengan kaki seperti ini?”
Dia meletakkan bunga di pangkuanku. Lalu memukul dahiku pelan.
“Apa itu?”
Aku hanya tersenyum. Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Lagipula apa yang sebenarnya? Akhirnya kami mengobrol saja. Dia duduk di sofa dan aku tetap di kursi rodaku.
“Apa yang kau lakukan selama aku tidur?” tanyaku.
“Wae?”
“Hanya ingin tahu saja,” jawabku. Aku berdebar menunggu jawabannya.
“Aku melakukan hal-hal seperti biasanya,”
“Kau tidak melakukan hal lain?”
“Hal lain apa? Memang apa yang harus kulakukan?”
Kenapa dia tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara dia dan Ha Ra?
“Benar-benar tidak ada?”
“Obseoyo, apa yang kau harapkan, apa kepalamu baik-baik saja? Ah, aku ingat”
“Ne?”apa dia akan menceritakannya?
“Saat inspeksi kamar aku ketahuan menyimpan majalah dewasa yang kupinjam dari Hechul Sunbae, aku sudah menjelaskan bahwa itu bukan punyaku, tapi tetap saja aku disuruh berlari,” dia tertawa terbahak-bahak. Apa-apaan dia ini?
“Ya! Apa perlu kau menceritakan hal itu?” aku berteriak padanya.
“Kau ini kenapa sih? Aku punya kejutan untukmu, aku mempersiapkan album baruku dengan Dreamworld Entertainment, aku akan terkenal lagi setelah ini,”
“Jjinjja? Kau dapat kontrak?”
“Ya, apa kau lupa ingatan? Bukankah aku sudah memberitahumu?”
“Jjinjja? Kapan?”
“Saat itu, kau tiba-tiba berlari seperti melihat hantu! Ya, apa pihak rumah sakit tidak memeriksa kepalamu, kau sepertinya mengalami gegar otak,” dia memegang kepalaku, aku menepisnya pelan.
“Kau berdoa aku gegar otak? Tentu saja aku ingat itu,” mana mungkin aku lupa saat lari menghindarinya, mati-matian aku mengatur jantungku.
“Lalu kenapa kau masih terkejut?”
“Karena aku senang, apa tidak boleh aku senang, kau bisa bernyanyi kembali, dan pasti aku bisa melihatmu bernyanyi lagi, ah senangnya,”
“Senang melihatmu kembali,”
“Apa maksudmu?”
“Kau bertingkah aneh akhir-akhir ini,”
“Apanya yang aneh? Aku merasa biasa saja,”
Dong Hae hanya tersenyum. Aku menatap bunga yang diberi Dong Hae. Lili putih.
“Kau dan ayahmu?”
“Oh?” aku menatapnya sesaat. “Oh, kami baik-baik saja, entah kenapa ayah sangat melindungi impianku, kau tahu, seandainya saja dia tidak melawan dokter mungkin sekarang aku hanya punya satu kaki,”
“Mworago? Satu kaki?” tanyanya heran.
Pandai sekali dia berakting. Dia ini tidak tahu atau pura-pura tidak tahu sudah pasti kan dia ini tahu semuanya.
“Ayah berteriak pada dokter pada dokter, dia berskeras untuk mempertahankan kakiku, kau tahu, hampir saja kakiku diamputasi, tapi seorang dokter datang,” aku berhenti melihat reaksinya, tidak ada yang berubah, “Dia dokter dari Amerika dan menawarkan solusi lain, dan entah apapun itu caranya, aku beruntung kakiku masih lengkap, aku tidak bisa membayangkan akan seperti apa hidup tanpa kaki, apa kau tahu rasanya?”
Dong Hae hanya diam. Apa dia akan menyembunyikan semua ini?
“Aku tidak tahu bagaimana seorang dokter dari Amerika tahu ada seorang yang membutuhkannya di Korea. Setahuku Korea dan Amerika itu sangat jauh. Pastinya insting dokter itu sangat tajam, benarkan Dong Hae-ssi?”
“Mana ada yang seperti itu? Pasti pihak rumah sakit yang menghubungi dokter itu,” jawabnya.
“Geure, pasti ada seseorang yang memberitahunya, siapapun itu aku sangat berterimakasih padanya, seharusnya orang iti menceritakannya padaku saat aku sadar, tapi karena aku tidak tahu orangnya, apa boleh buat,” aku melirik kearah Dong Hae, dia hanya diam sambil menatap sepatunya.
“Tapi siapapun dia, aku harus berterimakasih padanya, pada semua orang yang sudah memberiku kesempatan kedua untuk hidup, bisa melihat keluargaku, melihat teman-temanku, tertawa, makan, minum, kelak aku akan bisa berlari lagi, dan bahkan aku bisa melihatmu bernyanyi lagi, bukankah itu menyenangkan? Aku benar-benar bersyukur dan berterimakasih untuk apapun yang kuterima,” aku merasakan butiran kristal mengalir dipipiku.
“Geure, kau harus membayar semua hutangmu kalau begitu,”
“Ne?”
“Hiduplah dengan baik, buatlah banyak kenangan indah, sayangi orang-orang disekelilingmu, araji?”
Aku hanya tersenyum dan mengangguk.
“Gomawo, kau sangat menyebalkan, tapi disaat sepeti ini ternyata kau sangat berguna,”
“Ya, apa kata-kata itu pantas terucap?”
Kami berdua tertawa kecil.
“Ya, Dong Hae-ssi, aku ingin melihat slaju, kau mau mengantarku keluar?”
“Shiro! Kau mau membeku diluar sana?”
“Kalau tidak mau ya sudah, aku bisa pergi sendiri,”
Aku mendengus sebal. Aku memutar kursi rodaku dan memutar roda. Tapi tiba-tiba Dong Hae mendorong kursi rodaku menuju keluar kamarku. Aku hanya tersenyum. Kami menuju berjalan menuju beranda. Kurasakan udara dingin dikulitku. Akhirnya aku bisa kembali melihat dan merasakan dinginnya. Kurapatkan kardiganku.
“Berapa banyak yang kulewatkan? Aku melewatkan natal dan tahun baru. Aku meninggalkan sekolah dalam waktu yang cukup lama. Apa tidak apa-apa membolos selama ini? Apa Bu Guru Lee dan Pak Guru Angker akan memarahiku dan memberiku banyak tugas? Pelatih Kim? Pasti dia akan benar-benar mengirimku ke neraka dan menyiksaku habis-habisan di sana karena aku mangkir latihan. Pasti mengerikan.”
Aku menatap salju yang jatuh satu persatu. Dong Hae yang duduk disebelahku hanya diam dan memandangi salju.
“Tapi saat ini aku seratus kali ingin merasakan pelatihan neraka Pelatih Kim dan menerima teriakan Pak Guru Angker, itu artinya aku masih bisa bertemu mereka di kehidupan yang sama, aku sangat beruntung kan?” aku menoleh untuk meminta persetujuan Dong Hae.
Dong Hae menatapku sesaat lalu mengangguk pelan. Aku tersenyum lalu kembali menatap salju. Seseorang pernah mengatakan padaku, suatu saat aka nada seseorang yang membawa keajaiban untukku. Dan aku merasa saat ini bukan hanya seseorang yang membawa keajaiban untukku. Entah berapa banyak orang yang membawa keajaiban untukku. Dan itu membuatku percaya bahwa keajaiban itu memang ada. Dan akupun paham kenapa setiap orang mengharapkan keajaiban, karena keajaiban itu benar-benar indah.
****************************************************************
Dua bulan kemudian.
“Selamat datang di rumah!!!!!!”
Akhirnya aku bisa kembali berdiri dengan kakiku sendiri. Aku sudah bisa kembali berjalan. Aku bahkan sudah bisa berlari. Rumah sakit telah mengatakan bahwa aku sudah sembuh total. Tiga bulan lamanya aku tinggal di rumah sakit menjalani segala rehabilitas dan terapi. Awalnya sangat menyakitkan memaksa kakiku untuk bergerak kembali. Ini lebih menyakitkan dibandingkan saat kaki terseret mobil. Tapi keluarga dan teman-temankulah alasan terbesar aku terus berjuang. Apalagi impianku menjadi pemain basket aku terus menjalani pemulihan yang sangat berat.
Ahli terapiku berasal dari Jepang bernama dokter Mizuno Fumiya. Dia adalah lulusan terbaik di sebuah universitas kedokteran ternama di Jepang. Dia benar-benar melakukan yang terbaik untukku. Dengan sabar dia terus membantuku melakukan penyembuhan kakiku. Dia dokter yang sangat menyenangkan dan baik hati. Dia tidak pernah marah sebesar apapun aku ingin menyerah. Dia hanya sering mengomel karena aku selalu telat datang ke tempat terapi. Dan sepertinya dia memang sangat cerewet sekali. Dia selalu berbicara panjang lebar, tapi aku suka saat dia sudah membicarakan sesautu, paling tidak rasa sakit dikakiku bisa teralihkan. Dia sering memberiku hadiah dan mengajakku jalan-jalan mengelilingi rumah sakit saat aku bosan. Berkat dia pula, aku bisa pulih lebih cepat dari yang diperkirakan.
Teman-temanku selalu datang ke rumah sakit. Bahkan Henry dan Sulli sering sekali menginap. Mereka sering kali membuat keributan hingga suster harus marah-marah kepada mereka. Hyuk Jae dan Hye Ri datang dengan cerita-cerita basket mereka. Sekolah kami memenangkan beberapa kejuaraan nasional dan mungkin akan bisa mengikuti olimpiade. Aku benar-benar merindukan basket. Dong Hae juga sesekali datang. Dia sangat sibuk mempersiapkan album barunya. Dia juga sudah beberapa kali keliling Korea untuk promosi album barunya. Dan orang-orang di rumah sakit selalu mengejar-ngejarnya saat dia berkunjung. Jadi dia harus selalu menyamar saat mengunjungiku.
Soal sekolah, aku pasti tertinggal jauh. Tapi ayah memanggil seorang guru yang mengajariku di rumah sakit, jadi aku tetap harus belajar selama di rumah sakit. Aku juga melakukan ujianku di rumah sakit. Dengan begitu aku masih tetap mengikuti sekolah tanpa harus mengulang lagi di tahun pelajaran berikutnya. Dan aku sudah bisa bermain basket lagi. Di rumah sakit pun aku menjalani terapi dengan bermain basket. Dan aku siap untuk bermain basket lagi.
Aku tersenyum menatap keluarga dan teman-temanku. Mereka menyiapkan sebuah pesta kecil untuk menyambut kepulanganku. Kami bersenang-senang hari ini. Eomma bahkan sudah mempersiapkan sebuah barbeque untuk kami. Kami mengobrol dan tertawa. Aku bahka mendapat banyak hadiah. Aku duduk di gazebo memandangi mereka yang sedang memanggang daging dan makanan lain. Tiba-tiba Dong Hae mendekatiku dan duduk di sebelahku.
“Jadi bagaimana rasanya kembali ke dunia luar?”
“Jauh lebih menyenangkan dibandingkan harus bertengkar dengan para suster di rumah sakit, mereka itu cerewet sekali, tapi aku merindukan omelan dokter Mizuno, kalau aku belum minum obatku sekarang, dia pasti akan mengomel sepanjang terapi,”
“Lalu kenapa tidak kembali saja ke rumah sakit, kau bisa bertemu dengannya setiap saat dan mendengarkan omelannya,” dia tiba-tiba kesal.
“Mwo ya? Apa kau cemburu padanya?”
“Omong kosong apa yang kau bicarakan itu?”
Aku tertawa melihat tingkahnya. Dia semakin terlihat lucu dengan wajahnya itu. Jantungku mulai tidak normal lagi. Selalu saja seperti ini.
“Kau akan bermain basket lagi?”
Aku mengangguk pelan.
“Aku memutuskan untuk tidak berhenti, aku tidak ingin usaha seseorang demi kakiku ini sia-sia saja,” aku menyindirnya.
“Geure?”
Aku tersenyum. Kami berdua diam untuk beberapa saat. Ada kalanya kami berbicara sangat banyak, bahkan tanpa perlu ada yang memulai. Tapi kadang kami bahkan tidak punya apapun untuk dibicarakan.
“Ji Hyun-aa,” panggil Dong Hae tiba-tiba.
Aku menoleh padanya. “Wae?”
Dong Hae dia beberapa saat.
“Aku akan ke Amerika,”

to be continued...

Selasa, 12 Februari 2013

In My Dream (Part 11)

Diposting oleh Popo... The Kite Runner di 06.39 0 komentar


Setelah kejadian kemarin malam, apa yang akan terjadi selanjutnya? here In My Dream Part 11.. Enjoy... ^^


Lagi-lagi Hyuk Jae menatapku dengan tatapan anehnya pagi ini. aku sedang malas menanggapinya. Tapi dia terus menerus menatapku.
“Mwo ya?” tanyaku malas.
“Aku heran, apa sekarang make up lingkaran hitam pada mata sedang trend? Kenapa setiap pagi kau memakainya?”
“Pertanyaan macam apa itu? Sudahlah, aku mengantuk, bangunkan aku kalau bel,” aku menelungkupkan kepalaku diatas meja.
“Ya, ireona!!”
Aku tidak mendengarkan kata-kata Hyuk Jae. Bagaimana bisa aku bangun sekarang? Semalaman aku tidak bisa sedikitpun memejamkan mataku. Apalagi kalau bukan karena apa yang terjadi semalam. Membayangkan saja sekarang aku tak mampu. Bagaimanapun ini terlalu mustahil untuk menjadi nyata. Seorang Lee Dong Hae? Dan aku? Dipikir dengan akal apapun itu tidak masuk akal.
Aku hampir saja terlelap saat Dong Hae datang dan menatapku beberapa saat, saat itu pula bel berdering. Hyuk Jae menepuk pundakku pelan, membangunkanku. Aku mengangkat kepalaku dan melihat sekeliling. Murid-murid yang lain sudah duduk di tempatnya masing-masing dan kulihat Bu Guru Lee masuk ke dalam kelas. Aku terpaksa bangun.
“Annyeong haseyo semuanya,”
‘Annyeonghaseyo Sengnim,”
“Sebelum pelajaran, ibu ingin mengingatkan kalian bahwa Pesta Olahraga akan dimulai satu minggu lagi, jangan lupa dengan tugas kelas kita, kalian sudah mempersiapkan semua kebutuhannya?”
Hyuk Jae menjelaskan tentang persiapannya. Sementara aku teringat ayahku, apa ayah akan datang? Seharusnya kami tidak bertengkar seperti ini. Sampai kapan ayah akan seperti ini? Pertandingan sudah dekat, tapi ayah tidak menunjukkan tanda dia akan datang. Dia bahkan tidak pernah meneleponku. Kenapa semua ini harus terjadi? Sepertinya aku masuk sekolah ini memang sebuah kesalahan, dari awal seharusnya aku tidak masuk sekolah ini. Dengan begitu semua ini tidak perlu terjadi.
Aku meniup poniku pelan. Suara Bu Guru Lee yang menyuruh kami mengeluarkan buku membuyarkan lamunanku. Aku tidak mempunyai semangat untuk mengikuti pelajaran, seperti aku memang tidak pernah punya semangat untuk belajar. Aku menatap ke luar jendela. Aku tidak sadar kalau sejak tadi Dong Hae terus memperhatikanku.
Entah kapan pelajaran berakhir. Sepertinya aku terus melamun sepanjang pelajaran. Aku tersadar dari lamunanku saat kudengar suara teman-temanku yang mulai meninggalkan kelas. Aku memandang sekelilingku, beberapa murid sudah meninggalkan kelas. Hanya beberapa murid yang masih mengobrol. Aku tidak melihat Hyuk Jae. Apa dia sudah keluar duluan? Aku menatap kosong. Aku ingin tidur. Aku menutup wajahku saat menguap dan saat aku membuka mataku tiba-tiba Dong Hae sudah berdiri di depanku. Aku terkejut setengah mati.
“Oh my ah..!!!”
“Ya, apa kau ini zombie atau semacamnya?”
“Mwo ya? Apa aku telihat seperti zombie?”
“Geure!! Ireona, palee ttaerawa!”
“Mwo?”
Aku masih kebingungan saat Dong Hae menarik tanganku dan menarikku keluar kelas. Lebih tepat dia menyeretku keluar. Aku sempat tersandung-sandung karena dia bersemangat sekali menarikku. Kenapa dia ini?
Dan disinilah kami. Di akuarium raksasa. Kenapa dia mengajakku kesini? Aku menatap akuarium besar dihadapanku, ratusan mungkin ribuan ikan berenang di dalamnya. Benar-benar menyenangkan, seperti berada dalam laut, hanya saja aku bisa berjalan dan bernafas.
“Ini,” Dong Hae memberiku sekaleng minuman dingin.
Dong Hae memakai topi dan kacamata untuk menyembunyikan wajahnya. Tapi dia masih saja tidak berbeda, orang akan dengan mudah mengenalinya.
“Oh, gomawo,” aku menerima minuman itu.
“Kajja!!!”
Dong Hae berjalan meninggalkanku. Aku buru-buru mengikutinya. Kami mengelilingi akurium dan melihat-lihat ikan yang ada di sana. Aku belum pernah kesini sebelumnya, aku pernah melihatnya di televisi, tapi aku tak menyangka akan sangat menyenangkan disini. Kami melihat berbagai macam ikan. Banyak sekali jenis ikan di sini. Kami melihat ubur-ubur, kura-kura, buaya, dan ikan pedang. Kami juga melihat ikan hiu. Benar-benar seperti di dalam laut, kami bahkan tidak perlu basah menyelam ke dalam air. Kami saling menertawakan satu sama lain, saling mengejek, berfoto bersama ikan, aku bahkan menggendong seekor penguin. Menyenangkan sekali berada di sana. Kami juga sempat melihat pertunjukan lumba-lumba yang menggemaskan. Apa semua lumba-lumba selalu sepintar itu? Mereka benar-benar ajaib. Para pengunjung diizinkan untuk berfoto bersama dengan lumba-lumba. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. aku menarik tangan Dong Hae dan mengajaknya berfoto. Awalnya dia sempat menolak, tapi akhirnya dia bersedia berfoto dengan lumba-lumba, menyenangkan sekali.
“Kenapa tiba-tiba mengajakku kemari?” tanyaku saat kami duduk di depan akuarium ikan badut sambil makan es krim.
“Ummm, aku bosan melihatmu seperti kucing yang malas, makanya aku mengajakmu kesini,”
“Ya, apa aku terlihat seperti hal-hal yang tidak berguna dimatamu? Kau bilang aku zombis, kau bilang aku kucing yang malas, sekarang apa lagi?” aku mendengus kesal.
“Geure, kau adalah orang paling malas sedunia, kau seperti ikan itu, hanya bermalas-malasan,” Dong Hae menunjuk sebuah ikan yang diam di balik tanaman, “Lihatlah ikan yang lain, mereka semua berenang kesana-kemari, hanya ikan itu yang malas, seperti seseorang,” Dong Hae menoleh padaku sambil tesenyum menyebalkan.
Aku melihat ikan yang ditunjuk Dong Hae, apa yang dilakukan ikan itu disana?
“Aku tak semalas itu,” aku memakan es krim cepat-cepat.
“Gumapta,” kata Dong Hae tiba-tiba.
“Oh?” aku menoleh menatapnya.
“Aku tidak tahu, tapi mengetahui kau berjaga saat aku operasi, membuatku senang, gumapta,” dia tersenyum sambil menatap akuarium di depan kami.
“Oh,” aku menatap es krimku yang meleleh perlahan-lahan.
“Saat operasi aku bermimpi, sepertinya bukan mimpi, terlihat sangat nyata, aku jatuh ke sebuah jurang, aku hanya berpegangan pada sebuah akar pohon yang sudah lapuk, kayu itu hampir patah, aku berpikir apa aku akan jatuh? Sepertinya tidak ada kesempatan. Tapi saat itu, aku mendengar sebuah suara, suara yang sangat menyebalkan, tapi entah kenapa aku sangat senang mendengarnya, kau tau itu suara siapa?” Dong HAe berhenti dan menatapku.
“Nugu?” tanyaku.
“Itu suaramu,”
“Ya, jadi suaraku ini menyebalkan?” tanyaku sebal.
“Tentu saja, kupikir kau sangat kecil tapi kau punya suara yang keras dan menyebalkan, kau suka sekali berteriak,”
“Ya, jjinjja.. Geurego, apa yang terjadi dalam mimpimu?”
“Hemm, aku terus mendengar suaramu memanggil-manggil, “Dong Hae-sii.. Dong Hae-ssi..” aku mencoba untuk berteriak memanggilmu, tapi tak ada suara yang keluar. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa takut, aku takut tak seorangpun menemukanku. Kayu yang kupegang patah semakin besar, sepertinya aku akan jatuh, aku pasrah, aku memejamkan mata dan menunggu kayu itu patah, tapi saat itulah, sebuah tangan memegang tannganku, erat sekali dan menarikku keatas. Dan saat kubuka mataku, aku melihat ayahku, tersenyum padaku, dan saat aku benar-benar sadar, aku sudah di ruang perawatan di rumah sakit. Aneh bukan? Benar-benar seperti nyata, itulah yang mendorongku memutuskan untuk menemui ayahku,” Dong Hae diam mengakhiri ceritanya.
Aku diam menatapnya. Dia hanya tersenyum kecil.
“Lagipula, kau sangat cerewet menyuruhku bertemu ayahku, kau tahu kau ini sangat berisik, makanya biar kau tidak berisik aku putuskan untuk bertemu ayahku, kau puas kan sekarang?”
“Ya, apa tidak ada sisi baikku yang kau lihat? Dari tadi kau terus mengejekku,”
“Obseoyo!” dia tertawa.
Aku mendengus kesal.
“Hanbondon, gumapta, jeongmal, Ji Hyun-aa” kata Dong Hae pelan.
“Kalau kau berterima kasih, belikan aku es krim lagi,” kataku sambil menyodorkan gelas es krimku yang sudah kosong.
“Ya, apa di kepalamu itu hanya ada es krim?”
Aku tersenyum. “Aku senang kau menyelesaikan semuanya, melihat dua orang pria punya hubungan seperti kau dan ayahmu itu sangat tidak menyenangkan, tapi aku lega kau menyelesaikannya,”
“Ne, kau mau es krim lagi?” tanya Dong Hae.
Aku mengangguk.
“Kalau begitu terima takkbam dariku dulu,” dan dengan sangat cepat dia memukul jidatku dan langsung berlari meninggalkanku.
“Ya!!! Jugeole???”
Aku berlari mengejarnya. Dia sepertinya berlari dengan sangat gembira, dan entah kenapa lagi-lagi jantungku berdegup tidak karuan melihat tawanya. Apa harus selalu seperti ini saat melihatnya tertawa, tapi debaran seperti ini menyenangkan bukan?
****************************************************************
Pesta olahraga sekolah kami tinggal tiga hari lagi. Kami sangat sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Kelas ditiadakan untuk sementara demi telaksananya acara ini. Pesta Olahraga sekolah kami selalu menjadi sorotan public, bahkan ada beberapa stasiun televisi yang secara khusus meliput acara ini. Berbagai SMA sekitar Seoul juga turut memeriahkan pesta olahraga ini. Kami akan memperebutkan gelar juara antar SMA di Seoul. Para guru sibuk mempersiapkan segala hal yang diperlukan untuk acara ini. para pegawai di sekolah kami juga sibuk menghias sekolah dengan segala macam hal. Berbagai bunga ucapanpun dikirim dari berbagai pihak. Kepala sekolah terus menerus mengingatkan kami melalui pengeras suara agar kami bersiap-siap untuk menghadapi pesta olahraga, kepala sekolah terus mengatakan agar kami melakukan yang terbaik dan menjadi nomor satu di setiap pertandingan. Aku berpikir apa dia tidak capek berkata seperti itu terus menerus?
Kami pun sibuk mempersiapkan diri. Latihan basket masih tetap berlanjut meski tidak terlalu intens. Aku sesekali membantu kelasku untuk membuat stand jus buah kami. Aku ingin sekali membantu menjual jus, tapi dengan mengikuti pertandingan aku tidak punya waktu untuk itu. Hari ini stand kami sudah selesai ditata, kami hanya tinggal menunggu hari pesta olahraga datang. Semua orang telihat sangat sibuk dan sangat senang. Mereka membicarakan pesta olahraga dengan penuh semangat.
 Aku duduk di taman sendirian. Aku menggenggam ponselku. Aku menekan nomor rumahku. Beberapa kali aku menekan nomor rumahku dan beberapa kali pula aku mematikannya. Akhirnya aku memutuskan untuk menelepon eonniee.
“Ya, Ji Hyun-aa, lama sekali kau tidak pernah menelepon?”
“Mian, aku sangat sibuk akhir-akhir ini, bagaimana kabarmu?”
“Aku sangat sibuk karena ujian, sepertinya otakku akan meledak, kau?”
“Eonniee, pesta olahraga,..” aku tidak melanjutkannya.
Tidak ada suara dari seberang.
“Kami akan datang, tenanglah,’ kata eonniee tiba-tiba.
“Ne?”
“Kami pasti akan datang melihatmu, aku dan eomma bahkan akan membuatkan bekal untukmu, jadi kau jangan khawatir,” kata eonnie.
“Appa?”
“Tenanglah, dia pasti akan datang bersama kami, kau fokuslah pada pertandinganmu, kami akan datang, kalau sampai kau tidak menang, aku akan menggelitikmu sampai mati, aaraji?”
“Araseo, kututup teleponnya,”
Ne, jaga dirimu,
“Araseo,”
Aku menutup teleponku dan memandang ikan-ikan di kolam. Aku ingin menelepon appa, tapi aku bahkan tidak punya keberanian untuk membayangkannya. Aku menyandarkan kepalaku di sandaran kursi dan memejamkan mataku. Angin awal musim dingin berhembus pelan, kurasakan udara dingin di sekujur tubuhku. Dan kurasakan sesuatu yang dingin menempel di pipiku, aku membuka mataku. Kulihat Dong Hae menempelkan kaleng minuman dingin dipipiku.
“Minumlah,”
“Gomawo,” aku mengambil minuman kaleng dari tangan Dong Hae, tapi tidak meminumnya, aku hanya memegangnya.
“Ayahku akan datang ke pertandingan, bukankah itu bagus?”
“Jjinjja? Itu bagus sekali, kau senang?”
“Walaupun bagaimanapun juga, aku senang, kau?”
“Oh, tentu saja mereka akan datang,” aku tersenyum kecil.
“Dan kau tahu? Sepertinya aku akan bernyanyi lagi,”
“Jjinjja?” aku menoleh kearahnya, sepertinya mataku berbinar-binar.
“Apa kau begitu senang?”
“Geurom!!!! Hanya itu yang bisa membuatku senang saat ini, aku sangat sangat sangat sangat senang,” tanpa sadar aku menggenggam tangan Dong Hae.
Dong Hae menatap tangannya yang sekarang kugenggam. Aku juga melihatnya dan sontak aku melepasnya. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal dan tersenyum canggung.
“Kalau kau senang traktir aku,”
“Ya, aku sedang tidak punya uang, tapi aku akan memberimu sesuatu,” aku membuka tasku dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya dan menyerahkannya pada Dong Hae.
“Tali sepatu?”
“Ne,” aku mengangguk. “Itu adalah tali sepatu keberuntunganku, aku selalu menang saat bertanding basket bila memakai tali sepatu itu, kau simpanlah, aku masih punya satu,” aku menunjukkan satu tali sepatu padanya.
“Jadi seperti pasangan?”
“Oh, ani, hanya untuk keberuntungan, semoga bisa memberimu keberuntungan,” kataku gugup.
“Oh, ne, gumawo,”
Aku mengangguk.
“Dong Hae Oppa!!!” tiba-tiba seseorang memanggil Dong Hae.
Kami menoleh ke sumber suara dan kami melihat Kim Ha ra berdiri sambil melambaikan tangannya ke arah kami, lebih tepatnya ke arah Dong Hae. Dong Hae berdiri dan menghampiri Ha Ra. Mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu sambil berjala menjauh dariku. Ha Ra terlihat sangat senang. Dia bahkan meletakkan kepalanya dipundak Dong Hae. Mwo ya? Kenapa aku merasa seperti ini, kenapa aku tidak suka melihatnya? Aku beranjak dari tempat dudukku. Kuputuskan untuk ke kantin, perasaan ini membuatku ingin makan.
Aku melihat Hye Ri di kantin. Aku membawa nampanku dan duduk di hadapannya. Tapi sepertinya dia tidak menyadari kehadiranku. Pandangannya sedang teralih ke hal lain. Sementara dia terus menerus tersenyum. Tangannya bertopang dagu dan tangan yang lainnya terus menerus mengaduk minuman dalam gelas didepannya. Apa yang sebenarnya dia lihat? Aku mengikuti pandangannya dan yang membuatku terkejut adalah dia sedang menatap Hyuk Jae di meja seberang kami.
“Ya, lihatlah air liurmu menetes,”
Hye Ri terkejut mendengar perkataanku.
“Mwo ya?” dia reflex membersihkan mulutnya. “Ya, siapa yang air liurnya menetes,” sadar hanya kukerjai Hye Ri mendengus kesal. Aku hanya tertawa.
“Apa yang kau lihat, kedua matamu hampir saja keluar,”
“Aniyo, aku tidak lihat apa-apa,”
“Jjinjja?” aku mulai menggodanya, “Tapi dia memang terlihat tampan dari kejauhan,” aku menoleh ke arah Hyuk Jae. Namun tiba-tiba Hye Ri menarikku untuk tidak melihat Hyuk Jae.
“Kau jangan melihatnya, nanti ketahuan,” tiba-tiba wajah Hye Ri memerah.
“Jadi kau benar-benar menyukainya?”
Hye Ri mengangguk pelan sekarang wajahnya benar-benar merah seperti tomat.
“Apa kau sangat menyukainya? Bagaimana kau menyukainya?”
“Kami sempat beberapa kali keluar bersama, dan ternyata dia sangat baik, juga menyenangkan,”
“Kalian keluar bersama?” tanyaku setengah berteriak. Hye Ri langsung menutup mulutku.
“Jangan berteriak,”
“Mian, jadi apa yang terjadi dengan kalian?”
“Busun? Tidak terjadi apa-apa, tapi sepertinya aku menyukainya,” Hye Ri kembali menatap Hyuk Jae.
“Ya, sadarlah,”
Aku hanya tertawa dan memakan makananku, sementara Hye Ri terus memandangi Hyuk Jae. Aku terus saja menggodanya.
 Selasai dari kantin aku dan Hye Ri pergi ke ruang loker. Aku harus membereskan seragamku, aku berencana mencunci semua seragam dan sepatuku. Aku akan memakainya untuk pertandingan penting tidak mungkin dengan keadaan seperti itu. Namun sesuatu yang tidak kubayangkan terjadi di ruang loker, seseorang sedang melakukan sesuatu di lokerku.
“Ya, apa yang kau lakukan?” aku hampir saja berteriak dan menarik tangan yeoja itu.
“Ga In-aa, apa yang kau lakukan?” tanya Hye Ri tiba-tiba.
“Kau kenal dia?” tanyaku pada Hye Ri.
“Dia teman sekelasku, dia juga anggota tim basket, ya, apa yang kau lakukan?”
Ga In diam dan menundukkan kepalanya, aku menatapnya dan tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku seperti tidak asing dengan wajahnya. aku pernah melihatnya di suatu tempat. Di pusat perbelanjaan, bersama Kai, geure, dia yeoja yang bersama Kai. Aku ingat.
“Ya, aku yang bersama Kai, ji?”
“Geure, aku adalah yeojachingunya Kai, apa ada masalah?”
Aku benar-benar terkejut sekarang.
“Jadi apa kau yang selama ini melakukan hal-hal itu padaku?”
“Geure! Aku yang melakukan semua itu, apa kau puas menangkapku seperti ini?”
“Wae?” tanyaku pelan.
‘Karena Kai, semua karena dia, karena dia yang terus membandingkanku denganmu, dia yang setiap saat membicaraknmu, dia.. dia.. aku bahkan tidak bisa menjadi diriku di depannya, sedangkan kau, kau selalu sempurna dimatanya, apa itu adil?” dia mulai berteriak dan menangis.
“Jadi karena itu? Aku tidak menyangka kau adalah teman sekolahku, Kai bilang kau teman di sekolahnya, apa karena ini kau melakukan semua ini?”
“Ne, aku melakukannya agar kau tidak seperti yang dibicarakan Kai, tapi entah kenapa selalu saja kau beruntung, aku benar-benar iri, aku sangat tertekan dengan semua ini, apa kau tahu? Ini menyebalkan! Sekarang kau sudah tahu semuanya, laporkan saja ke Pelatih, aku sudah tidak punya kesempatan lagi, aku juga hanya pemain cadangan,” kini Ga In terisak pelan.
Aku diam mendengar semua penjelasannya. Apa sebenarnya yang dipikirkan Kai? Kenapa membuat semuanya menjadi seperti ini? kashan Ga In.
“Ga In-aa, aku tidak pernah menganggap kau yang melakukan semua ini, aku menganggap semua yang terjadi hanyalah kecelakaan, aku tidak akan melaporkanmu ke Pelatih, kita akan ada pertandingan, kenapa kita membuatnya lebih buruk, kita tim, tidak ada pemain inti tidak ada pemain cadangan, kita semua adalah pemain, araji?”
“Jadi…” Ga In menatapku.
“Sudahlah, lupakan semua ini, kau tidak usah memikirkan kata-kata Kai, jadilah dirimu sendiri, cobalah berbicara dengan Kai, kita harus focus pada pertandingan, benarkan?”
“Ji Hyun-aa, apa kau memaafkanku?”
“Tidak ada yang perlu dimaafkan, sudahlah, dwaesso, gachi kaja,”
“Gomawo, mianhe,”
Aku hanya tersenyum. Aku, Hye Ri, dan Ga In pun meninggalkan ruang loker. Aku bahkan lupa tujuanku kesini untuk apa, tapi semua itu apa masih penting sekarang? Bukankah seorang teman lebih penting?
**************************************************************
“Dengarkan baik-baik semuanya, apapun yang terjadi kalian adalah yang terkuat, kalian adalah pemain yang terlatih nomor satu di Korea, kalian adalah tim yang kuat, kalian bermain bersama, jadi ingat kalian adalah sebuah kesatuan dengan satu tujuan, araji?” Pelatih Kim berbicara kepada kami dengan suara yang sangat keras seperti petir.
“Ne, aigesumnida, Pelatih!” jawab kami bersamaan.
“Ingat kalian harus melakukan yang terbaik, jangan takut apapun, kalian yang terbaik, araji?” kata Pelatih Kim lagi.
“Ne, aigesumnida, Pelatih!” jawab kami lagi.
Kemudian kami melakukan high five bersama dan berakhirlah latihan sore itu. Ini adalah latihan terakhir kami sebelum pertandingan. Kami sudah melakukan berbagai pengecekan. Mulai dari seragam, kondisi fisik kami, strategi permainan, dan masih banyak lagi. Kami juga sempat bertanding hari ini. kami yakin kami akan bisa bertanding dengan baik. Menang bukan tujuan kami, Pelatih Kim selalu mengajarkan kami untuk bermain dengan ahti dan melakukan yang terbaik. Menang atau kalah itu wajar dalam pertandingan, tapi melakukan yang terbaik adalah yang utama. Kalau kami melakukan yang terbaik, kami pasti menang.
Aku pun bertekad untuk melakukan yang terbaik dalam pertandingan kali ini. aku tidak ingin mengecewakan keluargaku. Dan yang paling penting aku ingin menunjukkan pada appa bahwa pilihanku tidak salah, aku akan berhasil dalam basket, akan kubuat dia mengerti bahwa apa yang dia pikirkan selama ini sudah salah.
Kami membubarkan diri dan masng-masing dari kami melakukan sesuatu. Aku mengambil minuman dari dalam tasku. Aku berjalan bersama Ga In menuju bangku temapt kami menaruh tas kami. Aku lega semua ini sudah selesai, menyenangkan sekali bisa menemukan seorang teman. Walaupun sebenarnya dia yang menyebabkan aku dan Kai putus, tapi kupikir ada baiknya juga, entah apapun itu. Kulihat Hyuk Jae memberikan botol air minum pada Hye Ri, aku tersenyum, pasti ada sesuatu diantara mereka. Aku menggendong tas punggungku dan mendekati Hye Ri yang masih senyum-senyum sendiri.
“Ya, apa yang membuatmu terlihat sangat bahagia?” aku menepuk pundaknya.
Dia terkejut untuk beberapa saat.
“Ji Hyun-aa, kau mengagetkanku, wae? Apa tidak boleh aku senang?”
“Sejujurnya, apa yang terjadi antara kau dan Hyuk Jae?” aku mendekatkan wajahku ke wajah Hye Ri, Hye Ri mundur beberapa langkah.
“Umm, yang terjadi..” Hye Ri melambaikan tangannya ke arah Hyuk Jae, Hyuk Jae tersenyum dan melayangkan sebuah kedipan. Aku hampir saja muntah melihatnya. “Seperti baru saja,” Hye Ri tersenyum.
“Apa kau sangat menyukai Hyuk Jae?”
“Hmm,” Hye Ri mengangguk. “Aku menyukainya sampai ingin mati,”
Ya, apa dia tidak terlalu berlebihan? Tapi aku tersenyum mendengar jawabannya.
“Bagaimana kau tahu kau menyukainya?” tanyaku penasaran.
“Umm, keunyang.. Aku sering memikirkannya. Ketika ada hal baik terjadi, orang pertama yang ingin kuberi tahu adalah dia, dan juga orang pertama yang ingin aku lihat saat aku sedih, aku merasa jika dia ada disampingku, maka semuanya akan baik-baik saja, ya seperti itulah,” Hye Ri terus tersenyum.
Aku memandang takjub padanya, bagaimana dia bisa berkata semua itu?
“Ya, ada apa denganmu?”
“Ah, tiba-tiba aku merinding,” aku berbalik meninggalkannya sambil merapatkan jaketku.
Apa yang dikatakan Hye Ri itu benar? Aku memandang Dong Hae sekilas, dia sedang tertawa bersama teman-temannya, dan lagi-lagi jantungku berdesir. Aku menggelengkan kepala dan meninggalkan lapangan basket.
*********************************************************************
Besok hari pertandingan. Aku semakin kalut dan gugup. Aisshh!! Kenapa aku ini? aku tidak boleh seperti ini, aku harus siap menghadapi apapun besok. Lupakan soal appa, yang penting aku bisa membuktikan pada appa aku bisa, aku harus bisa.
“Ya, kau ini punya berapa wajah sebenarnya?” tiba-tiba Hyuk Jae sudah didepanku.
“Busun ya? Kenapa kau selalu complain tentang wajahku?”
Dia hanya tertawa.
“Ya, kau sudah dengar? Tim basket kita akan mengikuti seleksi tim tingkat nasional,”
“Jjinjja?? Uwaa.. Daebak!!”
“Setelah pertandingan sekolah, kita akan mengikuti seleksi itu,”
“Itu bagus, aku harus memberitahu..” aku tidak melanjutkan kata-kataku, aku hanya diam, jantungku tiba-tiba berdegup kencang.
“Nugu? Hye Ri? Jangan beritahu dia dulu, aku bermaksud membuat kejutan untuknya, araji?”
“Oh, ani, geurende, aku akan memberitahu…” aku ragu untuk beberapa saat.
“Lalu siapa yang ingin kau beritahu?”
Aku hanya diam. Aku teringat kata-kata Hye Ri.
“Ah, aniyo, aku pergi dulu ya,”
Aku meninggalkan Hyuk Jae yang masih keheranan. Kenapa aku tiba-tiba merasa aneh seperti ini? Ini aneh, kenapa aku jadi berpikiran yang tidak-tidak? Aku berjalan di lobi sekolah, semua orang masih sibuk mempersiapkan pesta olahraga. Kata-kata Hye Ri kemarin terus menerus memenuhi kepalaku. Apa benar yang dikatakannya?
“Aku sering memikirkannya. Ketika ada hal baik terjadi, orang pertama yang ingin kuberi tahu adalah dia, dan juga orang pertama yang ingin aku lihat saat aku sedih, aku merasa jika dia ada disampingku, maka semuanya akan baik-baik saja,”
Ah, eohtteokaji? Aku menghela nafas panjang. Kenapa aku jadi terus memikirkan ini? Omo! Tiba-tiba aku melihat Dong Hae bersama Pelatih Kim dan Dokter Ji Hoon. Mereka sedang membicarakan sesuatu seepertinya. Dan tiba-tiba aku menjadi gugup dan kebingungan. Aku menghentikan langkahku. Jantungku kembali berdegup kencang. Aigoo!! Aku mundur beberapa langkah, lalu berbalik dan berlari masuk ke sebuah kelas yang kosong. Aku menatap mereka melawatiku dari kaca pintu.
“Aahh, michonabwa!” gumamku, kusandarkan kepalaku dipintu.
Kenapa aku jadi takut bertemu Dong Hae? Apa yang sebenarnya kurasakan? Apa gara-gara waktu malam itu? Aaahhhh!!! Aku mengacak rambutku pelan.
“Ya, Ji Hyun-aa, Dong Hae-ssi keunyang chingu ya! Chingu!!” aku berkata pada diriku sendiri. “Sadarlah Ji Hyun, dia itu penyanyi terkenal, kuasai dirimu!”
Aaahhh!! Tapi kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkannya? Bayangan Dong Hae terus melayang-layang dikepalaku. Aku berdiri di pinggir lapangan sepakbola menatap kosong murid-murid yang sedang berlatih. Aku meniup poniku pelan. Andwe! Aku tidak boleh seperti ini, Dong Hae hanya teman, titik.
“Ya, Ji Hyun-aa!!” tiba-tiba seseorang memanggilku dan aku melihaat Dong Hae berdiri diujung lapangan. Dia membawa sebuah amplop berwarna putih.
Aku mundur beberapa langkah.
“Ya, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu,” dia mulai berjalan mendekatiku.
Dan secara spontan aku berbalik dan berlari meninggalkan lapangan sepakbola, aku terus berlari walaupun Dong Hae terus menerus memanggilku. Aku juga tidak mengerti kenapa aku tiba-tiba lari.
“Ya, Ji Hyun-aaa, berhenti, kenapa kau berlari?” Dong Hae terus berteriak memanggilku.
Aku terus berlari. Aku bahkan mempercepat lariku. Aku tidak bisa menghadapinya sekarang. Aku terus berlari tanpa arah dan tujuan, yang terpenting aku bisa menghindari Dong Hae, tapi kenapa aku harus menghindarinya? Saat itulah Dong Hae sudah di depanku. Aku menghentikan lariku dan memalingkan mukaku.
“Ya, kenapa kau lari?” tanya Dong Hae sambil terengah-engah.
“Aku tidak berlari, aku hanya latihan sedikit, jogging,” aku berbohong.
“Geure?”
Aku hanya mengangguk. Nafasku seperti mau pecah, ditambah lagi jantungku yang berdetak semakin keras.
“Ada yang mau kutunjukkan padamu, aku mendapat kontrak dengan Dreamworld Entertainment,” wajahnya terlihat senang. Aku juga sangat senang mendengarnya.
“Oh, chukkaeyo,” tapi aku memberinya selamat dengan nada yang datar. Aku terlalu sibuk mengatur detak jantungku. Huft!
“Kau tidak terlihat seperti ingin memberiku selamat?” tanya Dong Hae heran.
“Oh, aku biasa memberi selamat dengan ekspresi seperti ini juga,” jawabku seadanya.
“Kau tahu, aku senang bisa mendapatkan kontrak ini, dan kuputuskan aku akan terus bernyanyi, aku akan segera pulih, dan aku akan kembali bernyanyi, apa kau senang?”
“Geure, tentu saja aku senang,” tapi untuk sekarang itu tidak penting, yang lebih penting bagaimana jantungku ini normal kembali?.
“Kau baik-baik saja?” tanya Dong Hae.
“Ah, ne, gwaenchana,”
“Apapun itu, kau sedang berlaku aneh sekarang,” kata Dong Hae.
Aku hanya tersenyum mendengar kata-katanya. Apa aku terlihat jelas? Apa keanehanku terlihat sangat jelas? Aku harus pergi dari sini, aku baru saja akan mencari alasan saat ponselku bordering. Ah terimakasih Tuhan. Aku memberi tanda pada Dong Hae untuk pergi, Dong Hae hanya mengangguk. Aku berjalan beberapa langkah untuk meninggalkan Dong Hae.
“Yoboseyo?”
Ji Hyun-aa, ini aku, gwaenchana?”
“Oh! Eonniee! Ne, gumapta!”
Gumapta? Sudah jangan aneh, kau harus makan, istirahat, kau harus jaga kondisi tubuhmu, besok kau harus melakukan yang terbaik, buat appa mengerti, araji?”
“Ne, araseo, kau hanya ingin bilang itu?”
Ne, besok aku dan eomma akan datang, appa juga,”
“Jjinjja?”
Geure, makanya kau jangan khawatir lagi, kau harus focus pada pertandinganmu,”
“Ne eonniee, gumapata!”
“Kututup teleponnya,”
Aku hanya mengangguk. Benarkah appa akan datang? Sebaiknya aku bersiap-siap, aku harus menunjukkan yang terbaik. Hwaiting!!!
******************************************************************
Pesta Olahraga pun tiba. Sekolah kami menjadi sangat ramai. Selain murid dari sekolah kami, sekolah kami juga dipenuhi oleh murid-murid dari seluruh SMA di Seoul. Suara gemuruh terdengar di seluruh penjuru sekolahku. Entah ada berapa ribu orang yang memenuhi lapangan utama sekolah kami. Semua orang tampak begitu semangat dan antusias. Sebentar lagi kami akan mendengarkan pidato Direktur sekolah kami, dengan begitu pesta olahraga akan segera dibuka. Aku berdiri dibarisan terdepan, aku bisa melihat kepala sekolah yang sedang bersiap-siap untuk berpidato. Aku melihat sekelilingku. Berbagai macam warna seragam sekolah lain terlihat disegala penjuru.
Sekolahku lebih mirip sebuah festival budaya daripada sebuah pesta olahraga. Ada lebih banyak pertunjukan hari ini. Ada sebuah panggung yang sejak tadi menyuguhkan band-band sekolah kami dan juga band dari sekolah tamu. Dan juga lebih mirip sebuah pasar, karena berbagai stand yang didirikan oleh kelas-kelas kami berdiri berjajar dimana-mana. Ada stand yang makanan, minuman, pakaian, aksesoris, stand ramal, stand foto, dan masih banyak lagi. Aku sampai kaget melihat wujud sekolahku hari ini.
Banyak wartawan dan reporter yang juga lalu lalang kesana kemari meliput berita dan mengambil berbagai gambar. Suara kamera dan lampu blitz ada dimana-mana. Aku bahkan sudah beberapa kali diwawancara oleh berbagai majalah dan stasiun televisi. Apa festival olahraga sekolah kami begitu terkenal? Pengunjungnya juga sangat banyak. Khusus hari ini siapapun boleh datang ke sekolah kami untuk melihat pertandingan dan mengunjungi stand kami.
Dan setelah pidato Direktur sekolah kami yang cukup panjang, acara pesta olahraga pun dimulai. Ada berbagai cabang olahraga yang dilombakan dalam acara ini. Mulai dari sepakbola, basket, lompat tinggi, bulutangkis, baseball, taekwondo, lari jarak jauh, lari jarak pendek, lari marathon, renang, senam indah, bahkan ada lomba marching band dan cheerleaders. Semua lomba diadakan bersamaan, karena sekolah kami mempunyai fasilitas yang mendukung setiap cabang olahraga, maka perlombaan bisa diadakan secara bersamaan. Terkadang aku heran dan sekaligus takjub dengan sekolah ini, melihat semua fasilitas yang ada.
Perlombaan basketpun akan segera dimulai. Kami berkumpul di ruang loker kami dan bersiap-siap menghadapi lawan. Aku sudah memakai seragamku. Aku hanya tinggal mengganti sepatuku. Aku memandangi sepatuku dalam-dalam. Aku harus bisa, aku harus melakukan yang terbaik dan menunjukkan pada ayahku kalau aku bisa. Aku mengambil tali sepatu merah dari dalam tasku dan melepas tali sepatuku, lalu menggantinya dengan yang merah. Sekarang tali sepatuku yang kiri bewarna putih dan yang kanan bewarna merah, terlihat lebih stylish sekarang, menurutku.
“Ya, model apa itu? Kenapa tali sepatumu berbeda?” tanya Hye Ri yang duduk disampingku.
“Apa kau tidak tahu? Ini sedang ngetrend,” jawabku sambil mengemasi barang-barangku.
“Apanya yang ngetrend?” kami berdua tertawa.
Pelatih Kim masuk dan menyuruh kami untuk berkumpul. Kami berkumpul dan mendengarkan wejangan darinya.
“Aku tak punya apa-apa untuk disampaikan, kurasa kalian sudah hafal dan sudah tertulis diotak kalian, menang kalah bukan tujuan kita, tapi melakukan yang terbaik akan membawa kita menjadi pemenang, araji”
“Ne, Pelatih Kim!” jawab kami serempak,
“Jangan pernah bermain sendiri, kalian adalah nadi yang memompa jantung secara bersamaan, kalian adalah tim, dan tim tidak pernah bermain sendiri, kita bermain bersama, berlatih bersama, berdiri dan berlari di lapangan yang sama, memegang bola yang sama, mamasukkan ke ring yang sama, dan bersama menjadi yang terbaik. Apappun yang terjadi kalian bukan satu diantara banyak, tapi kalian adalah berbagai orang yang menjadi satu, kalian pahami itu dan kalian harus ingat, tim selalu bersama, mengerti?”
“Mengerti, Pelatih” jawab kami serempak.
Apanya yang tidak punya sesuatu untuk disampaikan? Untuk beberapa menit selanjutnya Pelatih Kim terus saja berbicara seperti seorang jenderal. Lebih tepatnya berteriak kepada kami. Kenapa dia ini? Setelah memenuhi telinga kami dengan nasihat-nasihat militernya yang menggelegar kami melakukan high five bersama.
“Menjadi yang terbaik!!!” teriak Pelatih Kim.
“Menjadi yang terbaik!!!” ulang kami serempak.
“1, 2, 3, HWAITING!!!!!!”
Kami mengangkat tangan kami bersama-sama. Kamipun membubarkan diri dan menuju ke lapangan. Dong Hae mendekatiku.
“Kau lihat?”
“Ne?”
Dia memperlihatkan sepatunya padaku. Dan kulihat dia mengikatkan tali sepatu yang kuberikan padanya. Sekarang sepatu sebelah kanannya bertali warna merah dan sepatu sebelah kirinya bertali warna biru. Aku menatapnya. Dia memakainya?
“Ini jimat keberuntungan, kita harus menang, ji?” katanya.
“Hmm!!” aku mengangguk mantap padanya. “Kajja!!”
Kami berjalan menuju lapangan basket. Saat itulah kulihat eomma dan eonnieku berdiri di samping pintu masuk lapangan.
“Eomma, eonnie!!”
Aku berlari menghampiri mereka.
“Tada!!!” tiba-tiba Henry dan Sulli muncul dari balik pintu.
“Henry-aa, Sulli-aa!!! Kalian datang??”
“Ne!!” jawab mereka bersamaan.
“Aku ikut pertandingan sepakbola, tapi aku ingin melihatmu tersangkut di ring, pasti itu akan memberiku semangat saat bermain nanti,” dia langsung saja mengejekku.
“Tersangkut di ring tidak termasuk kan?” katanku.
“Kau harus bermain bagus hari ini, araji?” kata Sulli.
“Araseo,”
“Henry-aa, ayo cari tempat duduk,” Sulli menyeret Henry untuk mencari tempat duduk.
“Au senang kalian datang,” aku beralih menatap eomma dan eonnie.
“Bagaimana mungkin kau bertanding dan kami tidak datang?”
“Gumawo,”
“Kau harus menang, kalau tidak jangan jadi dongsaengku lagi, araji?” ancam eonnie.
“Mwo ya? Ah, appa neun odiga?” tanyaku.
Eomma dan eonnie saling pandang. Aku menunggu jawaban mereka.
“Ji Hyun-aa, ayahmu, dia masih saja marah, aku sudah mengajaknya, tapi melihatmu bermain basket, lebih baik dia tidak melihatnya sama sekali..”
“Dia akan menyusul,” eonnie memotong perkataan eomma. “Geokjeongmara, appa akan datang, kau bermainlah dengan baik,”
“Oh, ne, araseo!” aku tahu appa tidak akan datang. “Oh, eonniee, kau mau kan merekam aku selama aku bertanding?”
“Tentu, aku akan merekam adegan kau terkena bola, wek!” dia menarik eomma masuk ke lapangan.
“Semoga berhasil Ji Hyun,” kata eomma.
“Ne,” aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka. Appa, kenapa kau tidak datang? Aku berharap lebih kau akan datang. Aku menghela nafas panjang dan berjalan gotai masuk ke lapangan. Tanpa kusadari Dong Hae melihat semuanya.
Pertandingan basket sudah dimulai. Pertandingan pertama adalah tim aki-laki sekolahku melawan sebuah sekolah asrama laki-laki. Tim kami sudah siap di tengah lapangan, begitu juga tim lawan. Dong Hae sempat melihat ke arahku sekilas, aku membisikkan kata fighting dan dia mengangguk. Pertandingan berlangsung cukup ketat tetapi seru. Kami sempat tertinggal delapan angka di babak pertama, tapi setelah istirahat minum, kami bisa mengungguli mereka. Kami menang di pertandingan pertama.
Pertandingan selanjutnya adalah tim sekolahku melawan tim sebuah sekolah khusus perempuan. Aku menghelas nafas panjang, ini giliranku. Aku menyapu pandanganku ke bangku penonton, kulihat eomma, eonnie, Sulli dan Henry berteriak memberiku semangat. Tapi tak kulihat appa disana. Kenapa dia belum datang? Atau dia memang tidak akan datang? Aku bersiap pada posisiku. Aku harus bisa melakukan yang terbaik. Aku menatap lawan-lawanku, lalu teman-teman timku, Pelatih Kim, eomma, eonniee, Henry, Sulli, penonton, dan Dong Hae. Dia mengangguk pelan. Lalu peluit dibunyikan.
Bermain basket selalu menjadi sebuah kebahagiaan untukku. Aku ingat saat pertama kali aku melihat sebuah bola basket menggelinding dan berhenti tepat dikakiku. Aku memungutnya dan bertanya pada ayah itu bola apa. Dia menunjuk ke sebuah lapangan, dan kulihat seseorang melompat kearah ring dan memasukkan bola kedalamnya. Saat itulah aku jatuh cinta pada permainan ini. Lalu aku meminta ayahku untuk membeli sebuah bola basket dan aku memainkannya setiap hari. Semakin hari aku semakin menyukai basket, aku selalu bisa menemukan dunia yang baru saat bermain basket, saat aku bermain basket aku selalu berfikir, apa ada yang bisa lebih baik dari ini?
Dan hal itulah yang kurasakan sekarang, berlarian di tengah sebuah lapangan basket. Bersama timku, bersama sorakan penonton, bersama lawanku, bersama diriku yang sangat bersemangat. Mendrible bola, mengoper bola, melakukan tembakan, melompat kearah ring, dan mencetak angka. Tepuk tangan dan semangat dari penonton, pelukan dari teman-temanku, teriakan Pelatih, ketinggalan angka, semua terjadi hari ini. Suara komentator, kilatan blitz kamera, apa aku akan masuk majalah? Aku sangat senang membayangkan semua ini. Setiap keringat yang mengalir dan suara decit sepatuku, apa ada yang bisa lebih baik dari ini?
Tim lawan sangat kuat. Sepertinya mereka pemain basket pro. Mereka dengan mudah mencetak angka, dan kami harus berjuang sedikit keras untuk menyamakan kedudukan kami. Babak pertama menjadi sebuah pertandingan yang alot antara kami. Mereka begitu kuat dan cepat, sangat terlatih. Saat babak kedua kami menjadi sangat cepat dan tepat, setiap operand an tembakan selalu masuk, dan entah kenapa tim lawan menjadi sedikit melunak. Dan pada akhirnya kami memenangkan pertandingan pertama untuk tim putri. Aku tersenyum puas ditengah lapangan, aku mandi keringat, tapi aku juga mandi kebahagiaan.
Kami harus menghadapi tiga pertandingan lagi. Kalau kami bisa memenangkan tiga dari empat pertandingan maka kami akan masuk ke final. Pertandingan-pertandingan selanjutnya tidak menjadi mudah. Aku tidak pernah membayangkan kalau pertandinga antar sekolah akan menjadi seserius ini. Kami harus mengeluarkan semua yang kami punya agar kami bisa sampai ke final. Dan kami bermain dengan sangat bagus, walaupun di pertandingan ketiga kami kalah tipis, tapi kami masih bisa terus berlanjut dan memenangkan pertandnigan keempat. Dengan begitu kami masuk final.
Tak terasa kami telah melewati seharian yang melelahkan dan menyenangkan. Baik tim laki-laki maupun perempuan, kami masuk final. Tim laki-laki akan melawan sebuah sekolah terkenal di Seoul. Kami masuk final melawan sebuah sekolah asrama perempuan. Pertandingan final akan dilaksanakan satu jam lagi. Kami punya waktu untuk beristirahat sebentar.
“Ya, Ji Hyun-aa, kau daebak!!” kata Henry tiba-tiba duduk di sebelahku. Dia memakai kostum sepakbola, sebauh handuk menutupi rambutnya.
“Kau sendiri?” aku meneguk minumanku.
“Tentu saja kami masuk final, dan kami akan melawan sekolahmu,”
“Uwaa.. Aku ingin tahu siapa yang akan menang?”
Kami berdua tertawa. Sulli datang membawa makanan untuk kami. Kami memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar. Hyuk Jae dan Hye Ri bergabung bersama kami. Kami menikmati stand-stand yang ada, berfoto dan sekarang kami berdiri di stand ramal milik kelas Hye Ri.
“Ya, Ji Hyun-aa, cobalah,” kata Hye Ri sambil mendorongku.
“Shiro!!” aku tidak mau, kenapa aku harus mau?
Tapi Hye Ri terus mendorongku dan memaksaku duduk di depan seorang murid laki-laki. Dia sedang menata kartu-kartu diatas meja. Dia meletakkan tangannya diatas kartu-kartu itu.
“Ambilah satu kartu,” katanya.
Aku memandangnya beberapa saat, lalu kartu-kartu itu. Ragu-ragu aku menarik sebuah kartu dari deretan kartu-kartu itu. Aku menunggu apa yang akan dilakukan anak laki-laki itu.
“Huwaaa!!!!” tiba-tiba murid itu berteriak saat membuka kartuku.
Kami semua kaget melihat reaksinya. Terlebih aku. Lalu aku melihat kartuku. The Death. Apa maksudnya?
“Ya, kau dikelilingi bayang-bayang kegelapan, ini yang terburuk, kau harus berhati-hati,” katanya penuh ketakutan.
Aku hanya diam lalu menatap sekelilingku. Teman-temanku menatapku dengan tatapan takut.
“Kau.. Kau buang jauh-jauh kartu ini,” katanya sambil menyerahkan kartu itu padaku.
“Ani, shiro!” aku berdiri meninggalkan tempat itu.
Apa-apaan itu. Kenapa harus percaya pada sebuah kartu menyebalkan itu? Bayangan kegelapan? Apa lagi itu? Bisa-bisanya mereka membohongi orang dengan cara seperti ini?
“Ya Ji Hyun-aa,” panggil Hye Ri.
Aku tidak menoleh, aku terus berjalan menuju ruang loker. Pertandingan final akan segera dimulai, aku tidak boleh terpengaruh, aku akan menang hari ini. Kenapa harus memikirkan hal-hal seperi itu?
“Kau tidak perlu memikirkannya, itu hanya sebuah ramalan bodoh,” kata Hye Ri saat diruang loker.
“Siapa yang memikirkan hal bodoh seperti itu,” jawabku.
Tapi sebenarnya aku sedikit memikirkan hal itu. Apa akan terjadi sesuatu yang buruk? Tapi untuk apa memikirkan hal itu? Semua berjalan lancar hari ini. Aku bahkan mengalami hari yang hebat. Kenapa harus rusak gara-gara sebuah kartu bodoh? Aku keluar dari loker dan menuju lapangan. Kulihat eomma dan eonnie menungguku.
“kau hebat, sejak kapan kau bisa sangat sehebat ini?” tanya eonnie sambil mengacak rambutku.
“Bukankah aku selalu hebat?”
“Ji Hyun-aa, setelah ini kau final kan? Lakukan yang terbaik,” kata eomma.
“ne, eomma, aku pasti akan memenangkan pertandingan ini,”
“Ah, kita harus mengambil gambar,” eonniee mengeluarkan kameranya.
Kamipun berfoto bersama. Melihat semangat disekelilingku, apa bisa dirusak oleh sebuah kartu? Pertandinganpun dimulai. Aku sudah siap diposisiku. Kulihat Sulli, eonnie, eomma, dan penonton. Semua memberikan semangat. Hanya satu yang tak kulihat. Sepertinya aku memang tidak akan melihatnya. Tapi apa sekarang itu penting? Aku harus melakukan yang terbaik, dan suatu saat akan membawanya ke lapangan ini dan tersenyum bangga melihatku.
Peluit dibunyikan. Aku melompat mengambil bola dan segera berlari. Dentuman bola yang memantul di lantai seirama dengan dengan detak jantungku. Pertandingan sepertinya berlangsung sangat cepat. Kami berlarian bersama, mengoper bola kesana kemari dan mencetak angka. Tak pelak lagi kami unggul di babak pertama, dan kami masih terus unggul di babak kedua. Dan bisa ditebak dengan mudah, kami memenangkan pertandingan ini. Lapangan basket langsung dipenuhi oleh gemuruh suara penonton. Aku tersenyum bahagia ditengah lapangan. Tiba-tiba Hye Ri datang memelukku. Dia sangat bahagia, dia bahkan memnagis terisak.
“Ya, uljima, kita menang, kenapa kau menangis?”
“Bodoh, aku menangis bahagia,” katanya sambil terisak.
Kami merayakan kemenangan kami. Pelatih Kim mendatangi kami dan berteriak kegirangan, dia bahkan melompat-lompat. Dia memberi kami high five satu persatu.
“Kalian semua hebat, hebat sekali, yang terbaik!” katanya berulang-ulang.
Pengeras suara memberitahu kami pertandingan final tim laki-laki akan segera dimulai. Kamipun keluar dari lapangan dan menuju bangku pemain. Hyuk Jae tiba-tiba memelukku.
“Hebat Ji Hyun-aa, kau hebat, kalian semua hebat!!” kata Hyuk Jae senang.
“Kau juga harus menang kalau begitu,”
“Geurom, akan kuperlihatkan kau Air Hyuk Jae,” katanya sambil tersenyum lebar.
“Apanya yang Air Hyuk Jae?” aku tersenyum dan duduk di baangku pemain.
“Sepertinya jimatmu bekerja,” kata Dong Hae tiba-tiba.
“Oh, sudah kubilang, aku selalu menang saat memakainya,” kataku.
“Kalau begitu apa ini akan bekerja untukku juga?” tanya Dong Hae.
“Itu tergantung kau,” jawabku singkat. “Berjuanglah,”
“Apa perlu kau mengatakan itu?” tanya Dong Hae sambil berlalu.
Apa maksudnya?
“Ji Hyun-aa,” Sulli memanggilku dari bangku penonton.
Aku menoleh.
“Kau daebak, yang terbaik,” teriaknya.
Eomma dan eonnie melambaikan tangan padaku. Aku tersenyum dan balas melambai pada mereka. Pertandingan dimulai. Tidak seperti pentandinganku, pertandingan ini lebih sulit. Masing-masng dari tim berusaha melakukan yang terbaik. Angka-angka tercetak tidak terlalu cepat karena pertahanan yang sama-sama kuat. Mereka sama-sama mempunyai strategi yang saling bisa menjatuhkan lawan satu sama lain. Skor kami seri sampai istirahta minum.
Pelatih Kim memberikan arahan-arahan kepada mereka. Di babak kedua pertandingan terjadi lebih sengit. Kedua tim sama-sama kuat. Tidak ada tim yang bertahan dengan angka yang lebih unggul, mereka saling mengejar angka. Benar-benar pertandingan yang sulit. Para penontonpun sampai harus menahan nafas saat melihat mereka bertanding. Belum bisa ditebak siapa yang akan memenangkan pertandingan ini. waktu tinggal satu menit lagi dan skor masih imbang. Mereka masih saling merebut bola, mengoper kesana-kemari, dan saat itulah kulihat Dong Hae berlari kearah ring, tangannya melambai-lambai minta operan, Hyuk Jae mendrible bola beberapa kali lalu melemparnya kearah Dong Hae. Bola melambung tinggi, Dong Hae siap melompat dan menangkap bola. Ruangan tiba-tiba hening semua menanti. Dong Hae melompat dan menangkap bola, mendrible beberapa kali sambil berlari dan melompat kearah ring. Seorang pemain menarik Dong Hae dari belakang. Duapuluh detih lagi, dan dengan cepat Dong Hae melempar bola, bola berputar-putar dibibir ring, kami semua diam menunggu, semua mata tertuju pada bola yang berputar itu. Masuk, masuk, masuk, masuk, aku terus berkata dalam hati. Seiring dengan kembalinya Dong Hae dan pemain lawan ke lantai, bolapun masuk kedalam ring dan jatuh memantul beberapa kali kelantai. Peluitpun berbunyi dan ruangan dipenuhi gemuruh sorak sorai penonton.
Kami semua berlonjak kegirangan. Kami berlarian kedalam lapangan dan merayakan kemenangan kami. Kertas warna-warni keluar dari atap ruangan, bendera sekolah kamipun dikibarkan. Pelatih Kim menangis ditengah lapangan. Kami saling berhigh five dan berpelukan. Sekarang kami semua tahu, inilah rasanya terbang.
Akhirnya tiba saatnya penutupan acara. Kami memenangkan beberapa cabang olahraga. Kami memenangkan basket, renang, lompat tinggi, sepakbola, dan lari marathon. Dengan begitu kami menjadi sekolah yang memenangkan cabang perlombaan terbanyak. Penyerahan piala sedang berlangsung. Kami menerima piala dengan perasaan yang sulit diungkapkan. Kami tidak henti-hentinya berfoto dengan piala kami. Wajah kami terlihat sangat lelah, tapi apa itu yang harus ditunjukkan sekarang? Wajah kami tidak bisa lepas dari seyum. Eomma, eonnie, terlihat binar bahagia dimata mereka. Saat memegang piala itu, aku pastikan tidak ada yang lebih baik lagi dari ini.
*******************************************************************
Aku terbangun keesokan harinya saat jam dimejaku menunjukkan pukul 12 siang. Aku menggeliat pelan. Aku ingat kemarin setelah mengantar eomma, eonnie, Henry, dan Sulli ke gerbang, aku kembali ke ruang loker, mengemasi barang-barangku, mendengarkan pelatih tentang pesta kemenangan yang akan diadakan nanti malam, lalu aku kembali kekamarku dan setelah itu aku tak ingat apapun, sepertinya aku tertidur sangat pulas. Ah, badanku sepertinya remuk. Aku mengambil ponselku. Ada beberapa pesan. Aku membukanya, dari eonnie, Sulli, Henry, Hyuk Jae, Hye Ri, dan sebuah nomor baru. Tiba-tiba seseorang masuk. Dan kulihat Hye Ri datang sambil membawa sebuah kotak.
“Ya, sampai kapan kau mau tidur?” tanyanya lalu duduk di tempat tidurku.
Aku bangun dan duduk disebelahnya.
“Apa yang kau bawa? Kuharap kau membawa makanan karena aku sangat lapar,” kataku.
“Makanlah sepuasmu,” Hye Ri membuka kotak makannya dan menyerahkannya padaku.
Aku tersenyum padanya dan mulai memakan sandwich yang dibawa Hye Ri.
“Nanti malam pesta kemenangan, kita pergi bersama?”
Aku mengangguk, mulutku penuh sandwich.
“Kau mau pake baju apa?” tanya Hye Ri tiba-tiba.
Aku tersedak pelan.
“Apa maksudmu pake baju apa? Bukankah memakai seragam?” tanyaku.
“Memangnya kau ini polisi pergi ke pesta memakai seragam? Tentu saja kita harus memakai baju yang bagus, apa kau tidak pernah pergi ke pesta?”
“Tapi kan kita disekolah?”
“Lalu kenapa kalau disekolah? Bagaimana kalau kita mencari baju setelah ini?”
“Mwo?”
Dan disinilah kami. Berdiri di pintu sebuah butik. Apa yang dipikirkan Hye Ri?
“Ya, kenapa menyeretku kemari?”
“Diamlah, ttaerawa!!”
Lalu tiba-tiba kami, tepatnya aku, menjadi korban penyiksaan seorang peñata busana dan peñata rambut jadi-jadian. Aku penasaran, dulu itu mereka terlahir sebagai wanita atau pria? Kenapa menyeramkan seperti ini? Dan untuk empat jam selanjutnya, aku benar-benar menjadi sasaran penyiksaan mereka. Aku harus bolak-balik mengepas gaun, aku harus bersin-bersin karena bedak, dan rambutku terus saja ditarik-tarik. Mereka pikir aku ini mainan?
Akhirnya setelah sekian kalinya aku mencoba sepatu, akhirnya selesai juga penderitaanku. Sekarang aku bersembunyi dibalik sebuah gorden ruang gangti.
“Ya, Ji Hyun-aa, keluarlah, palee!!” Kata Hye Ri dari luar.
Kenapa aku harus berpakaian sperti ini? Aku sangat malu. Aku belum penah memakai baju seperti ini dan berdandan seperti ini, apalagi dengan rambut yang entah model apa ini. aku tidak diizinkan untuk memakai kaca sejak tadi, jadi aku juga tidak tahu wujudku ini seperti apa.
“Ya!! Shin Ji Hyun, keluarlah, kita akan terlambat kalau kau seperti ini,” sekarang Hye Ri sudah mulai berteriak.
Aishh! Aku keluar dari balik gorden pelan-pelan. Dengan sepatu seperti ini mustahil aku bisa berjalan normal. Aku mengintip dan melihat Hye Ri yang juga sudah berubah. dia cantik. Akhirnya aku benar-benar keluar dari ruang ganti itu.
“Ji Hyun-aa!!!!” tiba-tiba Hye Ri berteriak.
Aku menatapnya kaget.
“Kenapa berteriak?”
“Apa itu kau? Jjinjja.. Jjinjja yeoputta!!!!”
Dia menarikku dan mendorongku kesebuah cermin. Aku ternganga melihat bayanganku dicermin. Benarkah itu aku? Aku berdiri malu-malu dengan gaun warna biru muda selutut, sebuah corsage bunga menempel didadaku. Rambutku diikat beratakan dan wajahku, apa itu aku? Sepertinya dua mahkluk alien itu melakukan banyak hal diwajahku, tapi sekarang terlihat sangat natural, apa aku secantik itu? Aku tersenyum.
“Apa yang kau lakukan dengan tersenyum seperti itu? Kajja!!”
Kami keluar dari butik dan ternyata turun salju. Aku memandang butiran salju yang turun dan tersenyum. Aku cepat-cepat memakai mantelku. Dingin sekali. Kami kembali kesekolah diantar oleh sebuah mobil.
“Ya, apa kau yang membayar semua ini?”
“Semua ini milik orangtuaku, apa perlu aku membayar?” jawab Hye Ri ringan.
“Mwo?”
Dia hanya tersenyum.
Kami sampai disekolah saat malam tiba. Kami menuju ruang aula. Berbeda dengan diluar, sangat hangat didalam aula. Dan sepertinya semua orang sudah berkumpul disana. Dan entah kenapa saat kami sampai, semua orang menatap kearah kami. Aku merasa aneh dipandangi seperti itu. Aku melihat bajuku, dan meraba wajahku.
“Apa ada sesuatu diwajahku? Kenapa mereka melihatku seperti itu?”
“Ya, apa kau masih belum sadar?”
Apa maksudnya? Kami berjalan menuju teman-teman kami yang sudah berkumpul. Kami saling menyapa dan mengobrol. Kepala sekolah baru saja memberikan sambutan dan sekarang sebuah boyband sedang beraksi diatas panggung. Aku mengambil segelas jus jeruk dan meminumnya.
“Uwaaa, kau benar-benar wanita Ji Hyun, kupikir dulu kau laki-laki,” kata Hyuk Jae.
“Mwo? Apa aku terlihat seperti laki-laki bagimu?” aku mendengus sebal.
“Tapi aku senang kau seorang perempuan,” kata Hyuk Jae, lalu dia tertawa.
“Apa maksudmu? Jangan bicara yang aneh-aneh ya,”
Beberapa murid menari mengikuti irama music yang diabwakan boyband itu. Bagus juga boyband ini. Aku menggerakkan kepalaku mengikuti music yang mereka nyanyikan.
“Kau terlihat seperti orang sekarang,” Dong Hae sudah disebelahku sekarang.
Aku menoleh. Melihatnya dengan setelan jas malam ini, apa tidak apa-apa jantungku berdegup lebih kencang?
“Mwo ya? Memangnya dulu aku terlihat seperti apa biasanya?” tanyaku gugup.
“Seragam sekolah, baju olahraga, kaos, dan celana pendek, kau seperti murid abadi,” dia tersenyum mengejekku.
“Apa perlu mengatakan itu sekarang?”
“Ya, apa seperti itu orang yang cerewet menyuruh orang lain untuk berdamai dengan ayahnya?”
Aku menoleh kearahnya.
“Busunmariya?”
Dong Hae menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ya, kau sangat cerewet menyuruhku berbaikan dengan ayahku, kau sendiri bagaimana? Apa bisa mengurus hubunganmu dan ayahmu? Cih, kau ini berlagak sekali,”
“Itu urusanku, bukan urusanmu,” bagaimana dia tahu?
“Sekarang kau tahu kan rasanya? Kau tahu kan apa yang harus kau lakukan?”
Aku hanya diam. Tiba-tiba seseorang berbicara dibelakangku.
“Nona Ji Hyun, saya diminta ayah nona untuk mengajak nona pulang.”
“Pak Han? Kenapa disini?” Pak Han adalah supir ayah.
“Ayah nona menyuruh saya menjemput nona untuk pulang,”
“Wae?”
“Saya tidak tahu nona, tapi anda harus pulang,”
Tiba-tiba ponselku bordering.
“Yoboseyo?”
“Pulanglah, kau sudah tidak bisa sekolah disana lagi, aku akan mengirimmu ke sekolah lain, kau senang kan? Bukankah kau dulu tidak mau masuk sekolah itu”
Telepon dimatikan.
“Yoboseyo? Yoboseyo? Appa? Appa?”
Ya, apa maksudnya ini? apa ayah benar-benar ingin memindahkanku? Aku menatap Pak Han, lalu Dong Hae. Dia hanya diam, tapi matanya mencari tahu apa yang terjadi. Aku mengangguk kepada Pak Han. Pak Han juga mengangguk dan pergi meninggalkanku.
“Wae yo?’ tanya Dong Hae.
“Aku harus pulang, sepertinya ayahku tidak bisa berpikir dengan sehat, aku pergi,”
Aku pergi meninggalkan pesta dan mengikuti Pak Han. Apa-apaan ayah ini? kenapa dia bertindak seenaknya sendiri? Aku memakai mantelku dan berlari menuju mobil. Salju masih tetap turun. Selama perjalanan aku terus bertanya dalam hati kenapa ayah seperti ini? Aku mulai menyukai sekolah ini, kenapa ingin memindahkanku? Aaahh, aku bisa gila menghadapi ayah. Aku memasang earphone dan mencoba mendengarkan music. Perjalanan kerumahku masih cukup lama. Aku memejamkan mataku mencari ketenangan.
Kemudian tiba-tiba semua terasa seperti terpental didalam mobil. Aku mencabut earphoneku dan tedengar suara yang sangat keras. Lalu kurasakan mobil mulai berputar-putar. Aku merasa pusing dan belum sempat aku mengetahui apa yang terjadi, mobil menabrak sesuatu, entah mobil entah apapun itu suara sangat keras dan aku terpental menabrak pintu mobil. Aku berteriak. Tiba-tiba pintu mobil terbuka dan aku jatuh di aspal jalan. Aku merasakan kakiku terjepit, aku berusaha menariknya sementara mobil terus bergerak. Aku memaksa kakiku keluar dan aku terguling beberapa kali di jalan sebelum akhirnya aku menabrak pembatas jalan. Mobil akhirnya berhenti berguling dan menabrak sebuah pohon. Aku hilang kesadaran. Kurasakan gelap disekelilingku.
Setelah beberapa saat aku sadar kembali. Kurasakan darah mengalir dipelipisku. Aku masih belum mengetahui apa yang terjadi, aku melihat ke sekelilingku. Kulihat Pak Han berusaha keluar dari mobil yang sudah rusak parah itu. Aku mengalami kecelakaan mobil sepertinya. Aku berusaha bangun dan duduk dipinggir jalan. Tapi aku tak dapat merasakan kakiku. Tubuhku sangat sakit. Salju di sekitarku berubah menjadi merah karena darahku. Dingin, sangat dingin. Tiba-tiba pandanganku kabur. Dan aku melihat bayangan masa kecilku, saat pertama kali aku masuk sekolah dasar, saat aku bermain basket bersama ayah, saat aku menangis dipelukan eomma karena digoda eonnie, saat aku jatuh bermain basket, semua muncul begitu saja dihadapanku. Ah, beginikah aku akan meninggalkan dunia ini? Apa aku akan mati sekarang?
Saat itulah Pak Han meraih tanganku dan memelukku. Tiba-tiba aku ingin menangis, dan aku menangis dipelukan Pak Han. Aku masih ingin hidup, masih banyak yang ingin kulakukan.
“Pak Han, apa aku akan mati? Pak Han, aku.. aku.. aku ingin tetap hidup,” kataku terbata-bata. Dadaku terasa sakit sekali.
“Nona, apa yang nona bicarakan? Nona akan tetap hidup,”
Beberapa orang mendatangi kami. Dan saat kudengar suara sirine aku benar-benar tidak sadarkan diri. 
to be continued...
 

Popo.. The Kite Runner Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea