Rabu, 16 Januari 2013

In My Dream (Part 6)

Diposting oleh Popo... The Kite Runner di 19.12 0 komentar

Apa iya Dong Hae tidak bisa bernyanyi lagi?? In My Dream Part 6 for you...

“Ya, Ji Hyun-aa, kau lama sekali? Kakimu tidak apa-apa kan?”
“Ah, Hye Ri-aa, mianhae, tadi Dokter Ji Hoon sedang ada urusan, jadi aku menunggunya sebentar, nan gwaenchana,”
“Syukurlah. Apa kau sudah dengar?”
“Mwo ya?”
“Kita akan melakukan pelatihan khusus di luar selama tiga hari, bukankah itu sangat menyenangkan?”
“Jjinjja?”
“Jeongmal yo, kau ini kemana saja? Kenapa kau selalu saja tidak tahu berita-berita penting? Latihan akan dimulai hari senin, kita harus bersiap-siap,”
“Semua anggota tim basket akan ikut?”
“Geurom, aku sudah tidak sabar,”
Aku hanya tersenyum. Pelatihan khusus?
*************************************************************
 Hari pelatihan khusus akhirnya tiba. Kami pergi dengan naik bus sekolah. Ada 15 siswa dan Pelatih Kim, Dokter Ji Hoon, serta Bu Guru Lee, wali kelasku,  yang pergi bersama kami. Kami memnyanyi bersama selama perjalan ke tempat latihan. Ternyata kami akan latihan di alam terbuka. Kami akan mendirikan tenda, memasak, dan tentu saja kami akan berlatih basket. Tempat ini sangat menyenangkan, dan entah kenapa ada sebuah lapangan basket di perbukitan seperti ini.
Aku menghirup udara pegunungan yang sangat segar. Sudah lama sekali aku tidak pernah meghirup udara sesegar ini. kami besama-sama mendirikan tenda. Aku satu tenda dengan Hye Ri. Ternyata cukup susah mendirikan sebuah tenda. Kami sempat beberapa kali gagal sampai Pelatih Kim membantu kami untuk mendirikan tenda. Hampir satu jam kami mendirikan semua tenda yang ada. Kemudian ada pembagian tugas untuk hari itu. Dan entah apa yang ada di pikiran Bu Guru Lee sehingga dia memilihku untuk tugas memasak hari itu. Apa dia tidak tahu aku pernah hampir membakar dapur rumahku? Ah, tentu saja dia tidak tahu.
Setelah pembagian tugas, Bu Guru Lee langsung menyuruhku ke tenda memasak. Aku hampir saja menolaknya, tapi karena semua orang sudah mulai melakukan tugasnya, aku hanya menurut dan ke tenda memasak. Aku menatap bingung pada semua bahan masakan yang ada di sana. Bagaimana aku bisa memasak? Untuk menyebutkan nama bahan masakan itu saja aku tidak akan bisa. Ah, aku membuka ponselku dan mencari-cari resep di internet. Apa yang harus kumasak? Aku mulai mengambil kentang dan berusaha memotongnya. Kenapa sulit sekali.
“Apa kau mau makan kentang dengan kulitnya? Minggir!”
Dong Hae datang dan merebut pisau dariku.
“Kau seperti akan memotong jari-jarimu,”
“Ya, apa kau tidak melakukan tugasmu?”
“Tugasku cuci piring, dan kalau kau tidak cepat menyiapkan makanan, apa yang bisa kucuci?”
Dia mulai mengupas ketang satu per satu dan mencucinya.
“Ya, kau bisa masak?”
“Setidaknya lebih baik dibandingkan kau,”
Dia mulai memotong semua bahan masakan. Uwa, dia cekatan sekali.
“Wah, daebak, kau sangat cepat, dimana kau belajar masak?”
“Saat SD aku selalu masak sendiri, jadi aku sudah sangat hebat sejak SD,”
“Geure yo??”
“Aku bohong, aku bercanda,”
“Ya, kau bisa bercanda??”
Dia tidak menjawab dan terus memanaskan kaldu. Memotong-motong daging dan tahu, mencampurkan bumbu-bumbu dan mengolah kari.
“Wah, kau seperti koki. Koki!” aku melakukan sikap hormat kepadanya.
“Kalau begitu kau asisten koki, airnya sudah mendidih, cepat kau masukkan sayurannya,”
“Siap koki!”
Akhirnya kami berdua memasak bersama. Ternyata dia cukup pandai memasak. Aku tidak pernah tahu kalau seorang Lee Dong Hae bisa memasak. Aku bahkan berani bertaruh kalau dia hampir tidak mengenal dapur. Tapi ternyata dia sangat cekatan mengolah semua bahan masakan. Kenapa dia begitu banyak rahasia?
“Ya, apa kau sudah sangat lapar dan ingin memakanku? Kenapa melotot padaku seperti itu?”
“Oh, aniyo,”
Ternyata aku terus-terusan menatapnya. Ya, Ji Hyun-aa, kenapa kau tidak bisa menjaga sikapmu? Babo! Aku memukul-mukul kepalaku pelan. Ssetelah hampir satu jam kami memasak, makanan pun siap dihidangkan. Kami menata makaanan di meja panjang dan memanggil semua orang untuk makan. Pelatih dan guru makan secara terpisah. Sepertinya mereka makan makanan cepat saji. Disini kami memang harus mandiri. Tapi sebenarnya ini tidak adil menurutku.
“Ya, Ji Hyun-aa, kau yang memasak ini semua?” tanya Heechul Sunbae, dia adalah ketua tim kami.
Aku hanya tersenyum.
“Jjinjja? Tak kusangka kau bisa masak,” kata Hyuk Jae.
“Aku benar-benar tidak tahu kau bisa masak,” kata Hye Ri.
“Kau tidak menambahkan micin kan? Atau jangan-jangan kau memakai bumbu ramen instant?” tanya Jong Hwa, dia memang sangat menyebalkan.
“Sudahlah, manhi mokcha!” kata Heechul sunbae.
Kami semua pun makan. Aku menoleh pada Dong Hae dan tersenyum.
“Waa, massitta!! Kau benar-benar berbakat!” kata Hyuk Jae.
“Benar Ji Hyun, ini enak sekali,” tambah Hye Ri.
“Oh, ne??”
Aku mencoba masakannya. Benar, ini benar-benar enak. Aku menoleh pada Dong Hae lagi. Aku membentuk kata enak dan dia hanya tersenyum. Semua orang tampaknya senang dengan masakan buatan kami, sebenarnya buatan Dong Hae, tapi kan aku juga membantu. Bagaimana dia bisa membuat masakan seenak ini? Benar-benar mengejutkan. Untunglah dia bisa masak jadi aku tertolong kali ini.
Setelah makan, kami mulai melakukan latihan pemanasan. Kami lari mengelilingi tempat kemping selama beberapa kali. Kami juga melakukan berbagai pemanasan dengan menggunakan bola basket. Kami tidak bisa bersantai di sini. Jangan harap bisa bersantai di bawah pelatihan Pelatih Kim. Dia adalah pelatih dari neraka. Kalau kau tidak ingin kena api neraka, maka kau harus serius saat latihan.
Latihan berlangsung hingga malam. Kami sempat bertanding bebrapa kali. Aku merasakan badanku remuk redam. Aku sepertinya merasakan sedang menjalani pelatihan militer. Kami memang tidak harus merangkak di tanah, tapi ini sama saja. Aku merasakan tubuhku terpisah satu sama lain. Setelah latihan selesai, aku istirahat sebentar dan madi. Segar sekali mandi setelah latihan, benar-benar seperti hidup kembali.
Setelah makan malam, aku menyusul teman-temanku yang sedang menyalakan api unggun. Mereka sedang ngobrol dan minum coklat panas. Ada yang membawa gitar dan beberapa dari mereka mulai bernyanyi. Aku menikmati hangatnya api unggun. Udara malam dingin sekali.
“Ya, Dong Hae, bernyanyilah untuk kami sebuah lagu,” kata Heechul sunbae.
Dong Hae yang sedang membuat coklat panas, menoleh dan menggeleng.
“Ayolah, sebuah lagu saja, hibur kami,”
Aku menatapnya dan dia akhirnya mendekat ke api unggun. Jong Hwa memberikan gitar padanya dan dia mulai bernyanyi. Kami semua diam mendengarkan dia bernyanyi. Bahkan pelatih Kim,  Dokter ji Hoon, dan Bu Guru Lee ikut mendekat dan mendengarkan dia bernyanyi. Dia selalu bernyanyi dengan sangat indah. Suaranya begitu menyentuh dan dia selalu menghayati setiap lagu yang dia nyanyikan. Sepertinya dia selalu bisa menyampaikan pesan kepada setiap pendengarnya dengan lagu yang dia nyanyikan.
Sebuah lagu selesai dia nyanyikan, dia terbatuk di akhir lagu. Dokter Ji Hoon langsung mendekatinya.
“Gwaenchana?” tanyanya panik.
“Nan gwaenchana,” Dong Hae terlihat aneh sejenak.
Malam itu berlanjut. Semua orang bernyanyi dan bersenang-senang. Sampai saatnya untuk tidur. Aku tidak bisa tidur malam itu. Ini tidur di alam bebas pertama bagiku, sebelumnya aku tidak pernah tidur ditanah, tidak pernah untuk hal sungguhan. Kulihat Hye Ri sudah terlelap. Seharusnya aku seperti dia, tidur nyenyak karena kelelahan. Tapi aku bahkan tidak merasa mengantuk sama sekali. Aku membuka tendaku. Di luar sangat sepi. Aku keluar dari tendaku tanpa mengeluarkan suara.
Aku berjalan-jalan di sekitar tempat perkemahan. Aku berjalan agak jauh dari tenda. Ada sebah pohon besar di sana. Di bawah, ada aliran sungai dan aku bisa melihat seluruh kota dari sini. Kenapa ada pemandangan seindah ini? Aku duduk diantara akar-akar pohon besar yang menyembul dari dari tanah. Aku memandang langit.
“Uwaa, yeoputta!!”
Banyak sekali bintang di langit. Tanpa ada awan sedikitpun.
“Kau bisa dihukum kalau ketahuan ada di sini,”
Aku menoleh. Aku melihat Dong Hae.
“Kau sendiri?”
Dia tidak menjawab. Dia berjalan dan kemudian duduk tak jauh dari tempatku duduk. Kami diam memandang pemandangan di bawah kami.
“Kenapa kau di sini?” tanya Dong Hae.
“Aku tidak bisa tidur, sepertinya aku tidak terbiasa tidur di tanah,”
Dia diam lagi. Aku ingin bertanya banyak hal padanya. Dia sangat misterius. Sangat berbeda saat aku melihatnya di televisi. Aku sangat menyukainya saat dia tersenyum menyapa para penggemar, saat dia bernyanyi, saat dia menari, saat dia tertawa di depan penonton, aku selalu membayangkan dia adalah orang yang sangat menyenangkan. Aku sangat menyukai matanya saat dia bernyanyi di atas panggung. Aku memang belum pernah melihat dia bernyanyi di atas panggung, aku selalu menonton di televisi atau di internet. Aku sangat menyukai gayanya, aku, aku menyukainya? Aku menggelengkan kepalaku. Aku suka dia karena dia artist berbakat. Wajar kan seperti itu? Bukankah fans menyukai artist idolanya?
“Apa kau begitu suka menatapaku?”
“Oh!” aku terkejut mendengar kata-katanya. Apa dari tadi aku menatapnya?
“Apa aku sangat menawan?”
“A.. Ani.. Apa maksudmu?”
Dia hanya tertawa kecil. Ah, dia sangat tampan saat tertawa.
“Ya, Dong Hae-ssi, kau akan terus bernyanyi kan?”
“Mworago?” dia menoleh padaku penuh tanda tanya.
“Maksudku, kau tidak akan berhenti bernyanyi kan?”
“Itu bukan urusanmu,” dia menatap pemandangan dibawah.
“Tentu saja itu urusanku,” aishhh, apa yang kukatakan?
“Mwo? Kau ini siapa berani berkata seperti itu?” Dong Hae terdengar marah.
“Aku.. aku.. Aku adalah fans mu, jadi apa yang terjadi padamu, itu penting untukku,” aku semakin ngelantur.
“Itu bukan urusanmu,”
“Tapi kau harus tetap bernyanyi, bagaimanapun juga itu impianmu kan? Kau harus terus berusaha walaupun kau harus menjalani operasi, kau tidak boleh berhenti,”
Kini Dong Hae menatapku tajam.
“Darimana kau tahu aku harus operasi?”
“Oh.. itu.. ituu.. aku tadi tidak sengaja mendengar kau berbicara dengan Dokter Ji Hoon, mianhae, tapi bukankah itu tidak penting, operasimu lebih penting,”
“Tentu saja itu penting, bagaimana kalau orang lain tahu?”
“Mianhae.. Jeongmal mianhae, aku.. aku hanya..”
Tiba-tiba terdengar suara. Itu suara Heechul sunbae. Kami berdua terkejut dan ketakutan. Dong Hae menarik tanganku dan membawaku ke balik pohon besar itu. Ada celah untuk bersembunyi di sana. Omo! Dia sangat dekat denganku dan kenapa aku berdebar-debar seperti ini? dia melingkarkan tangannya di pundakku. Aku menahan napasku. Bukankah dulu kami pernah berpelukan? Tapi kenapa sekarang aku merasa sangat gugup seperti ini? Suara langkah kaki Heechul sunbae semakin dekat, aku bahkan bisa melihat cahaya senternya. Aku merapatkan tubuhku dan memejamkan mataku. Debaran di dadaku sangat mengganggu. Bagaimana kalau Dong Hae mendengarnya?
Setelah beberapa saat, Heechul sunbae sepertinya sudah pergi. Aku dan Dong Hae keluar dari persembunyian kami. Kami berdiri di sana tanpa mengatakan apapun. Aku memandang sekelilingku untuk menghilangkan gugupku. Dong Hae mendekatiku, aku semakin gugup.
“Jangan sampai seorangpun tahu tentang ini, dan jangan campuri urusanku,”
“Mwo ya? Tapi.. Kau..”
Dong Hae berbalik pergi sebelum aku sempat berkata apa-apa.
“ya, Dong Hae-ssi, aku tak akan membiarkannya, kau tidak boleh berhenti bernyanyi, kau harus tetap bernyanyi, ya! Dong Hae-ssi, aiiisshh” aku berteriak padanya.  
Aku menghela nafas panjang. Kenapa jadi seperti ini? aku harusnya tidak berkata apapun. Aisshh, aku ini bodoh sekali. Aku terus berada di tempat itu untuk beberapa saat.
Pagi-pagi sekali kami dibangunkan dan harus melakukan lari keliling area perkemahan sebanyak sepuluh kali. Aku masih sangat mengantuk, sepertinya aku hanya tidur selama beberapa menit. Dan aku harus bangun di pagi sedingin ini? Kami juga harus keluar masuk hutan. Kami berhenti untuk sarapan. Setelah itu kami melanjutkan latihan kami. Pelatih Kim benar-benar memberikan pelatihan khusus dari neraka. Kami harus benar-benar mngeluarkan seluruh tenaga kami hari itu. Pelatih Kim memberikan banyak strategi baru kepada kami. Dia terus saja berteriak kepada kami agar kami tetap bersemangat. Sebenarnya dia tidak perlu berteriak. Kami sudah sangat bersemangat hari itu. Tapi itulah Pelatih Kim, pelatih dari neraka.
Setelah beberapa set pertandingan, kami beristirahat untuk sesaat. Aku merasa badan dan tulang-tulangku terpisah. Keringat membasahi sekujur tubuhku. Kami semua seperti sudah kehilangan nyawa. Tapi sebenarnya latihan ini sangat menyenangkan. Pelatih Kim selalu membiarkan kami melakukan apa yang kami mau. Pelatih Kim selalu memberikan ruang untuk kami mengembangkan kemampuan kami.
“Apa kalian lelah?”
Apa pertanyaan itu perlu? Tentu saja, aku bahkan sudah hampir mati.
“Neee…” jawab kami bersama-sama. Aku tidak ikut menjawab.
Bu Guru Lee membagikan minuman dingin kepada kami. Aku langsung meneguknya hingga hampir habis.
“Kalian harus meningkatkan kemampuan kalian, jangan pernah takut dengan lawan kalian, kalian bermain dalam tim, teman kalian adalah nadi kalian, nadi tidak berdiri sendiri, nadi saling berhubungan untuk bisa memompa darah ke jantung, kalian harus bisa menjaga kerja sama tim, kalian adalah satu, araji??”
“Ne, aigesemnida!!!” jawab kami bersamaan.
Pelatih menyuruh kami untuk bertanding sekali lagi sebelum latihan diakhiri siang itu. Aku benar-benar sudah tidak punya tenaga. Aku menyesal hanya makan sedikit saat sarapan, sekarang aku merasa sangat lelah. Aku hanya berlari kesana kemari dan beberapa kali memegang bola. Tiba-tiba seseorang menendang kakiku. Aku limbung dan terjatuh. Aku merasa kakiku sangat sakit. Aku terbaring di lapangan, aku tidak berusaha untuk bangun, aku tak punya kekuatan bahkan untuk membuka mata. Nafasku naik turun.
“Ya, Ji Hyun-aa, gwaenchana??”
Aku sedikit membuka mataku. Pelatih Kim, Hye Ri, Heechul sunbae, dan Hyuk Jae mengerumuniku.
‘Hhh.. hhh.. ne, gwaenchana,” kataku sambil terengah-engah.
“Apa kau merasa ada yang sakit?” tanya Pelatih Kim.
Aku mengangguk dan tangan lemasku menunjuk mata kakiku. Kurasakan sakit mulai menjalar ke seluruh kakiku. Pelatih Kim memeriksa pergelangan kakiku.
“Kau terkilir, kau bisa bangun? Pergilah ke tempat Dokter Ji Hoon, dia akan merawatmu, yang lain kembali ke permainan, ”
Aku mencoba untuk bangun. Aku memang bisa bangun, tapi sangat sakit untuk berjalan. Aku berjalan terpincang-pincang menuju tenda kesehatan. Sakit sekali. Tiba-tiba pelatih Kim sudah disampingku dan memapahku. Dia membawaku ke tenda kesehatan dan Dokter Ji Hoon dengan sigap melihat lukaku. Kakiku terlihat membiru saat kaos kakiku di lepas.
“Lukamu tidak terlalu serius, hanya terkilir ringan, aku akan memberi krim dan membungkusnya dengan perban, dua hari pasti sembuh, bagaimana kau bisa jatuh?”
“Entahlah, sepertinya aku tidak berkonsentrasi sehingga aku terpeleset,” aku tidak mungkin mengatakan seseorang sengaja menendangku. Pelatih Kim akan sangat marah.
“Berhati-hatilah lain kali, kakimu adalah asset terbesarmu saat ini,” kata Dokter Ji Hoon terus saja  mengoceh sambil membungkus kakiku dengan perban.
“Jadi aku tidak bisa mengikuti latihan?”
“Kau ini bicara apa? Kau mengigau? Apa kau pernah melihat sesorang dengan kaki dibungkus perban seperti mumi berlarian memasukkan bola dalam ring?” Pelatih Kim mulai mengoceh.
Aku menggeleng pelan.
“Sudahlah, kau istirahat saja, biarkan kakimu istirahat, sehingga kau bisa ikut dalam pertandingan,” kata Dokter Ji Hoon bersamaan dengan dia membungkus kakiku.
“Ne, araso,”
“Kau tinggallah dengan Dokter Ji Hoon, dengarkan setiap kata-katanya,”
Lalu Pelatih Kim keluar dan menghilang di balik tenda. Aku mendengus kesal
“Kenapa dia suka sekali teriak-teriak? Apa dulu dia besar di hutan?”
“Tepatnya hutan belantara,”
“Tidak heran kalu sifatnya seperti gorilla, harusnya dia jadi pelatih singa sirkus saja, mereka pasti jadi sahabat baik,”
Doter Ji Hoon hanya tersenyum mendengar celotehanku.
“Nah, sudah selesai, kau istirahatlah, jangan terlalu banyak gerak,”
Aku mengangguk. Aku tiduran di tempat tidur tenda kesehatan. Badanku terasa sakit semua. Aku menatap langit-langit tenda. Dokter Ji Hoon terlihat sedang membuat teh. Aku mengambil ponsel di sakuku dan mulai membuka internet. Ada beberapa berita tentang Dong Hae yang terancam gagal kontrak dengan label internasional.
“Kau mau teh?” Dokter Ji Hoon menyodorkan secangkir teh padaku.
“Ah, khamsahamnida,” aku meyeruput teh panas itu. “Uwaa, enak sekali,”
Dokter Ji Hoon hanya tersenyum.
“Aku akan keluar sebentar, kau tetaplah di sini,”
“Ah, ne, araso,”
Dokter Ji Hoon keluar dari tenda dan aku sendirian di tenda. Aku harus bagaimana ya? Lalu aku hanya berbaring menatap langit-langit tenda sampai seseorang masuk.
Ya, hyung, aku merasakan tenggorokanku..”
Katak-kata Dong Hae terhenti saat menyadari Dokter Ji Hoon tak ada dan hanya melihatku dengan wajah terkejut. Aku lebih terkejut lagi.
“Hyung? Jadi dokter Ji Hoon adalah kakakmu?”
“Apa kau pikir semua orang yang kupanggil hyung adalah kakakku?”
“Tapi, tapi…”
“Sudahlah Dong Hae, kenapa harus disembunyikan?”
Tiba-tiba Dokter Ji Hoon masuk ke dalam tenda. Aku menatap dua namja di hadapanku. Kejutan apa lagi ini? kenapa harus aku yag menerima semua kejutan ini? bukankah di berita Dong Hae anak tunggal? Tapi bukankah memang harus menghormati yang lebih tua? Wajar kan Dong Hae memanggilnya hyung? Dokter Ji Hoon lebih tua darinya.  
“Kami memang saudara, tapi memiliki saudara yang tidak popular bagi seorang artis tidak terlalu baik untuk sang artis kan?” kata Dokter Ji Hoon dengan santai.
Dong Hae mendengus.
“Jjinjja?? Jadi kalian saudara?”
Bukannya menjawan, Dong Hae beringsut meninggalkan tenda. Aku hendak mengejarnya tapi ternyata kakiku sangat sakit untuk bergerak.
“Dia memang seperti itu, sangat pemarah dan kekanak-kanakan, jangan beritahu siapapun kalau kau tidak ingin melihatnya mengamuk. Dia akan sangat tidak suka kalau orang lain tahu aku adalah hyungnya,” kata Dokter ji Hoon sambil memeriksa kertas-kertas di mejanya. “Sebenarnya dia tadi mau apa? Apa dia tadi mengatakan tentang tenggorokan?”
Aku benar-benar di antah berantah sekarang. Dokter Ji Hoon berbicara seolah-olah dia mengatakan “Hei, jangan makan permen, nanti gigimu sakit,” padahal dia melarangku untuk mengatakan rahasia besar. Tapi kenapa dia bisa sesantai itu? Kalau aku tidak dianggap saudara oleh eonnieku sendiri, aku pasti akan marah. Aku ingin bertanya, tapi entah kenapa aku sangat sungkan pada Dokter Ji Hoon.
“Apa yang ingin kau tanyakan?”
Aku terkejut. Apa keluarga mereka bisa membaca pikiran?
“Kau melihatku seperti ingin menelanku bulat-bulat, sangat jelas kau ingin mengetahui sesuatu kan?”
Aku mengangguk pelan.
“Apa yang ingin kau ketahui dari dua orang kakak beradik yang tidak akur? Bukankah hal biasa kalau ternyata dua orang memiliki hubungan darah? Setidaknya aku berpikiran seperti itu,” kata Dokter Ji Hoon duduk di sampingku.
“Kenapa kau berpikiran seperti itu, ini memang tidak aneh, hanya saja..”
“Hanya saja dia seorang artis kan?” Dokter Ji Hoon memotong perkataanku. Dan memang itulah yang ingin kukatakkan. Aku mengangguk pelan.
“Hanya karena dia artis, kenapa tidak mengakui sebuah keluarga? Aku sedikit kecewa padanya. Hubungan kami sebenarnya tidak buruk. Hanya kami tidak punya waktu untuk memahami satu sama lain. Aku adalah aturan ayah, dan dia adalah anak yang melanggar semua aturan ayah. Aku menjadi dokter adalah keinginan ayah, mungkin dia sedikit beruntung karena memiliki keberanian melawan ayah. Seharusnya aku yang membencinya. Dia membuat kekacauan dan pergi dari rumah. Ayah sangat marah. Dan setelah itu eomma menjadi sakit-sakitan. Ayah menginginkan Dong Hae menjadi sepertinya, diplomat, pengacara, atau apapun itu. Menjadi penyanyi tidak pernah ada di daftar ayah. tapi dia melawan dan pergi dari rumah. Sampai saat ini pun Dong Hae tidak pernah pulang ke rumah. Kami sangat merindukannya. Terutama eomma. Dia sangat ingin Dong Hae pulang. Aku mencoba berdamai dengannya, tapi sepertinya dia menjaga jarak denganku. Aku sengaja menjadi dokter pribadinya, tapi sepertinya dia tak tergoyahkan. Dia tidak mau public tahu karena dia tidak ingin keadaan keluarganya menjadi sorotan. Ah, kenapa kau harus mendengarkan kisah keluargaku? Mianhae.” Kata Dokter Ji Hoon tiba-tiba serba salah.
“Ani, gwaenchana, aku senang kau mau menceritakan itu padaku, setidaknya aku berguna di sini,” aku tersenyum dan dia menatapku dengan tatapan aneh. Entah kenapa sepertinya Dokter Ji Hoon menatapku dalam-dalam. Lalu dia tersenyum.
“Gumapta, kau ternyata cukup berguna,”
“Mwo ya…”
Kami tertawa. Bagaimana semua ini bisa terjadi? Aku yang remaja biasa ini bisa mengalami banyak hal-hal yang tak terduga.
Malam ini Pelatih Kim memberi kami banyak sekali penjelasan. Aku bahkan tidak bisa mengingat semua kata- kata Pelatih. Dia bersemangat sekali. Bukankah dia memang sealu seperti itu? Malam ini malam terakhir kami di camp. Besok kami sudah kembali ke sekolah. Lagipula apa yang bisa kulakukan untuk tinggal di sini lebih lama? Aku juga tidak bisa ikut latihan. Aku tidak tahu pertandingan seperti apa yang akan kami hadapi kelak, apa sangat besar sehingga kami harus terus berlatih? Entahlah, aku masih harus memikirkan undangan untuk orang tuaku. Aku harus mengatakan apa pada mereka? Apa tidak kuberitahu saja mereka?
Sama seperti malam sebelumnya, aku tidak bisa tidur. Jadi aku hanya duduk di depan api unggun sambil memainkan ponselku. Aku rindu Henry dan Sulli. Sulli masih tidak mengangkat teleponku. Apa dia sangat marah? Henry juga tidak menghubungiku. Aku hanya memainkan layar ponselku tanpa tujuan. Sampai seseorang mendatangiku.
“Bukankah ponsel dilarang saat latihan?”
“Pelatih Kim??? Tapi bukankah sekarang kita sedang tidak latihan? Geurigo, apa bisa aku latihan dengan kaki terbebat seperti mumi?”
“Geure, apa yang bisa kau lakukan?” Pelatih Kim duduk di sebelahku dan menghangatkan tangannya di atas api unggun. “Kenapa tidak tidur?”
“Entahlah, sepertinya aku tidak bisa tidur di tanah,” jawabku seadanya.
“Ne, anak sepertimu, apa yang kau bisa?”
Aku mendengus. Dia memang suka sekali mengejekku.
“Apa yang kau pikirkan?”
“Mwo? Memang apa yang kupikirkan?”
“Kenapa tanya aku? Kau pikir aku bisa membaca pikiran? Yang kubisa hanya membaca gerak lawan,”
“Geure, kau sangat berbakat untuk itu,”
“Anak ini,” Pelatih Kim memukul kepalaku pelan.
Aku meringis. Kemudian keheningan menyelimuti kami.
“Pelatih, apa kami harus menang saat bertanding nanti?” tanyaku pelan. Mataku terus menatap nyala api unggun.
“Apa aku pernah menyuruh murid-muridku untuk menang?”
Geure, Pelatih Kim tidak pernah menyuruh kami untuk menang. Dia tidak pernah meminta kami untuk memenangkan pertandingan.
“Kau hanya perlu melakukan yang terbaik,” kata Pelatih Kim. Itulah yang selalu dikatakan Pelatih Kim. “Saat sebuah tim bekerja sama melakukan yang terbaik, bahu-membahu dan berjuang hingga akhir, kenapa mengharapkan kemenangan? Kalianlah pemenang itu, bukan angka-angka di papan skor. Kenapa kau tidak mengerti juga?”
“Tapi tidak semua orang memahami itu Pelatih, tidak semua orang berpikir bahwa yang perlu kita lakukan adalah melakukan yang terbaik, tidak semua orang Pelatih, tidak ayahku,” aku berbicara sedikit keras. Entah kenapa aku ingin berteriak.
Pelatih Kim diam, kini dia menatapku. Aku masih terus menatap api unggun sambil menahan tangisku. Air mata, kenapa selalu saja memaksa keluar dari mataku ini?
“Ara, aku masih sangat ingat kemarahan ayahmu padaku, dia memukulku sangat keras waktu itu, aku sampai jatuh, ayahmu benar-benar sangat kuat,”
“Appa memukul Pelatih?” ku tidak pernah tahu itu.
“Tidak hanya memukul, dia terus berteriak padaku selama kau dioperasi, dia mengancamku akan melaporkanku ke polisi, dan dia terus mengomeliku, aku harus berterimakasih pada ibumu karena membawanya pergi dari rumah sakit, aku tidak bisa melupakan kemarahan ayahmu saat itu, ayahmu benar-benar menakutkan,”
“Jjinjja?”
“Ne, sepertinya dia akan memakanku hidup-hidup,”
Aku tersenyum kecil.
“Apa dia akan marah kalau tahu aku bermain basket lagi?”
“Dia tidak akan marah,”
“Bagiamana kau yakin itu?”
“Tapi dia akan mengamuk seperti raksasa, hahahha”
“Mwo ya??? Kenapa bercanda terus?”
“Araso, araso, beritahu saja dia,”
“Kalau dia marah?”
“Apa dia akan memakanmu? Tidak kan? Sudahlah, bilang saja padanya, dia pasti akan marah, tapi dia juga akan mengerti, mungkin akan makan waktu, tapi itu lebih baik kan?” kata Pelatih Kim sambil menepuk pundakku.
“Begitu ya?”
“Apanya yang begitu ya? Tentu saja, makanya cobalah,”
Aku menghela napas. Mungkin benar apa yang dikatakan Pelatih Kim. Appa pasti akan marah, tapi aku bisa menjelaskan, aku akan mengatakannya, mungkin semua akan baik-baik saja.
“Ne, aku akan mengatakannya, besok saat kembali ke Seoul aku akan pulang dan mengatakan pada Appa, khamsahamnida Pelatih Kim,”
Pelatih Kim memukul kepalaku pelan.
“Kenapa suka sekali memukul kepalaku?” aku mengusap kepalaku pelan.
“Memangnya tidak boleh? Tidurlah, kita akan berkemas besok pagi”
Aku mengangguk dan pergi meninggalkan Pelatih Kim menuju tendaku. Kulihat Pelatih Kim masih menatap nyala api yang kian mengecil, terima kasih Pelatih Kim.
Keesokan harinya kami berkemas. Kami membongkar tenda, membersihkan sampah, dan mendengarkan penjelasan Pelatih Kim untuk yang terakhir. Kakiku sudah lumayan baik, aku sudah bisa berjalan dengan baik. Hebat sekali Dokter Ji Hoon. Kami naik bus dan meninggalkan tempat camp. Semua orang sepertinya sangat lelah, mereka tertidur selama 3 jam perjalanan ke sekolah. Aku hanya diam menatap ke luar jendela. Hye Ri tertidur lelap di sebelahku. Tapi pada akhirnya akupun tertidur.
Suara berisik orang-orang yang akan turun dari bus membangunkanku. Kulihat Hye Ri sedang membetulkan resleting jaketnya.
“Ya, ireona, kita sudah sampai,” kata Hye Ri.
“ah, iya..” aku bangun dan segera turun dari bus.
Kami saling bercanda saat berjalan menuju asrama. Tapi tiba-tiba langkahku terhenti saat kulihat seseorang berdiri tak jauh dari lapangan bola. Aku menahan napasku. Hye Ri menengok padaku,
“Ya, kenapa berhenti? Pallee..!!”
“Kau pergilah dulu, aku ada urusan,” aku berlari menghampiri sesorang itu. Kurasakan pandangan Pelatih Kim mengekorku.
“Appa,” aku terengah-engah saat kulihat appa di depanku.
Appa tidak menjawab. Dia hanya menatapku tajam.

to be continued...

Minggu, 13 Januari 2013

In My Dream (Part 5)

Diposting oleh Popo... The Kite Runner di 15.57 0 komentar

Mendengar kabar putusnya Hye Ri dan Kai membuat Sulli sangat marah.. Apa yang terjadi? here you are In My Dream part 5


Sulli tiba-tiba menjadi sangat marah. Dia berdiri dan menatapku tajam.
“Apa maksudmu kau memutuskan Kai? Kenapa kau tidak pernah menceritakan kepada ku? Haruskah semua menjadi seperti ini?”
Tiba-tiba Sulli berbalik meninggalkan aku dan Henry. Aku sangat terkejut kenapa Sulli menjadi begitu marah. Aku berusaha mengejarnya. Henry juga ikut mengejar. Tapi Sulli menyetop taksi dan langsung pergi. Aku berusaha mengejarnya, tapi Henry menghentikanku. Aku benar-benar merasa sangat tidak enak dengan Sulli.
“Aku merasa bersalah pada Sulli,”
Aku dan Henry duduk di halte bus. Aku harus menceritakan semuanya.
“Apa yang terjadi?” tanya Henry.
Aku diam untuk beberapa saat.
“Nado morregesoyo, semua terjadi begitu saja, aku tidak pernah mengharapkan ini semua terjadi, aku tidak berani menceritakan semua ini pada kalian, aku ingin menyelesaikan ini semua sendiri, tapi ternyata aku tidak bisa, aku menghancurkan semuanya,”
“Bagaimana semua bisa terjadi?”
“Awalnya, Kai tidak pernah menghubugi. Saat itu aku bertemu Kai, aku memberitahunya kalau aku masuk asrama. Dia tidak mengatakan apa-apa saat itu. Lalu setelah aku masuk sekolah, dia sama sekali tidak menghubungiku. Dia tidakada saat kita bertemu sebelum hari masuk sekolah. Lalu aku melihatnya di sebuah pusat perbelanjaan. Saat itu ada acra tanda tangan untuk fans oleh Lee Dong Hae, aku ikut mengantri untuk mendapatkan tanda tangan, dan saat itu aku melihat Kai bersama dengan seorang yeoja,”
“Kai dengan seorang yeoja? Kunde, geu yeoja nugu ya?”
Aku menggeleng pelan.
“Aku sempat bertanya padanya, tapi dia hanya menjawab itu teman di sekolah, dia tidak pernah menjelaskan apapun kepadaku, aku mengambil keputusan untuk berpisah karena aku tidak bisa lagi menahan tanda tanya dihatiku, aku ingin bertahan, tapi tidak dengan Kai, maka aku mengakhiri semuanya. Mianhae, aku tidak meminta saran kalian, aku hanya ingin menyelesaikan ini semua sendiri tanpa membuat masalah untuk kalian. Apa yang harus ku katakana pada Sulli? Dia pasti tidak mau mendengarkanku.”
Henry diam.  Aku juga terdiam. Pantas saja Sulli marah, dialah yang menjodohkan aku dengan Kai. Dia berusaha keras agar Kai dan aku bersama. Walaupun sebenrnya tanpa Sulli pun kami dulu memang sudah saling menyukai. Dia yang paling merasa senang saat aku memberitahu kalau kami bersama. Dia bahkan pernah bilang padaku akan menjadi pengiring pengantin wanita saat aku dan Kai menikah. Memang agak berlebihan, tapi aku melihat kesungguhan dalam perkataannya. Aku mendesah panjang. Henry menepuk-nepuk pundakku pelan. Kami berdua hanya diam di sisa hari itu.
Henry mengantarku hingga halte bus.
“geokjeongmara, soal Sulli, aku akan bicara padanya, aku mengerti, akhir-akhir ini Kai memang berubah, saat aku bertemu dengannya minggu lalu, di tidak menyapaku, entah apa yang terjadi padanya,”
“Ne,” jawabku tidak bersemangat.
“Kau harus semangat, araji?” dia menepuk pundaku. Dia suka sekali menepuk pundakku.
Aku terdiam, bis ku sudah terlihat di kejauhan.
“Kau tau Henry-aa, kadang aku menyesal aku harus masuk sekolah asrama, aku selalu berharap, aku tidak pernah masuk sekolah asrama,” kataku pelan.
Henry diam dan menatapku. Aku hanya tersenyum kecil. Bus berhenti tepat di depanku. Henry memelukku dan menyemangatiku. Aku naik bus dan meninggalkan Henry.
****************************************************************
Aku berjalan lesu di sepanjang koridor kelas. Sulli tidak mengangkat teleponku. Henry memberitahuku, kalau Sulli tidak mau diajak bicara. Ohteokke? Aku membawa setumpuk buku dari kantor guru, Pak Guru Angker itu menyruhku untuk mebawa semua buku itu ke kelas. Aku melewati sebuah kelas yang kosong karena pelajaran olahraga. Tiba-tiba terdengar suara meja dipukul. Aku terkaget.
“Shirheo! Sudah kubilang aku tidak mau,”
Itu Dong Hae. Aku berhenti untuk mengintip dari celah kaca di pintu. Dia bersama seorang ahjumma, siapa ahjumma itu? Ah aku pernah melihatnya di televisi, dia Manajer Hong, dia manajer Dong Hae.
“Tapi ini kontrak penting, aku sudah seharian ini berbohong, aku sudah tidak punya alasan lagi, paling tidak hadirilah acara besok malam,” suara Manajer Hong terdengar putus asa.
“Ya, Manajer Hong-ssi, kau tahu alasannya kan? Kau tahu kan kalau aku tidak bisa bernyanyi lagi? Aku bisa benar-benar kehilangan suaraku kalau aku memaksakan diriku bernyanyi,”
Aku tercekat. Dong Hae tidak bisa bernyanyi.
“Ara, ara, neomu ara. Aku sangat paham itu, tapi ini demi kepentingan bersama. Temui produser itu, aku akan memikirkan penyembuhan terbaik untuk tenggorokanmu, kita tidak bisa menolak begitu saja,” Manajer Hong terdengar memohon.
“Aku tidak tahu, aku hanya tidak ingin kehilangan suaraku, aku sengaja memilih sekolah ini dan menemukan dunia baruku, jangan paksa aku Manajaer,”
“Aku pun tidak ingin melakukan ini padamu, Dong Hae-aa, aku akan memikirkan sesuatu, kau tak usah memikirkan ini,”
Tiba-tiba buku yang kupegang jatuh. Suaranya cukup membuat mereka kaget. Aku juga sangat kaget. Buru-buru kuambil buku itu dan berlari. Aku bersembunyi di balik tembok. Kulihat Dong Hae membuka pintu dan melihat sekeliling. Aku bernafas lega dan buru-buru kembali ke kelas.
Sepanjang pelajaran, aku memikirkan pembicaraan Dong Hae dan manajer Hong. Kenapa aku tidak pernah tahu kalo Dong Hae berhenti menyanyi? Tidak pernah ada berita seperti itu. Kulihat dia masih bernyanyi di beberapa acara. Kabarnya dia juga akan mengeluarkan album baru. Apa yang terjadi? Sakit apa dia sebenarnya? Kenapa dia bisa saja kehilagan suaranya?
Sore itu kami berlatih basket. Ada pertandingan 1 bulan lagi. Ada pesta olahraga tahunan antar sekolah. Dan tahun ini pesta olahraga diadakan sekolah ini. Kami akan mengadakan berbagai macam pertandingan dari hampir semua cabang olahraga. Kami mengundang berbagai orang dan orang luar boleh datang berkunjung. Akan ada banyak stand makanan dan berbagai stand lainnya.
“Menurut cerita acara ini sangat meriah. Mereka juga akan mengundang orang tua untuk menghadiri pertandingan final.” Jelas Hye Ri padaku.
 Jamkkanmanyo. Orang tua? Mereka akan mengundang orang tua? Itu artinya orang tuaku juga?
“Apakah orang tua harus datang?”
“Tentu, sekolah akan memberikan undangan untuk orang tua kita, bukankah itu menyenangkan? Orang tua kita akan melihat kita bertanding basket?”
Aku diam.
“Latihan hari ini sangat menyenangkan, Pelatih Kim benar-benar daebak,” Hyuk Jae bergabung dengan kami.
“Ne, dia melatih kita dengan baik,”
“Mwo? Apanya yang baik? Pelatihan ini seperti neraka, bahkan tulang-tulangku seperti lepas dari tubuhku mendengar teriakannya,” aku sangat tahu karakter Pelatih Kim yang sangat menyebalkan itu.
“Tapi Pelatih Kim benar-benar hebat,”
Sebenarnya aku sangat setuju dengan mereka. Pelatih Kim pelatih terbaik yang pernah ada. Gayanya saja yang sangat menyebalkan.
“Hari ini Dong Hae tidak berlatih, tidak biasanya dia bolos latihan,” kata Hyuk Jae.
“Dong Hae tidak latihan?”
“Waeyo?”
“Apa aku harus tahu?”
“Sepertinya kau tidak suka padanya?” tanya Hye Ri.
“Aku bukannya tidak menyukainya, aku hanya tidak suka dengan sikapnya yang angkuh itu, apa susahnya sih menyapa orang? Tidak heran kalau dia tidak bisa punya teman,”
“Apakah Dong Hae orang yang seperti itu?” tanyaku.
“Aku mengenalnya sejak SMP, dia memang jarang bisa bergaul, apalagi semenjak dia jadi artist, sepertinya dia membentengi dirinya dengan tembok yang sangat tebal agar tak ada yang mendekatinya,”
“Jjinjja?? Sepertinya dia sangat menyenangkan kalau melihatnya di televisi,” kata Hye Ri heran.
“Dia sangat pandai mengantur perasaannya, dia sangat pandai bersandiwara, saat di depan banyak orang memang harus seperti itu kan? Tapi di luar itu? Apa pernah kau lihat Dong Hae mengobrol dengan seseorang?”
Benar, aku tidak pernah melihatnya berbicara dengan orang lain. Apa dia hanya bicara padaku. Entah kenapa aku begitu ingin tahu.
“Ah, aku tidak sabar menunggu hari pertandingan, kita akan bertemu dengan banyak siswa dari sekolah lain,”
Aku teringat kembali dengan undangan orang tua. Benarkah ada yang seperti itu? Apa yang harus kukatakan pada appa dan eomma? Apa aku minta di bangku cadangan saja? Andwe, Pelatih Kim tidak akan mengijinkanku hanya duduk di bangku cadangan. Apa aku katakana saja sejujurnya? Aku akan pulang besok dan memberitahu mereka.
Kami melanjutkan latihan kami hingga satu jam kemudian. Aku kembali ke asrama sendiri karena Hye Ri harus mengerjakan PR nya di perpustkaan. Aku melintasi lapangan sepakbola. Rumput lapangan ini sangat empuk. Aku suka melewati lapangan ini. tim sepakbola mengadakan camp latihan sehingga lapangan tidak digunakan malam itu. Aku sengaja berjalan pelan menyusuri lapangan bola yang besar. Aku bahkan duduk-duduk di tengah lapangan. Udara musim gugur saat malam dingin. Menyegarkan. Tiba-tiba poselku bordering,
“yoboseyo?”
“Ji Hyun-aaa,” suara eonnie lebih terdengar sebagai lengkingan.
“Ye eonnie, apa kau perlu berteriak seperti itu?”
“Bogoshipo, apa kau sama sekali tidak merindukanku?”
“Ani, wek!”
“Kau ini! dasar bocah tengik, apa yang kau lakukan malam-malam begini di lapangan sepak bola?”
“Mwo?” aku kaget, bagaimana dia tahu aku di lapangan sepak bola?
“Kau kaget kan?”
“Ya, bagaimana kau bisa tahu?”
Tidak ada suara dari seberang.
“Ya eonni!!”
“Karena aku juga dilapangan yang sama denganmu,”
Dan kulihat eonnie sudah ada di sampingku. Aku terbelalak melihatnya.
“Kau senang melihatku?”
“Eonni!!!” aku berhambur memeluk eonni.
Kami berpelukan untuk beberapa saat. Aku senang bisa melihat eonnie.
“Bagaimana kau bisa masuk?”
“Aku juga murid SMA, aku bisa masuk kan?”
“Ara, kau selalu bisa melakukan apapun, apa kau sengaja mengunjungiku?”
Eonnie tidak menjawab malah duduk di lantai rumput lapangan.
“Dangyeonhaji, apa lagi yang bisa kulakukan disini kalo tidak mengunjungimu?”
Aku tersenyum lebar.
“Ya, eonnie, apa kau bawa kue enak untukku?”
“Ya musun soriya? Aku tidak membawa apapun, apa kedatanganku tidak cukup membuatmu kenyang?”
“Ya, apa mungkin aku memakanmu?”
“Aku sangat kesepian di rumah, kau tidak pernah pulang, kau betah sekali di sini,”
“Aku berencana besok akan pulang,”
“Apa aku boleh menginap?”
“Andwe! Aku akan kena hukuman karena memasukkan orang secara illegal ke kamarku, anhya anhya anhya!”
“Anggap saja aku siswa sekolah ini, lalu besok uri gachi ga, ne?”
“itu tidak mungkin eonnie, peraturan sekolahku sangat ketat, ada inspeksi tiap jam 10.30 malam, aku tidak bisa membiarkanmu menginap,”
“Kenapa kau serius sekali? Lagipula ayah akan memotongku kecil-kecil kalau aku tidak pulang,”
“Ah, mwo ya??? Kau selalu membuatku panic,”
Eonnie tertawa. Lalu memandangku sejenak.
“Ya, Ji Hyun-aa, apa yang kau pakai? Apa itu seragam bas..ket? ka.. kau?”
Aku tidak bisa mengelak lagi. Aku mengangguk pelan.
“Ne eonnie, aku bermain basket lagi,” kataku sepelan mungkin, hampir tak terdengar.
Eonnie terlihat sangat terkejut tapi tidak mengatakan apapun.
“Kau tahu apa yang akan dilakukan appa saat tahu kau bermain basket lagi?” tanya eonnie. jelas aku tak bisa menjawab pertanyaan itu. Membayangkan apa yang akan dilakukan appa saja aku tidak bisa.
“Dia akan sangat marah, dan kau tahu kalau appa marah?”
Aku lebih baik tidak membayangkan bagaimana appa marah. Itu lebih dari di neraka. Aku diam saja.
“Apa kau benar-beanr memikirkan tentang ini? apa kau benar-benar berani mengambil resikonya?”
“Eonnie, aku sudah mengambil keputusan, aku tidak mau hidup tanpa melakukan apa-apa seperti orang bodoh. Aku hanya bisa bermain basket, itu hidupku eonnie,”
“Lalu, bagaimana kalau itu terjadi lagi?”
“Eonnie, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, aku hanya ingin membuat hidupku lebih memiliki arti, aku mungkin akan terluka, tapi semua itu setimpal dengan apa yang ku perjuangkan,”
“Appa tidak akan mengampunimu kalau sesuatu yang buruk terjadi padamu, apa yang akan kau lakukan kalau sudah begitu?”
“Aku tidak akan apa-apa, aku akan membuktikan pada appa kalau aku akan baik-baik saja,”
“Kau tidak usah membuktikan apapun, pikirkan saja bagaimana kau mengatakan ini pada appa, aku berani membayar mahal untuk melihatmu mengatakan itu pada appa,”
Eonnie benar, akan sangat sulit untuk membuat appa mengerti tentang pilihanku kembali pada basket.
“Ya eonnie, bantu aku, bantu aku mengatakan ini pada appa,” aku mulai merayu.
“Shirheo! Aku setuju kau bermain basket lagi bukan berarti aku membantumu mengatakan ini pada appa, tidak akan!”
Aku terbelalak mendengar perkataan eonnie.
“Geuraenika, kau setuju aku bermain basket lagi? Kau tidak marah?”
“Tentu saja aku marah, aku sangat marah, jadi kau harus meredakan kemarahanku dengan menjadi pemain basket professional,”
“Kyaa!! Eonnie, gumapta! Jeongmal gumapta!,”
Aku memeluk eonie erat. Aku senang eonnie ternyata mendukungku.
“Tapi kau jangan berdarah lagi ya? Kau harus sangat hati-hati, kau harus terus menjaga kondisimu, araji?”
“Araseo!”
“Paegopayo?”
“Ne, jeonmal paegopayo,”
Eonnie mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
“Tada… Aku membuatkanmu sandwich kesukaanmu,”
“Uwa, jjinjja? Kau bilang kau tidak bawa apa-apa? Kau yang membuatnya?”
“Dibantu eomma sih, tapi tetap saja aku membuatnya, manhi mo’ko, yugiyo,” eonnie memberiku sebuah sandwich dan aku langsung memakannya.
“Uwa, masitta!!”
“Aku senang kau menyukainya, makanlah yang banyak,”
“Eonnie, gumapta, jeongmal gumapta, aku merasa sedikit lega sekarang, ternyata aku tidak sendirian,”
“Kau ini, pikirkan bagaimana menghadapi appa, aku tidak mau ikut campur ya,”
“Eonnie, dowajuseyo, aku tidak akan bisa menghadapi appa,”
“Shirheo! Itu urusanmu, aku tidak mau terkena apapun dalam masalah ini, araji? Jangan memaksaku lagi!”
Kalau sudah begini aku tidak akan bisa memaksa eonnie.
“Kau harus berani menghadapi appa, itu impianmu, perjuangkan!”
Aku hanya mengangguk kecil.
“Ah, benarkah kau satu sekolah dengan Lee Dong Hae? Di berita ditulis kalau dia ke luar negeri, padahal dia sekolah di sini, apa itu benar?”
“Jjinjja?”
“Ya, kau kan fan nomor satu, kenapa hal seperti itu tidak tahu? Saat ini dia sedang dalam masalah besar, dia dikabarkan tidak akan bernyanyi lagi, kontraknya dengan perusahan label internasional terancam akan dibatalkan, benar-benar mengerikan,”
“Apa berita itu benar eonnie?”
“Geurom!! Semua televisi sedang membicarakannya, karirnya terancam kandas, kasihan dia,”
Naneun jeongmal morugessoyo. Apa yang sebenarnya terjadi? Selama ini aku dekat dengannya, tapi aku tidak mengerti apa-apa tentang dirinya. Tapi kami juga tidak dekat. Dia hanya selalu datang dan pergi sesuka hatinya. Kenapa aku harus mengetahui tentang dirinya?
“Kenapa kau diam saja?”
“Ah ani,”
“Apa kau besok benar-benar pulang?”
“Mungkin saja, karena kau sudah kesini, mungkin aku bisa mengundur kepulanganku,”
“Mwo ya??? Pulanglah, apa kau tidak rindu appa dan eomma?”
“Aku sangat merindukan mereka, tapi aku… aku bingung eonnie, entahlah, aku tidak tahu,”
“Ya, kenapa kau tiba-tiba seperti ini? apa disini terlalu menyenangkan sampai kau tidak ingin pulang? Bukankah kau dulu merengek tidak ingin masuk sekolah asrama?”
“Ani, bukan begitu eonnie, aku hanya banyak kegiatan saja, aku akan meneleponmu besok,”
“Untuk apa menelepon? Teleponlah appa dan eomma, mereka terus menanyakanmu, jangan buat mereka khawatir, araji?”
“Araseo, aku akan menelepon mereka nanti,”
Eonnie mengangguk.
“Ah, kau dan Kai bagaimana? Kau tidak menyebutkan soal dia dari tad?”
Aku diam.
“Sulli marah padaku karena aku putus dengannya,”
“Mwo???? Wae??? Kalian terlihat akan menikah di masa depan,”
“Akupun berpikir seperti itu, tapi aku memutuskan Kai secara sepihak, aku juga tidak tahu apa yang terjadi, tapi Kai menjaga jarak denganku. Aku pernah melihatnya dengan seorang yeoja, saat kutanya, dia tidak menjelaskan apapun, aku tidak mau mengganggunya lagi, geurigo, aku memutuskan untuk mengakhirinya,”
Eonnie ternganga menatapku.
“Mianhae, aku tidak menceritakan semua ini padamu,”
“Kau benar-benar membuat banyak kejutan,” eonnie menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Aku tidak tahu lagi harus bagaimana,”
“Araseo, kau yang tahu apa yang terbaik untukmu,”
Aku mengangguk pelan. Aku menempelkan kepalaku di pundak eonnie. aku merindukan saat-saat seperti ini. Ah, kenapa banyak hal berubah?
“Aku harus pulang, aku bisa ketinggalan bus,”
“Geure, aku akan mengantarmu sampai halte bus,”
Kami berdua berdiri dan berjalan kea rah gerbang sekolah. Tiba-tiba eonnie menggandeng tanganku. Dia tersenyum lebar menatapku. Aku balas tersenyum. Sampai di halte bus, kami masih harus menunggu bus.
“Eonnie, gumowo, kau sudah mengunjungiku, johayo,”
“Itu karena kau tidak pernah pulang, aku rindu ingin memukul kepalamu,” dan dia langsung memukul kepalaku.
“AAhh… Ya, appayo!!”
Dia tersenyum lagi. Aku juga ikut tersenyum. Akhirnya bus datang.
“Pulanglah, jenguk appa dan eomma, jaga kesehatanmu, jalliseo,”
“Ne, sampaikan salamku untuk appa dan eomma,”
“Annyeong,” eonnie melambaikan tangan dan naik ke dalam bus.
“Annyeong,” aku balas melambaikan tangan padanya.
Bus bergerak pelan meninggalkanku. Aku berjalan perlahan kembali ke asramaku. Aku masih membawa sandwich dari eonnie di tanganku. Aku terus memikirkan perkataan eonnie tentang bagaimana mengahadapi appaku. Aku menarik napas panjang dan cepat-cepat kembali ke kamarku.
******************************************************************
Aku dan Hye Ri berlatih basket berdua hari itu. Aku mengurungkan niatku untuk pulang. Aku belum sanggup melihat appa. Aku bingung memikirkan cara untuk mengatakan semua ini pada appa, karena terlalu banyak melamun aku terpelset dan kakiku sedikit terkilir.
“Ah Ji Hyun-aa, gwaenchana?”
Hye Ri berlari menghampiriku. Aku meringis kesakitan. Tidak terlalu parah sepertinya, tapi cukup sakit.
“Ah, gwaenchana, sepertinya terkilir sedikit, aku akan ke klinik dan meminta obat pada dokter,”
“Ne, kau bisa pergi sendiri? Apa perlu kutemani?”
“Ah, tidak perlu, aku bisa pergi sendiri, kau lanjutkan latihanmu,”
Aku berdiri dibantu oleh Hye Ri. Aku berjalan sedikit pincang ke klinik. Aku mengetuk pintu klinik, tak ada jawaban. Aku membuka pintu dan masuk ke dalam klinik. Aku mencari obat penyemprot. Aku menemukannya dan akan keluar saat ku dengar suara langkah kaki. Aku celingukan mencari tempat sembunyi, akhirnya aku bersembunyi di balik tirai. Pintu di buka dan dua orag masuk. Mereka tidak berbicara untuk beberapa saat.
“Kau harus segera dioperasi,” itu suara Dokter Ji Hoon.
Operasi? Siapa yang harus dioperasi?
“Apa itu jalan satu-satunya?”
Itu Dong Hae. Kenapa harus dioperasi dia sakit apa?
“Kau akan kehilangan suaramu selamanya kalau kau tidak dioperasi, tenggorokanmu itu sudah sangat mengkhawatirkan, kau tidak akan bisa bernyanyi lagi” jelas Dokter Ji Hoon.
“Aku memang tidak berencana untuk bernyanyi lagi,”
Aku sangat terkejut mendengar hal itu.
“Kau harus memikirkan masa depanmu, kalaupun kau tidak ingin bernyanyi lagi, apa kau juga ingin kehilangan suaramu selamanya? Kau jangan pikirkan dirimu sendiri, kau harus memikirkan orang lain juga, Manajer Hong sangat khawatir padamu, pikirkan ini baik-baik,”
“Apa suaraku akan benar-benar kembali dengan operasi?”
“Kalaupun suara emasmu tidak kembali, kau tidak akan bisu seumur hidupmu, sekarang katakan padaku, apa itu sakit?”
Dong Hae tidak menjawab.
“Marhaebwayo, itu sangat sakit kan? Lebih baik kau katakan yang sebenarnya padaku, dengan begitu aku bisa menolongmu,”
“Ya,” jawab Dong Hae pelan.
“Ini spekulasiku, semakin berusaha kau menahan sakit di tenggorokanmu, dan membiarkan sakitnya menggerogotimu, maka organ suaramu akan semakin rusak, dengan operasi kita bisa mengangkat benjolan itu dan menyelamatkan pita suaramu, kasusmu ini sangat khusus, tapi dengan penanganan yang cepat, kemungkinan untuk sembuh akan semakin besar, pikirkanlah baik-baik,”
Tak ada jawaban dari Dong Hae.
“Jangan terlalu kecewa, operasi akan menyelamatkan suaramu,”
“Aku tidak kecewa karena aku tidak pernah berharap banyak,”
Terdengar suara kursi, Dong Hae berdiri.
“Terimakasih atas masalah yang kau buat, aku pergi,”
Dong Hae meninggalkan klinik. Dokter Ji Hoon tidak mengatakan apa-apa. Aku masih berdiri di balik tirai sambil memikirkan pembincaraan yang baru saja kudengar,
“Sampai kapan kau akan di situ?”
Aku terkejut. Jadi Dokter Ji Hoon tahu kalau aku dari tadi di sini. Aku keluar pelan-pelan dari persembunyianku. Dokter tampan itu menatapku penuh selidik.
“Aku mencari obat, kakiku tadi terkilir,” aku berkata seadanya sambil menunjukkan obat semprot yang ku pegang. Dokter Ji Hoon tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya melanjutkan menulis sesuatu di meja kerjanya. Pelan-pelan aku duduk di kursi di hadapannya.
“Apa benar Dong Hae tidak bisa menyanyi lagi?”
Dokter Ji Hoon mengakat kepalanya dan menatapku penuh selidik. Apa tatapannya selalu seperti itu?
“Tentu saja kau dengar semuanya, itu terserah pada Dong Hae, dia bisa saja tidak menyanyi lagi, bisa saja dia kembali bernnyanyi, aku tidak bisa menentukan, tergantung dia mau dioperasi atau tidak,” jelas Dokter Ji Hoon santai. Bagaimana dia bisa sangat santai seperti itu?
“Apakah sangat parah?”
“Seorang penyanyi terancam tidak bisa bernyanyi lagi, apa ada yang bisa lebih parah lagi?”
Aku terdiam. Separah itukah?
“Apa kau sangat peduli pada Dong Hae?”
“Geurom! Aku adalah fan nomor satu Lee Dong Hae, aku sangat peduli padanya,”
Dokter Ji Hoon hanya tersenyum mendengar jawabanku.
“Aku dengar kau bergabung dengan tim basket?”
“Ne,”
“Berusahalah, tim basket sekolah kita adalah yang terbaik, pertahankan itu, “
Aku tidak menyangka Dokter ji Hoon peduli pada tim basket.

“Aigesemnida, khamsahamnida, aku akan pergi sekarang,”
“Ne,”
Aku beranjak dari kursi dan pergi meninggalkan klinik. Aku terus memikirkan pembicaraan yang kudengar tadi. Bagaimana bisa Dong Hae meninggalkan impiannya. Aku ingat di suatu interview kalau dia ingin menghabiskan hidupnya dengan bernyanyi. Kenapa dia menyerah begitu saja? Aku sampai di depan pintu gedung sekolah saat ku lihat Pak Satpam mendorong trolley berisi banyak sekali hadiah.
“Permisi, ahjussi, mau dibawa kemana semua ini?”
“Ah, beginilah kalau ada artis yang masuk sekolah ini, semua ini tentu saja untuk Lee Dong Hae, aigoo, dia seharusnya memberiku banyak uang untuk ini, aku selalu merasa punggungku mau patah saat naik tangga,”
“Jadi ini semua untuk Dong Hae?” aku tebelalak menatap semua hadiah-hadiah itu.
“Ah, aku tidak mengerti kenapa anak perempuan suka sekali hal-hal seperti ini? Apa Dong Hae punya waktu untuk membuka semua hadiah-hadiah ini?”
Pak Satpam itu terus saja menggerutu dan meninggalkanku. Banyak sekali hadiah untuknya. Dia benar-benar sangat terkenal. Aku berjalan ke arah gedung olahraga untuk menemui Hye Ri. Saat berjalan, di kejauhan aku melihat Dong Hae sedang berbicara dengan Manajer Hong. Aku jadi memikirkan ini. Bagaimana kalau Dong Hae benar-benar tidak bisa bernyanyi lagi?

to be continued...
 

Popo.. The Kite Runner Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea